Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Cemas


__ADS_3

Semuanya terasa gelap, ke arah mana mata memandang tetap saja hanya ada bayangan gelap yang mencekam.


Larasati berusaha untuk berjalan dengan tertatih karena kakinya terasa sangat lemas, dia terus mencari jalan agar bisa menemukan titik terang.


Tak lama kemudian, samar-samar dia mendengar suara tangisan Satria. Tangisan pilu menyayat hati, tangisan balita tampan itu terasa menggetarkan hati.


Larasati berusaha untuk mencari asal suara tangisan balita tampan yang dia lahirkan itu, dia ingin segera memeluk dan mengecup keningnya.


Sayangnya hanya gelap yang dia lihat, kakinya seakan sulit sekali untuk melangkah. Bahkan untuk meneriakkan nama Satria saja seakan susah.


"Sayang! Bangun!" suara lembut namun terdengar parau terdengar di indera pendengarnya.


"Buna!" Jawab aku, Buna. Kenapa Buna diem aja, Buna tega syama aku." Suara panggilan Satria di sela isak tangisnya membuat Larasati bertambah sedih.


"Putriku, bangunlah!"


"Sayangnya Mommy, please bangun!"


"Mbak!"


"Neng Laras!"


Banyak sekali suara yang tertangkap oleh telinganya, namun dia seakan tak sanggup untuk melihat dalam kegelapan.


Hal itu membuat Larasati bertambah sedih, dia berusaha untuk berlari dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya dia menemukan setitik cahaya, senyum langsung tersungging di bibir Larasati.


Dia berusaha untuk menerobos kegelapan demi menggapai sebuah titik terang itu, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan orang-orang terkasihnya.


Dia berlari dan terus berlari, dia sudah tidak sabar untuk sampai pada titik terang itu.


"Hah, hah, hah!"


Napas Larasati terlihat tersenggal, bulir keringat terlihat mengembun di dahinya. Raut wajahnya terlihat begitu cemas.


Tangan kanannya terlihat menggenggam erat tangan suami tercintanya, sedangkan tangan kirinya juga terlihat menggenggam erat tangan nyonya Meera.


"Alhamdulillah...."


Semua orang yang ada di ruangan serba putih tersebut terlihat mengucap syukur kepada Sang pencipta, karena akhirnya setelah pingsan selama lima jam Larasati kini tersadar juga.


Mendengar kata syukur dari bibir semua orang yang ada di ruangan tersebut, membuat Larasati terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali.


Lalu, dia mengedarkan pandangannya, ternyata dia ada di sebuah ruangan serba putih. Di sana ada Jonathan, suami tercintanya yang sedang memangku putranya, Satria.


Ada juga tuan Elias dan nyonya Meera yang terlihat sedang menangis bahagia, tak jauh darinya ada Angga dan bi Narti yang terlihat tersenyum, tapi air matanya terus saja mengalir.

__ADS_1


Tak lama kemudian, tuan Keanu dan Mini pun datang dengan senyum hangat di bibirnya.


"Kalian kenapa? Terus, aku ada di mana?" tanya Larasati.


Melihat raut kebingungan di wajah istrinya, Jonathan langsung duduk tepat di samping Larasati. Kemudian dia membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


Satria juga tidak mau kalah, dia langsung memeluk bundanya yang sedari tadi membuat dirinya khawatir.


"Kamu di Rumah Sakit, Sayang. Kamu tahu, kamu hampir membuat aku gila karena pingsan selama lima jam." Jonathan mengurai pelukannya, lalu dia mengecup bibir istrinya.


Larasati terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jonathan, bisa-bisanya dia pingsan sampai 5 jam lamanya, pikirnya.


"Lima jam?" tanya Larasati. Dia benar-benar tidak menyangka jika dia akan pingsan selama itu dan membuat semua orang yang begitu menyayanginya merasa khawatir.


Mendapatkan pertanyaan dari Larasati, Angga langsung menyahuti.


"Iya, Mbak. Mbak udah kaya orang mati suri saja, lama banget pingsannya." Sebuah cubitan dari Mini langsung mendarat tepat di perut Angga.


Tentu saja karena perbuatan sang kekasih hati, membuat Angga mengaduh kesakitan. Padahal dia cuma bercanda, namun menurut Mini hal itu tidak tepat untuk dikatakan pada saat ini.


"Sakit, Yang." Angga mengelus-elus perutnya yang terasa panas.


"Makanya jangan ngomong sembarangan!" kata Mini.


"Kamu membuat Daddy khawatir," kata Tuan Keanu seraya menghampiri menantunya. Lalu, sebuah kecupan hangat dia labuhkan di kening menantunya.


"Mommy juga khawatir," kata Nyonya Meera menimpali.


"Tapi kita semua sangat senang, karena--"


Tuan Elias nampak menghentikan ucapannya, lalu dia menghampiri putrinya dan menggengam tangannya dengan erat.


"Karena apa, Dad?" tanya Larasati dengan raut wajah bingung.


"Karena di sini akan ada penerus keluarga kita, kamu akan kembali memberikan cucu untuk Daddy." Tuan Elias langsung mengelus lembut perut putrinya.


Mendengar penuturan dari daddy-nya, mata Larasati nampak berkaca-kaca. Dia sangat senang karena akhirnya dia bisa mengandung kembali, Apalagi saat ini dia mengandung benih dari lelaki yang benar-benar mencintai dirinya.


"Aku hamil?" tanya Larasati tidak percaya.


"Iya, Buna. Kata tante doktel aku akan punya adik bayi, aku syeneng. Nanti ada teman belmain," kata Satria.


Larasati langsung menatap wajah Jonathan dengan tatapan penuh haru, lalu dia berkata.


"Kamu senang, Mas?" tanya Larasati.

__ADS_1


Jonathan langsung tersenyum, sebenarnya tanpa ditanya pun dia sudah sangat senang. Karena memang dia begitu menginginkan keturunan yang akan tumbuh dan lahir dari rahim Larasati.


"Sangat, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau mengandung keturunanku, maaf karena aku--"


Jonathan terlihat menggaruk pelipisnya yang terasa tidak gatal, dia bingung harus berkata apa. Tidak mungkin bukan, jika di depan banyak orang dia berkata 'maaf karena aku terus saja menggempur kamu siang dan malam.'


Jika dia berkata seperti itu, sudah dapat dipastikan jika semua orang yang ada di sana akan mencibirnya.


Melihat raut penyesalan di wajah suaminya, Larasati seakan paham. Dia tersenyum lalu berkata.


"Tidak apa-apa, Mas. Itu sudah kewajibanku sebagai istri," ucap Larasati.


"Terima kasih," kata Jonathan.


"Sekarang kamu makan dulu, habis itu kita ke ruang obgyn untuk memeriksakan kandungan kamu. Karena Mom sudahangat penasaran dengan keadaan janin di rahum kamu," kata Nyonya Meera.


Ada rasa haru di hati Larasati, ada juga rasa penyesalan karena saat hamil Satria dia tidak memberitahukannya kepada kedua orang tuanya.


Dia hanya berbagi kebahagiaan dengan Yudha saja, itu pun respon dari Yudha tak seperti respon dari Jonathan yang begitu antusias dan terlihat bahagia sekali saat mendengar dirinya telah mengandung.


"Yes, Mom," jawab Larasati.


Jonathan langsung mengambil piring berisi nasi lengkap dengan lauknya, lalu menyuapi Larasati dengan telaten.


"Sudah kenyang," kata Larasati setelah menghabiskan seperempat piring nasi.


"Baiklah, yang penting sudah ada nasi yang masuk. Sekarang kita ke ruang obgyn, kalau kamu mau sesuatu bilang sama aku. Nanti aku beliin," kata Jonathan.


"Iya, Mas," jawab Larasati.


Jonathan terlihat menggendong Larasati, kemudian dia mendudukkannya di atas kursi roda. Lalu, dia mendorong Larasati menuju ruang obgyn.


Tuan Elias bersama dengan nyonya Meera mengikuti langkah Jonathan, begitupun dengan tuan Keanu, dia menggendong Satria seraya mengekori langkah Jonathan.


Berbeda dengan Mini, Angga dan juga bi Narti, mereka berpamitan untuk pulang. Lagi pula mereka merasa tidak enak hati kalau terlalu lama di sana.


BERSAMBUNG


*


*


*


Selamat pagi kesayangan, semoga kalian sehat selalu dan banyak rezeky. Terima kasih karena kalian selalu mau membaca karya Othor ini, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.

__ADS_1


__ADS_2