
Sepanjang perjalanan menuju tempat dia bekerja, wajah Juki terlihat sumringah. Senyum di bibirnya terus saja mengembang, bak adonan kue donat yang dikasih Fermipan.
Juki tertawa dalam hati, ternyata sangat membahagiakan bisa mengenal Jesicca dan juga Putri. Juki jadi ingin mempercepat acara pernikahannya dengan Jesicca.
Dia sudah tidak sabar ingin ada yang menemaninya saat malam tiba, dia sudah tidak sabar ingin ada yang menyambutnya kala dia pulang bekerja.
Pastinya, dia sudah tidak sabar ingin... ah, pikiran Juki sudah mulai berkelana ingin bermain di taman yang indah dengan hamaparan rumput yang terlihat hijau.
Turun dari mobil, wajahnya terlihat begitu ceria. Banyak orang memandangnya dengan tatapan heran, namun tidak berani bertanya kepada Juki, kepala cabang dari tempat mereka bekerja itu.
"Sepertinya aku harus meminta Reni untuk mencari WO, aku ingin segera menikahi ibunya Putri," kata Juki saat dia tiba di dalam ruangannya.
*/*
Di lain tempat.
Yudha terlihat merapikan empat lukisan pesanan dari sebuah kantor properti di daerah selatan, dia merasa beruntung karena ada yang memesan jasanya .
Padahal dia hanya pelukis jalanan, namun Tuhan seakan begitu baik kepada dirinya. Dia bahkan menyewa mobil bak terbuka untuk membawa lukisan tersebut, karena dia tidak mau lukisannya sampai rusak kalau dibawa menggunakan motor.
"Permisi, Pak!" sapa Yudha kepada Security yang ada di kantor properti tersebut.
"Ya, ada perlu apa, ya?" tanya Security tersebut.
"Ini, Pak. Seminggu yang lalu Pak Gilang memesan lukisan kepada saya, katanya disuruh diantarkan langsung ke kantor ini." Yudha terlihat memberikan secarik kertas bertuliskan alamat kantor tersebut.
"Oh, iya bener. Ini alamat di sini, tunggu sebentar." Security tersebut nampak pergi untuk masuk ke dalam kantor.
Sepeninggal security tersebut, Yudha nampak duduk di salah satu sofa yang ada di lobi perusahaan tersebut.
Dia dengan sabar menunggu pemilik perusahaan itu datang menghampirinya, tak lama kemudian security tersebut nampak datang dengan seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahunan.
Wanita itu nampak terlihat begitu cantik dengan penampilannya yang begitu elegan, dia menghampiri Yudha dan langsung menyapanya.
"Selamat pagi Tuan Yudha, Pak Gilang pasti sudah meminta anda untuk membawa lukisannya kemari," kata wanita tersebut.
Yudha langsung bangun dari duduknya, kemudian dia membalas sapaan dari wanita tersebut.
"Selmat pagi, Ibu--"
__ADS_1
"Airin," jawabnya cepat.
"Ah, iya, Bu Airin. Lukisannya ada di luar, bisa ibu Airin periksa terlebih dahulu," kata Yudha.
"Boleh," kata Bu Airin.
Yudha terlihat berjalan terlebih dahulu keluar dari perusahaan tersebut diikuti oleh Bu Airin dan juga security yang berjaga di sana.
Tiba di depan lobi Yudha langsung memperlihatkan keempat lukisan yang sudah dipesan oleh pak Gilang, bu Airin nampak tersenyum kala melihat lukisan yang Yudha buat.
Lukisan itu terlihat begitu hidup, bu Airin merasa sangat cocok dengan lukisan yang dibuat oleh Yudha tersebut.
"Jadi, berapa harga semua lukisannya?" tanya Bu Airin.
"Harganya empat juta, Bu. Tapi sudah di DP sama pak Gilang dua juta, jadi ibu tinggal membayar saya dua juta lagi," kata Yudha.
Mendengar nominal harga dari Yudha, bu Airin nampak tercengang. Karena Yudha mematok lukisannya begitu murah, pikirnya.
Padahal jika dia memesan lukisan sebagus yang Yudha buat bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta.
"Apa itu tidak terlalu murah?" tanya Bu Airin.
Yudha tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, lalu dia berkata.
Bu Airin nampak menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Yudha, dia tidak menyangka jika lukisan buatan Yudha benar-benar sangat murah.
"Baiklah, nanti uangnya saya akan transfer, karena saya tidak mempunyai uang cash," ucap Bu Airin.
"Ya, Bu. Tidak masalah," jawab Yudha.
"Oh ya, Pak Yudha. Apakah boleh saya meminta tolong?" tanya Bu Airin.
"Ya, Bu. Boleh, ibu mau minta tolong apa?"
"Jadi begini, rencananya saya akan memasang lukisan-lukisan ini di Panti Asuhan milik saya. Bisakah anda sekalian mengantarkannya ke sana?" tanya Bu Airin.
"Tentu saja Bu, saya bersedia. Yang terpenting Ibu memberikan alamatnya," kata Yudha.
"Baguslah kalau Pak Yudha bisa membantu saya, kalau begitu saya ikut dengan Pak Yudha saja mengantarkan lukisannya ke Panti Asuhan milik saya. Bolehkan?" tanya Bu Airin
__ADS_1
Mendengarkan pertanyaan dari bu Airin, Yudha nampak tidak enak hati, wanita secantik dan berkelas seperti bu Airin mau satu mobil dengan dirinya.
Bahkan hanya menggunakan mobil bak terbuka, membuat Yudha benar-benar merasa tidak enak hati.
"Jangan, Bu. Saya takut Ibu kepanasan, masa Ibu malah naik mobil bak terbuka seperti ini," kata Yudha.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Yudha, bu Airin nampak tersenyum. Tidak masalah baginya menaiki mobil bak terbuka, pikirnya.
"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa berpanas-panasan dengan anak-anak Panti," ucapnya lagi seraya tersenyum hangat.
"Baiklah, Bu. Mari," ajak Yudha seraya membukakan pintu mobil untuk bu Airin.
"Terima kasih," ucap bu Airin.
Bu Airin nampak masuk ke dalam mobil bak terbuka tersebut, kemudian dia duduk dan memakai sabuk pengamannya.
Setelah memastikan jika bu Airin sudah duduk dengan nyaman, Yudha terlihat menutup pintu mobil tersebut.
Tak lama kemudian, dia menyusul masuk kedalam mobil dan segera melajukan mobil tersebut ke alamat yang disebutkan oleh bu Airin.
Saat di perjalanan menuju Panti, Ibu Airin meminta Yudha untuk memepikan Mobilnya di depan Mart.
Tentu saja Yudha menurut, setelah menepikan mobilnya ternyata bu Airin terlihat membeli makanan dan juga mainan yang begitu banyak untuk anak-anak Panti.
Yudha tersenyum melihat kelakuan wanita dewasa tersebut, menurutnya wanita itu terlihat begitu pengertian dan juga perhatian.
"Sudah selesai," kata Bu Airin.
Yudha nampak mengambil alih semua barang belanjaan dari tangan dmbu Airin, lalu dia menyimpannya di di belakang mobil bak terbuka yang dia bawa.
"Anak-anak pasti sangat senang dengan apa yang ibu beli untuk mereka," kata Yudha.
"Ya, mereka selalu senang dengan apa pun yang kita bawa, jika kita memberikan perhatian kecil saja terhadap mereka, mereka sudah merasa sangat senang dan merasa sangat diperhatikan," jawab Bu Airi
Setelah semuanya rapi, Yudha nampak melanjutkan perjalanannya menuju Panti. Tiba di Panti, Yudha terlihat menepikan mobil yang dia bawa.
Saat Yudha dan bu Airin keluar dari mobil bak tersebut, banyak anak-anak yang berlarian dan menghampiri bu Airin. Bahkan mereka terlihat memeluk bu Airin tanpa ragu.
"Ya ampun, mereka manis sekali!" kata Yudha.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
Selamat siang kesayangan, semoga kalian sehat selalu, banyak rezeky dan tidak lupa untuk meninggalkan jejak berupa like untuk Othor.