
Jika Larasati kini sedang menikmati hari-harinya, berbeda dengan Jesicca. Dia merasa sedih sekali karena Yudha sama sekali belum memperlihatkan batang hidungnya.
Padahal saat ini Jesicca begitu membutuhkan Yudha sebagai penyemangat untuk dirinya, namun sayangnya pria itu tak juga datang.
Bukan hanya dia yang membutuhkan Yudha, tapi Putri juga sangat membutuhkan ayahnya saat ini.
Jesicca bahkan sampai meminjam ponsel pada security yang ada di Rumah Sakit tersebut, sayangnya Yudha sama sekali tak mau mengangkat panggilan telpon darinya.
"Ya Tuhan, sebenarnya kamu kemana, Mas? Kenapa susah sekali menghubungi kamu?" tanya Jesicca lirih.
Jesicca masuk kembali ke dalam ruang perawatan putrinya, dia duduk di bangku tunggu dan menatap wajah putrinya dengan lekat.
"Maafkan Ibu, Sayang," kata Jesicca.
Hanya kata itu yang mempu dia ucapkan, dia benar-benar tak mampu berkata apa pun lagi. Dia benar-benar merasa sangat sedih saat melihat Putri yang terbaring lemah.
Selepas subuh dia sempat panik, karena suhu tubuhnya sempat naik kembali. Beruntung ada dokter jaga, sehingga bisa dengan mudah ditangani.
"Nyonya."
Mendengar ada yang memanggilnya, Jesicca langsung memalingkan wajahnya.
"Bi, Mas Yudha mana?" tanya Jesicca.
Bu Minah terlihat menundukkan kepalanya, lalu dia menyerahkan ponsel milik Jesicca. Jesicca pun dengan senang hati menerima ponselnya, karena dia memang membutuhkannya.
"Tuan ngga pulang, Nya," jawab bi Minah.
Wajah Jesicca terlihat sendu, dia tak menyangka jika Yudha sampai tak pulang disaat genting seperti ini.
"Sepertinya aku harus ke Resto, Bi. Aku ingin menemui Mas Yudha," kata Jesicca.
Jesicca terlihat bangun dan segera mengambil tasnya, lalu dia pun menghampiri Bi Minah dan berpamitan kepadanya.
"Aku pergi, titip Putri," kata Jesicca.
"Iya, Nyonya," jawab Bi Minah.
Setelah berpamitan kepada bi Minah, Jesicca nampak menghampiri putrinya yang sedang tertidur, dia mengecup keningnya lalu kemudian pergi dari ruang perawatan Putri.
Tiba di depan Rumah Sakit, dia lalu memesan ojek online untuk bisa sampai ke Resto.
Hanya memerlukan waktu lima belas menit saja, Jesicca sudah sampai di depan Resto. Jesicca terlihat menghela napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.
__ADS_1
Hatinya terasa berdebar tak karuan saat melihat Resto tersebut, di Resto itulah dia merayu Yudha hingga menjadi suaminya.
Karena Resto itu pula dia menghasut Yudha untuk mengalihkan kepemilikan kepada Yudha, karena dulu dia berharap bisa menikmati kemewahan tanpa bekerja.
"Kenapa rasanya malu sekali untuk masuk ke dalam Resto?" tanya Jesicca lirih.
Dia terlihat ragu untuk masuk ke dalam Resto, dia hanya diam sambil memperhatikan Resto yang kini terlihat begitu ramai dengan pengunjung.
Setelah cukup lama berperang dengan batinnya, dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Permisi, Nona. Apakah saya bisa bertemu dengan Mas Yudha?" tanya Jesicca pada salah satu pelayan di sana.
Pelayan tersebut nampak memandang Jesicca, wanita yang dulu menjadi istri dari bos galaknya.
"Maaf, Nyonya. Pak Yudha sudah satu minggu yang lalu keluar dari Resto," ucap pelayan tersebut.
Mendengar jawaban dari pelayan tersebut, Jesicca nampak kaget.
"Ma--maksudnya bagaimana?" tanya Jesicca terbata.
Pelayan tersebut nampak tersenyum, kemudian dia pun kembali berkata.
"Begini saja, anda langsung bertanya saja pada Tuan Rendy. Mari saya antar," ajak pelayan tersebut.
Jesicca pun mengikuti langkah wanita tersebut, sampai di depan ruangan Rendy, dia pun mengetuk pintunya.
"Masuk!" seru Rendy.
Pelayan tersebut nampak membukakan pintunya, lalu dia pun berkata.
"Maaf, Tuan. Ada orang yang ingin bertemu dengan anda," ucap pelayan tersebut.
Rendy yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, langsung mendongakkan kepalanya.
Kemudian dia pun tersenyum saat melihat Jesicca' lah yang datang untuk menemuinya. Dia sudah sangat tahu dengan niatan Jesicca yang datang ke Resto. Sudah dapat dipastikan, jika dia akan menanyakan tentang keberadaan suaminya, Yudha.
"Silahkan masuk Nyonya Jesicca," ucap Rendy. "Dan untuk kamu boleh keluar dari ruangan saya," kata Rendy kepada pelayan tersebut.
Pelayan tersebut nampak membungkuk hormat, kemudian dia pun nampak berlalu untuk kembali bekerja.
Rendy langsung bangun dari tempat duduknya, kemudian dia pun mempersilahkan Jesicca untuk duduk di sofa tunggu.
"Ada perlu apa anda datang kesini?" tanya Rendy.
__ADS_1
"Maaf, saya hanya ingin bertanya. Apakah benar jika suami saya sudah tidak bekerja lagi di sini?" tanya Jesicca sopan.
"Iya, seminggu yang lalu dia mengundurkan diri. Katanya dia tidak bisa bekerja jika harus menjadi seorang pelayan," jelas Rendy.
Mendengar penuturan dari Rendy, membuat dia menjadi syok. Karena setiap malam Yudha selalu pulang larut dan alasannya adalah bekerja di Resto, membantu Rendy.
Lalu, apa ini? Rendy berkata jika Yudha sudah tidak bekerja di Resto, lalu kemana Yudha setiap harinya?
Dia benar-benar merasa kaget dengan kenyataan yang ada, dia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Yudha.
Melihat Jesicca yang terdiam, Rendy hanya tersenyum. Kemudian, dia pun kembali berkata.
"Apa ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya Rendy.
"Tidak ada, maaf sudah mengganggu. Saya permisi," pamit Jesicca.
Jesicca melangkah dengan langkah gontai, kakinya seakan tidak menapak. Pikirannya seakan mengambang, dugaan demi dugaan nampak berseliweran di dalam otaknya.
"Kamu kemana, Mas? Kenapa tega sekali kamu sama aku dan Putri?" tanya Jesicca.
Jesicca terus saja melangkahkan kakinya tanpa arah, dia benar-benar merasa kecewa terhadap suaminya itu.
Dia terlihat tidak fokus saat berjalan, hingga tanpa terduga, Jesicca jatuh tersungkur karena terserempet motor yang tengah melaju dengan kencang.
"Aaaah, sakit sekali!" ucap Jesicca.
Kedua telapak tangannya nampak berdarah, lututnya pun berdarah dan pergelangan kakinya nampak susah untuk digerakkan.
"Aduh, sepertinya kaki aku terkilir," ucapnya.
Dia berusaha untuk berdiri untuk bisa duduk di bangku yang berada di pinggir jalan, baru saja dia berhasil berdiri, pengendara sepeda motor yang menyerempet Jesicca datang menghampirinya.
"Hey! Elu sengaja ya? Modus' kan, biar gue ganti rugi?" ucap pengendara sepeda motor tersebut.
"Ngga, Bang. Saya ngga modus, ini kaki saya malah sakit banget. Telapak tangan dan lutut saya juga berdarah," kata Jesicca seraya mengunjukan lukanya.
"Halah, ngga percaya gue. Sudah banyak orang kaya elu yang suka nipu, modusnya ketabrak, ujung-ujungnya minta duit. Muka elu cantik, Mbak. Jual diri pasti laku!" kata pria itu seraya berlalu.
Mendengar ucapan pria itu, air mata Jesicca langsung luruh begitu saja. Sakit sekali rasanya dituduh dan dihina, dia mengusap air matanya dan berusaha untuk duduk di tepian jalan.
"Sebaikanya aku pergi ke Rumah Sakit aja, kasihan Putri kalau terlalu lama ditinggal," kata Jesicca.
Jesicca langsung memesan ojek online, kemudian dia pun langsung pergi menuju Rumah Sakit. Dia ingin segera melihat putrinya, dia ingin segera mengetahui kondisi putrinya saat ini.
__ADS_1