
Putri benar-benar merasa malu karena dia merasa sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan, sedangkan Reon terlihat sangat bahagia akan apa yang sudah dikatakan oleh Putri.
Dia melerai pelukannya, kemudian menatap Putri dengan tatapan penuh cinta. Putri yang malu langsung menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.
Sungguh bukan hanya menatap Reon yang dia tidak mampu, tapi menatap kedua orang tua Reon pun dia seakan tidak sanggup.
"Jangan menunduk terus, tidak ada yang membuang uang di sana," goda Reon.
Seketika itu juga Putri langsung mendongakkan kepalanya, dia yang merasa kesal dengan ucapan Reon langsung memukul tangan Reon dengan gemas.
"Aku tidak sedang mencari uang yang jatuh, aku hanya malu," kata Putri jujur.
Mendengar Putri yang sudah merubah aksen bahasanya Reon sangat senang, karena biasanya Putri akan berbicara dengan sangat formal.
"Ehm, aku-kamu. Sudah mulai ada perubahan, besok panggil aku 'Sayang'," kata Reon.
Putri langsung memelototkan matanya, dia merasa malu sekaligus kesal terhadap atasan yang sudah menganggap dirinya sebagai kekasih itu.
"Ngga kaya gitu!" sanggah Putri, kembali dia memukul gemas tangan Reon.
Reon terkekeh kemudian dia menangkap tangan Putri dan mengecup punggung tangan wanita muda itu dengan mesra.
Putri langsung menarik tangannya dan memalingkan wajahnya yang sudah memerah, dia benar-benar merasa malu dan juga kesal dalam waktu yang bersamaan.
Namun, dia juga merasa ada yang aneh dengan keadaan hatinya. Karena saat Reon mengecup tangannya dengan mesra, dia merasa ada getaranndi dalam hatinya.
Jujur saja, baik Reon atau pun Ibu Amara dan juga tuan Andar terlihat menertawakan tingkah Putri yang seperti itu.
Sebenarnya Ibu Amar hanya ingin mengetes keseriusan Putri saja dalam berhubungan dengan Reon, karena Reon sering bercerita terhadap dirinya, jika dirinya begitu mencintai Putri.
Namun, Putri seakan belum bisa menerima dirinya. Padahal Reon sudah melakukan segala cara agar Putri mau mulai membuka hati untuk dirinya.
Ibu Amara yang merasa kasihan terhadap putranya, akhirnya mengusulkan untuk mengajak Putri datang ke rumahnya dengan alasan akan menjodohkan Reon dengan wanita lain.
Reon yang takut dijodohkan tentu saja langsung mengajak Putri agar mau diajak ke rumahnya.
Ibu Amara merasa tidak sia-sia sudah mengatakan hal seperti kepada Reon, karena dengan seperti itu dia bisa tahu Putri memang belum mencintai putarannya.
Namun, Putri tidak siap jika Reon meninggalkan dirinya. Putri sudah merasa sangat nyaman dengan putranya, walaupun dia tidak mengakuinya. Atau mungkin belum menyadari perasaannya.
"Kamu kenapa, hem? Kenapa wajah kamu merah kaya gitu?" kata Reon seraya merapatkan tubuhnya pada Putri, dia suka sekali menggoda Putri saat ini.
"Eh? Tidak apa-apa, aku hanya lapar," jawab Putri asal.
"Benarkah?" tanya Reon yang semakin merapatkan tubuhnya.
Putri terlihat salah tingkah, dia langsung mendorong dada Reon dan segera berlari ke arah Ibu Amara.
__ADS_1
Dia langsung bersembunyi di balik tubuh ibu Amara, Reon langsung tertawa. Dia hanya menggodanya saja, tapi Putri benar-benar terlihat salah tingkah.
"Hey! Aku tidak akan menggigitmu, kemarilah!" pinta Reon.
Putri memberanikan diri untuk menatap mata Ibu Amara, dia seolah mencari perlindungan dari wanita paruh baya itu.
Ibu Amara tersenyum, dia elus dengan penuh kasih punggung wanita yang sangat dicintai oleh putranya itu.
"Dia hanya menggoda kamu saja, Sayang. Apa kamu sebelumnya sudah pernah berpacaran?" tanya Ibu Amara.
"Belum," jawab Putri seraya menggelengkan kepalanya.
Ibu Amara tertawa, begitu pula dengan tuan Andar. Ibu Amara menepuk pundak Reon, lalu dia berkata.
"Menang banyak kamu," kata Ibu Amara.
"Iya bener, Ayah dapet sisaan." Tuan Andar nampak mencebikkan bibirnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Andar, Reon langsung memalingkan wajahnya ke arah Ibu Amara. Lalu, dia bertanya.
"Memangnya saat Ayah dan Ibu menikah, Ibu sudah jadi janda?" tanya Reon.
"Ish! Bukan seperti itu, dia memang masih gadis. Tapi Ayah sering melihat dia berciuman dengan pacarnya," kata Tuan Andar.
Ya, tuan Andar dulunya memang hanya teman dekat dari ibu Amara. Mereka selalu pergi bersama ke mana pun juga, bahkan saat Ibu Amara pergi bersama kekasihnya dia juga akan ikut.
Entah sejak kapan rasa itu datang, tapi mereka memutuskan untuk menikah. Alasannya sederhana, mereka merasa sangat nyaman dan merasa saling mengerti.
"Ayah!" seru Ibu Amara.
Ibu Amara merasa malu kala tuan Andar membuka masa lalunya, rasanya hal itu sangat tidak pantas untuk diceritakan kepada anak dan calon menantunya, Putri.
"Maaf, Bu. Keceplosan," kata Ayah Andar.
Reon langsung tertawa melihat perdebatan di antara kedua orang tuanya, apalagi saat melihat wajah kesal ibunya.
"Sudah-sudah, sekarang kita makan malam saja. Tadi katanya Putri laper, ya?" ajak Pak Andar.
Mendengat apa yang dikatakan oleh tuan Andar, Putri langsung mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya.
"Ngga usah makan deh, aku pulang aja. Pak anterin pulang," pinta Putri pada Reon.
Bukannya merasa tidak nyaman, tapi dia merasa malu dengan apa yang sudah terjadi barusan.
"Ish! Kamu tuh gitu, kamu tadi udah aku-kamu. Sekarang panggil 'Pak' lagi, aku marah. Kamu pulang sendiri aja," kata Reon seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Reon pura-pura merajuk, dia ingin tahu bagaimana reaksi dari wanita yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Putri yang sedari kecil memang selalu diantar jemput, baik itu oleh Satria, Yudha ataupun Juki merasa ketakutan saat dirinya disuruh untuk pulang sendiri.
Putri langsung menghampiri Reon, lalu dia memegang tangan Reon dan menggoyang-goyangkannya.
"Jangan suruh pulang sendiri, aku takut," kata Putri.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kamu pulang. Tapi, panggil aku 'Sayang' dulu," pinta Reon.
"Iya, iya. Pak, eh? Sa--sayang, tolong anterin aku pulang," pinta Putri.
Reon tertawa puas dalam hati karena akhirnya dia bisa mendengar Putri menyebut dirinya dengan sebutan 'Sayang'.
"Re! Kasihan Nak Putri, anterin pulang gih!" kata Tuan Andar.
"Iya, Ayah!" jawab Reon.
Akhirnya Putri dan juga Reon berpamitan kepada Ibu Amara dan juga tuan Andar, setelah itu Reon langsung mengajak Putri masuk ke dalam mobilnya.
Baru saja Putri masuk ke dalam mobil Reon dan duduk di samping kemudi, Putri terlihat menguap beberapa kali.
Sepertinya bekerja dan kuliah dalam setiap harinya membuat tubuhnya merasa lelah dan juga sangat mengantuk walau dalam keadaan perut belum terisi.
Reon tidak berbicara apa pun, dia langsung memasangkan sabuk pengaman untuk Putri dan dirinya, setelah itu dia langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Juki.
Selama perjalanan mereka hanya saling diam, bahkan Reon terlihat fokus mengemudi. Walaupun hatinya sibuk mencari cara agat Putri bisa segera menunjukkan perasaannya kepada dirinya.
"Sudah sam--"
Ucapan Reon terhenti kala melihat Putri yang sedang terlelap dalam tidurnya, dia tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
Tatapam mata Reon tertuju pada bibir ranum milik gadis muda itu, Reon membuka sabuk pengamannya, lalu dia menunduk dan memiringkan wajahnya.
Sungguh dia sangat tergoda dengan bibir itu, dia ingin mencicipinya. Dia sangat tergoda.
"Engh!" terdengar lenguhan dari bibir Putri, bahkan kedua tangannya terlihat direntangkan dengan cepat.
Sontak tangan Putri langsung mengenai rahang Reon, lelaki itu nampakm ngaduh kesakitan.
"Aduh, shitt!" umpat Reon.
Ternyata hanya pukulan dari tangan Putri yang Reon dapatkan, sedangkan ciuman hangat dari bibir yang terlihat sangat ranum itu tidak dia dapatkan.
Putri yang kaget dengan suara dari Reon langsung terbangun, dia langsung mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kamu kenapa?" tanya Putri yang melihat Reon yang sedang meringis seraya memegangi rahangnya.
****
__ADS_1
Pagi Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki. Ayo yang belum gabung bisa langsung masuk gc Othor, masih sepi banget ini.