
POV Larasati.
Sebenarnya aku merasa enggan untuk memberikan izin kepada Kinara untuk menjalankan hobinya tersebut, karena walau bagaimanapun juga hobinya itu sangat membahayakan dirinya.
Namun, ada benarnya juga dengan apa yang diucapkan oleh mas Jonathan. Akan lebih baik mengizinkan Kinara melakukan hobinya secara legal.
Karena yang aku rasa, sangat percuma melarang Kinara. Karena pada kenyataannya, dia terus saja melakukan hobinya di belakangku.
Anak itu selalu saja banyak alasannya, mau kerja kelompoklah, ekskul di sekolahlah, Atau apa pun itu.
Namun, pada kenyataannya anak itu terus saja melakukan hobinya. Aku bukannya tidak tahu, aku malahan sangat tahu.
Satria juga selalu memantau kegiatan adik kesayangannya itu, l tanpa Satria tahu, aku pun selalu memantau kegiatan putriku tersebut.
Aku menempatkan beberapa bodyguard tak jauh dari Kinara, selain bertugas untuk mengawasi kegiatan Kinara, aku juga menugaskan bodyguard tersebut untuk memberikan keamanan dan kenyamanan saat dia berada di luar.
"Yang!"
Terdengar suara mas Jonathan memanggil namaku, dia bahkan merangkul kedua pundakku dan membawa diriku ke dalam pelukannya.
Aku seakan tertarik ke dalam dunia nyata, aku berusaha untuk tersenyum lalu ku balas pelukan suami tercintaku itu.
"Kenapa melamun?" tanya Mas Jonathan.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya sedang berpikir saja," jawabku jujur.
Mas Jonathan tersenyum, lalu dia membelai pipiku dengan lembut. Dia bahkan menatap wajahku dengan penuh cinta.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu mengizinkan putri kita untuk menekuni hobinya?" tanya Mas Jonathan.
''Heh!"
Ku hembuskan napas beratku, rasanya sangat berat sekali untuk mengatakan Iya. Namun, hanya kata itu yang harus aku keluarkan dari mulutku.
Karena walau bagaimanapun juga, sepertinya itu adalah keputusan yang paling baik untuk Kinara.
Karena pada kenyataannya, walau sekeras apa pun aku menolak keinginan Kinara. Tetap saja dia akan melakukan hobinya.
"Boleh, Mas," jawab ku pada akhirnya.
Mendengar apa yang aku katakan, mas Jonathan terlihat terkekeh. Kemudian, dia mengacak pelan rambutku, lalu dia mengecup keningku dengan lembut.
"Jangan cemberut, nanti kamu tidak cantik lagi." Mas Jonathan terihat menunduk, lalu dia menautkan bibirnya dengan bibirku.
Aku tahu dia sedang berusaha untuk menghibur hatiku yang sedang gamang ini, tanpa ragu aku langsung membalas tautan bibirnya.
__ADS_1
Bahkan, ku usap dadanya dengan lembut hingga merambat keceruk lehernya. Mas Jonathan terlihat menggeliatkan tubuhnya, bahkan dia langsung mengangkat tubuhku dan menggendongku seperti anak koala.
"Kita teruskan di kamar saja, Mas udah nggak tahan soalnya," kata Mas Jonathan.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, aku sangat tahu jika dirinya memang sudah sangat menginginkan diriku. Hanya saja, sedari tadi aku selalu menundanya.
Seperti biasanya, mas Jonathan akan segera melucuti pakaiannya. Dia juga bahkan segera melusuri pakaian yang aku pakai dengan sangat tidak sabar.
Namun, dia akan melakukan penyatuannya dengan sangat lembut. Dia seolah tidak ingin menyakitiku, padahal jika dia bermain kasar pun aku akan menikmatinya.
Karena apa pun yang dia lakukan, entah kenapa terasa sangat nikmat. Bahkan saat malakukan berbagai gaya pun, aku menyukainya.
"Sekarang, ya, Sayang." Mas Jonatan meminta dengan tatapan memelas.
Aku merasa kasihan kepadanya, lagi pula selain itu aku pun merasa menginginkannya. Aku langsung menganggukan kepalaku.
Mas Jonathan tersenyum, dia mengecup keningku. Dia mengecup hidungku, lalu menautkan bibirnya ke bibirku.
Tidak lama kemudian, aku merasa area intiku begitu sesak dan penuh. Milik mas Jonathan memang selalu bisa membuat aku puas, bahkan saat pertama dia mulai menggerakkan pinggulnya.
***
POV Author.
Pagi telah menjelang, matahari sudah mulai menyembul dari ufuk timur. Dia seolah tidak sabar untuk memamerkan cahayanya.
Karena selepas shalat subuh mereka kembali tertidur, berbeda dengan Ridwan. Lelaki yang kini berusia tiga puluh enam tahun itu terlihat begitu asik mengajak ketiga buah hatinya untuk berolahraga di taman.
Sang istri, bu Airin terlihat menemani Ridwan dan juga ketiga buah hatinya dengan begitu ceria.
Dia bahkan sengaja membawa banyak bekal makanan ringan dan juga minuman khusus untuk mereka makan ketika beristirahat nanti.
Wanita yang kini berusia empat puluh delapan tahun itu terlihat masih cantik, karena dia selalu rajin melakukan perawatan dan berolah raga.
Dia merasa takut jika suaminya akan berpaling jika dia tidak menjaga penampilannya.
Apalagi kini Ridwan terlihat semakin gagah dan juga tampan, Ridwan yang dulu dia anggap berondong, kini telah menjadi pria matang yang begitu menarik perhatian banyak perempuan.
Terkadang bu Airin merasa takut jika Ridwan akan berpaling darinya, namun Ridwan selalu meyakinkan bahwa dia hanya mencintai bu Airin saja.
Bahkan, Ridwan juga selalu berkata jika bu Airin adalah wanita yang paling spesial. Karena dia sudah memberikan tiga buah hati untuk dirinya.
"Yang!"
Ridwan terlihat menghampiri bu Airin, dia duduk tepat di samping istrinya. Dia peluk istrinya tersebut dan dia sandarkan kepalanya di pundak istrinya.
__ADS_1
Tidak ada rasa malu, tidak ada rasa canggung atau apa pun, walaupun banyak orang yang melihat ke arah mereka, namun Ridwan tak peduli. Karena, inilah cara Ridwan menunjukkan rasa cintanya kepada istrinya tersebut.
"Mas, malu," kata bu Airin.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bu Airin Ridwan terlihat terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
Mereka adalahpoasangan suami istri, pikirnya. Kenapa harus malu?
Di luar sana banyak anak remaja yang berpacaran melebihi tingkah mereka, bahkan anak SD saja sudah berpacaran sambil pelukan dan ciuman, pikirnya.
Lalu, kenapa mereka harus malu? Padahal, mereka adalah pasangan yang halal.
"Nggak usah malu, Sayang. Kamu, kan, istriku," kata Ridwan seraya mencuil dagu istrinya.
"Kamu itu selalu saja nakal," kata Bu Airin seraya tersenyum senang.
Karena walau bagaimanapun juga, dia selalu merasa senang dengan perlakuan dari suami berondongnya itu.
Tidak lama kemudian, dua anak tampan dan satu anak berjenis kelamin perempuan terlihat menghampiri mereka.
"Ayah curang! Ngajakin lomba lari tapi malah asik berduaan sama Bunda," kata Raja putra pertama Ridwan.
"Iya bener, bilangnya ngajakin lomba. Tapi Ayah, malah nyari-nyari kesempatan buat berduaan sama Bunda," kata Rachel putri kedua Ridwan.
"Ayah ngga boleh kaya gini, aku iri."
Rama putra ketiga Ridwan langsung menghampiri Ridwan, dia duduk di atas pangkuan Ridwan lalu memeluk ayahnya tersebut.
Ridwan terkekeh saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari putra bungsunya, jika kedua kakaknya selalu marah-marah tidak jelas.
Berbeda dengan adiknya tersebut, dia terlihat kesal. Namun, Rama selalu saja bersikap manja terhadap dirinya dan juga istrinya, bu Airin.
"Kalian pasti cape, duduklah. Bunda sudah siapkan makanan untuk kalian," kata Bu Airin kepada Raja dan juga Rachel.
"Ya, Bunda."
Kedua buah hatinya tersebut langsung menghampiri bu Airin, mereka langsung mengambil makanan kesukaan yang sudah disiapkan oleh bundanya tersebut.
Bu Airin merasa sangat senang jika sedang bersama seperti ini, terkadang dia bertanya-tanya dalam hatinya.
Apakah dia bisa melihat ketiga buah hatinya tumbuh sampai dewasa dan menikah nanti? Atau mungkin dia akan dipanggil sebelum menyaksikan kebahagiaan ketiga buah hatinya tersebut?
"Jangan melamun," kata Ridwan seraya mengusap lengan istrinya.
***
__ADS_1
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak yes!!