Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Kejutan Untuk Yudha


__ADS_3

Pesta ulang tahun Satria berlangsung dengan sangat meriah, semua orang yang hadir nampak bahagia.


Anak-anak dari teman Larasati pun terlihat begitu senang bisa ikut dalam acara demi acara yang terselenggara dalam pesta ulang tahun tersebut.


Bahkan saat mereka hendak pulang, mereka terlihat sangat bahagia. Karena Larasati memberikan souvenir boneka Teddy Bear berukuran besar untuk setiap anak yang hadir.


Kebahagiaan juga nampak terlihat jelas di wajah Satria, anak balita tampan itu terus saja mengembangkan senyumnya selama acara berlangsung.


"Gue balik," pamit Jelita.


"Yes, tank's untuk bantuannya." Larasati terlihat menautkan kedua pipinya secara bergantian.


"Sama-sama," kata Jelita.


Jelita pun nampak keluar dari Caffe tersebut bersama dengan suami dan putrinya, semua bahagia, semua lelah dan ingin beristirahat.


*/*


Pesta telah usai, semua tamu sudah pulang. Satria pun kini telah tidur dengan lelap di pangkuan Bi Narti.


"Bi, tolong bawa pulang Satria. Kasihan dia pasti kelelahan," kata Larasati.


"Oke, Bibi pulang dulu." Bi Narti langsung keluar dari Caffe.


Angga pun terlihat bangun dan berpamitan pada Larasati.


"Aku pulang ya, Kak. Mau nganter Ibu," pamit Angga.


"Pulanglah, titip Satria, ya?" pinta Larasati.


"Siap, Nyonya!" seru Angga.


Angga pun segera keluar dari Caffe, dia langsung menyusul Bi Narti dan juga Satria. Tentu saja selain untuk mengantarkan ibunya, dia juga ingin beristirahat.


Badannya sudah terasa sakit dan lelah, karena seharian dia menjalankan tugas dari Larasati. Dia ingin segera pulang dan merebahkan tubuh lelahnya.


Kini di ruangan tersebut tinggalah Larasati, Yudha dan juga pak Arman. Suasana tiba-tiba berubah hening, Yudha merasa seperti penjahat yang sedang disidang.


"Ehm, sebenarnya ada apa ya? Kenapa Mas belum boleh pulang?" tanya Yudha.


Yudha terlihat menegakkan duduknya, dia terlihat gelisah dan nampak tidak tenang. Dia mencoba menatap wajah Larasati yang terlihat santai namun tak bersahabat.

__ADS_1


"Maaf kalau saya mengganggu waktunya sebentar, saya hanya ingin memberitahukan jika sertifikat rumah, sertifikat beberapa bidang tanah dan juga Resto yang atas nama anda--"


"Kenapa? Ada apa memangnya?" tanya Yudha resah.


Yudha terlihat panik, dia segera memotong ucapan pak Arman. Dia benar-benar sudah merasa tidak nyaman dengan situasi yang dia hadapi saat ini.


"Semua sertifikat atas nama anda, setelah saya cek di BPN dan ternyata cacat hukum," kata Pak Arman.


Mendengar apa yang diucapkan oleh pak Arman, rasanya dia sangat kaget dan tidak percaya. Rasanya dia seperti tertampar.


"Loh, maksudnya bagaimana? Cacat hukum seperti apa?" tanya Yudha tak paham.


Rasanya tidak mungkin jika semua sertifikat atas nama dia cacat hukum, karena waktu itu Yudha meminta tolong kepada pengacara ternama yang ada di ibu kota.


Bahkan Yudha mengeluarkan banyak uang untuk pemindahan nama dari Larasati Putri Dinata, menjadi atas nama dirinya, Yudha Hardana.


"Sertifikat tanah atas nama Yudha Hardana dinyatakan tidak sah, karena adanya kesalahan dalam perhitungan luas tanah, di temukannya pemalsuan surat pernyataan dari pihak pertama dan kesalahan huruf pada nama anda," jelas Pak Arman.


Seketika tubuh Yudha terasa lemas, jantungnya pun seakan berdetak lebih pelan. Napasnya pun rasanya seakan tersendat, tenggorokan pun seakan kering sehingga dia susah untuk berucap.


Yudha benar-benar syok atas kenyataan yang dia terima saat ini, bagaimana bisa pengacaranya kala itu salah dalam perhitungan luas tanah milik Larasati.


Kenapa pengacaranya bisa seteledor itu, padahal uang yang dia keluarkan tidak sedikit. Dia berdalih itu semua sebagai ganti atas biaya dari tidak hadirnya pihak pertama.


Namun yang dia sesalkan, kenapa dia sampai bisa tidak memperhatikan kesalahan huruf dalam namanya.


"Ta--tapi--"


"Ini salinan sertifikat milik anda," kata Pak Arman.


Pak Arman terlihat memberikan berkas salinan sertifikat atas nama Yudha dari BPN, tangan Yudha terlihat bergetar saat menyambut berkas tersebut.


Benar saja, di sana tertulis nama 'Yudha Hardiana', bukan Yudha Hardana.


'Sial! Kenapa aku bisa seteledor ini!?' kesal Yudha dalam hati.


Setelah membaca salinan sertifikat yang diberikan oleh pak Arman, Yudha pun langsung menatap Larasati dengan wajah sendunya.


Larasati hanya bisa membalas tatapan Yudha dengan tatapan datarnya, dia seakan tak iba pada lelaki yang kini berada di hadapannya itu.


Lelaki yang dulu sangat dia cintai, lelaki yang dia bela mati-matian. Lelaki yang memberinya seorang buah hati yang sangat tampan dan menggemaskan.

__ADS_1


Tanpa Larasati duga tubuh Yudha langsung merosot ke lantai, dia langsung bersujud di kaki Larasati.


Larasati nampak membulatkan matanya dengan sempurna, dia tidak menyangka jika Yudha akan melakukan hal itu.


"Bangunlah, Mas. Jangan melakukan hal itu, jangan merendahkan dirimu," kata Larasati.


Bukannya bangun, Yudha malah terisak. Dia menangis sambil memeluk kaki Larasati dengan erat.


"Maafkan, Mas, Laras. Mas tahu, kalau Mas sudah salah. Dulu Mas terlalu egois, Mas tidak pernah memikirkan kamu dan anak kita. Maafkanlah, Mas," ucap Yudha seraya terisak.


"Aku sudah memaafkan kamu, Mas." Larasati terlihat mendorong tubuh Yudha.


"Mas nggak akan ngelepasin kamu kalau kamu belum benar-benar memaafkan, Mas," ucap Yudha.


"Aku sudah memaafkan kamu dari sejak lama, Mas. Aku melakukan semua ini bukan karena tidak memaafkan kamu, tapi aku hanya mengambil hak Satria. Anak kita," kata Larasati.


Mendengar ucapan Larasati, Yudha nampak mendongakkan kepalanya. Dia menatap Larasati dengan tatapan mengiba.


"Lalu, bagaimana dengan Mas?" tanya Yudha.


"Heh!"


Terdengar helaan napas berat dari bibir Larasati, kemudian dia pun berkata kembali.


"Karena selama ini kamu sudah mengurus Resto dengan baik, sebagai tanda terima kasihku kamu masih boleh bekerja di Resto milikku. Namun, aku akan meminta Rendy untuk mengelola Resto tersebut," ucap Larasati.


"Ja--jadi Mas harus bekerja di sana, begitu?" tanya Yudha.


"Ya, Mas harus bekerja. Karena masih ada istri dan anak yang harus kamu nafkahi," jawab Larasati.


"Lalu, bagaimana dengan rumah yang Mas tempati?" tanya Yudha.


"Untuk sementara waktu, Mas boleh ditinggal di sana sampai Mas menemukan rumah yang nyaman untuk Mas dan istri juga anak Mas tinggali," kata Larasati.


'Kamu pasti bisa membeli rumah, Mas. Aku tahu uang tabungan kamu banyak, pasti kamu bisa dengan mudah membeli rumah untuk anak dan istri kamu,' ucap Larasati dalam hati.


"Terima kasih karena kamu sudah berbaik hati kepada, Mas," ucap yudha.


Tersungging sebuah senyuman getir di bibir Yudha, dengan pipinya yang terlihat basah karena air mata yang terus saja mengalir dari pelupuknya.


"Aku melakukan semua ini buat anak kamu, Mas. Bukan untuk kamu, aku sangat tahu bagaimana rasanya terusir dari tempat yang biasa kita tinggali setelah melahirkan. Hanya satu yang aku pikirkan saat itu, bagaimana dengan nasib anakku," kata Larasati.

__ADS_1


Mendengar ucapan Larasati, Yudha hanya bisa menatap Larasati dengan wajah penuh penyesalan.


__ADS_2