
"Iya, cucu kesayangan Opa. Besok ayah Angga sama nenek Narti akan datang," bujuk Tuan Elias.
Wajah Satria yang tadinya sendu kini berubah menjadi bahagia, Satria bahkan langsung melompat ke pangkuan Tuan Elias dan langsung mengecupi setiap inci wajahnya.
"Maacih Opa," ucap Satria tulus.
Walaupun Jonathan merasa cemburu akan kedekatan Satria dan juga Angga, namun dia berusaha untuk tersenyum hangat kepada Satria.
"Sekarang kita bobo, sudah malam." Jonathan terlihat menggendong Satria, Satria pun terlihat begitu nyaman di dalam gendongan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suami dari bundanya tersebut.
Melihat keakraban antara Jonathan dan juga Satria, Larasati tersenyum senang.
"Emm, Jo. Selama ini Satria tidur bareng aku. Kalau malam ini kamu mau tidur sama Satria, berarti kamu tidurnya di kamar tamu. Ngga apa-apa, kan?" kata Larasati.
"Ngga dong, Sayang. Sekarang tunjukkan di mana kamarnya, kasihan Satria sudah mengantuk," kata Jonathan.
Larasati menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun berpamitan kepada tuan Elias sebelum dia mengantarkan Jonathan ke dalam kamar tamu.
"Dad, aku pergi dulu. Mau nganter calon imam," pamit Larasati.
Tuan Elias langsung terkekeh mendengar penuturan dari putrinya.
"Ya, Sayang." Tuan Elias nampak bangun, dia memeluk dan mengecup kening putrinya dengan lembut.
Setelah berpamitan kepada tuan Elias, Larasati pun langsung mengantarkan Jonathan ke kamar tamu yang berada di sebelah kamarnya.
Tiba di dalam kamar tamu, Jonathan langsung merebahkan tubuh mungil Satria. Kemudian, dia pun mulai bercerita tentang superhero yang mereka sangat sukai.
Satria terlihat begitu senang saat mendengarkan cerita dari Jonathan, bahkan sesekali terlihat tawa riang dari bibirnya.
Larasati merasa sangat senang sekali melihat keakraban di antara keduanya, disela tawanya Satria terus saja menguap, hingga tak lama kemudian Satria pun nampak terlelap dalam tidurnya.
Jonathan tersenyum, lalu dia mengecup kening Satria dengan penuh kasih.
"Tidurlah putra Daddy, aku menyayangimu," kata Jonathan.
Setelah melihat Satria terlelap, Jonathan mengajak Larasati untuk duduk di atas sofa. Larasati menurut, kini mereka pun duduk berdua di atas sofa yang sama.
"Ada apa, Jo?" tanya Larasati.
Bukannya menjawab, Jonathan malah mengangkat tubuh Larasati dan mendudukannya di atas pangkuannya.
"Aww!"
Larasati terkejut, dia langsung memukul-mukul pundak Jonathan.
__ADS_1
"Sakit, Ra." Jonathan menangkap kedua tangan Larasati dan mengecupinya.
"Jo!"
Dia menghentikan aksinya, kemudian dia pun menatap manik Larasati dengan sangat lekat.
"Aku ingin bertanya kepadamu dan aku harap kamu menjawabnya dengan jujur," ucap Jonathan.
Larasati tersenyum, dia suka dengan Jonathan yang selalu terbuka terhadap dirinya. Apa pun yang tidak disetujui pasti akan dia ungkapkan, apa pun yang mengganjal di hatinya selalu langsung dia tanyakan.
"Tanyakanlah, Jo. Jangan ragu," ucap Larasati.
"Bagaimana perasaan kamu terhadap Angga?" tanya Jonathan.
Larasati menatap manik Jonathan dengan dalam, dia bisa melihat raut kecemburuan di sana. Seulas senyum tersungging dari bibirnya, kemudian dia pun mengusap pipi Jonathan dengan lembut.
"Bagiku, Angga dan bi Narti adalah malaikat penolong. Bi Narti sudah seperti Ibu kedua untukku dan Angga sudah seperti adik yang begitu aku sayangi," jawab Larasati.
Jawaban dari bibir Larasati benar-benar membuat Jonathan merasa lega, namun dia masih ingin bertanya lagi.
"Kamu benar-benar tidak ada rasa, kan sama brondong itu?" tanya Jonathan.
Pertanyaan Jonathan disertai dengan rasa cemburu yang begitu tinggi, Larasati bisa merasakannya.
"Tentu saja aku menyayanginya sebagai adikku," jawab Larasati.
"Lagi pula aku menyukai pria matang, bukan brondong," goda Larasati.
"Apa kamu sedang menggodaku?" tanya Jonathan seraya memeluk erat tubuh Larasati.
"Tidak, Jo. Aku hanya berkata jujur saja, jawab Larasati.
"Ra!"
"Hem," jawab Larasati.
"Kiss me, please." Yudha langsung memonyongkan bibirnya.
Larasati terkekeh melihat kelakuan calon suaminya itu, dia tahu jika Jonathan sudah tak sabar untuk memperistri dirinya.
Hanya saja tuan Keanu masih banyak urusan, jadi Jonathan terpaksa memundurkan acara pernikahan mereka ke bulan depan.
Larasati nampak merangkum pipi Jonathan dengan kedua telapak tangannya, kecupan hangat pun dia labuhkan di bibir Jonathan benerapa kali.
Jonathan yang merasa tak sabar langsung menekan tengkuk leher Larasati dan memperdalam tautan bibirnya.
__ADS_1
Untuk sesaat Larasati terhanyut dengan apa yang dilakukan oleh Jonathan, dia memejamkan matanya dan membalas tautan bibir dari Jonathan.
Namun, saat menyadari ada yang mengganjal di sela kedua paha Jonathan. Larasati langsung membuka matanya, kemudian dia pun bangun dari tubuh Jonathan.
"Jo!"
Mendaatkan tatapan maut dari Larasati, Jonathan nampak tertunduk malu seraya mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin.
"Maaf," hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.
"Aku memaafkanmu, Jo. Sekarang tidurlah, besok pagi aku akan membangunkanmu. Maaf Satria merepotkan kamu," ucap Larasati.
"Tidak apa, Ra. Aku suka Satria, aku sayang dia. Apa lagi wajahnya mirip kamu banget, kayaknya malam ini aku bisa tidur pulas. Karena berasa tidur bareng kamu," goda Jonathan.
"Ish! Kamu tuh ada-ada aja, aku ke kamarku dulu," pamit Larasati.
"Ya, jawab Jonathan.
Larasati pun segera keluar dari kamar tamu, kemudian dia pun masuk kedalam kamarnya. Dia mengunci pintu kamarnya, lalu segera merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya.
Seulas senyum terbit dari bibirnya, dia merasa lucu akan tingkah Jonathan yang benar-benar seperti anak ABG yang baru merasakan yang namanya jatuh cinta.
Larasati sangat ingat jika dari SMP Jonatan sudah mengungkapkan perasaannya, Larasati pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya.
Apakah Jonathan pernah berusaha menjalin hubungan dengan wanita lain?
Sebenarnya Larasati merasa lucu akan tingkah Jonathan tadi, dia merasa lucu saat milik Jonathan yang tiba-tiba saja bangun saat mereka berciuman.
Namun, dia paham. Karena, Jonathan pastilah laki-laki normal. Jadi, wajar saja bila hal itu terjadi.
"Semoga, Jo adalah lelaki terakhir yang akan menjadi pelabuhan hatiku," do'a Larasati.
Tak lama kemudian, Larasati yang merasa lelah pun langsung tertidur dan masuk ke alam mimpinya.
*/*
02:16 wib.
Yudha mengerjapkan matanya, dia merasa sangat haus. Dia pun segera bangun dan meminum aur putih yang selalu dia siapkan di atas nakas.
Saat dia hendak tidur kembali, dia tak menemukan Leana di sana. Yudha pun keluar dari dalam kamarnya, kemudian mencari Leana.
Sayangnya setelah menyisiri rumah kontrakan yang tidak besar itu, dia tak menemukan Leana.
"Sebenarnya dia kemana? Apa mungkin dia lapar dan mencari tukang makanan yang lewat?" tanya Yudha lirih.
__ADS_1
Yudha yang merasa penasaran pun, berinisiatif untuk mencari Leana di luar rumah. Sayangnya, saat dia membuka pintu, ternyata pintunya terkunci.
"Ck! Kenapa sih kalau dia pergi selalu saja mengunci pintu?" keluh Yudha.