Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tanggung Jawab


__ADS_3

Pukul tujuh malam Ridwan, bu Sopia dan juga pak Lukman baru selesai melaksanakan shalat Isya. Mereka langsung duduk di ruang keluarga sambil menonton tv.


Pak Lukman duduk sambil merangkul pundak istrinya, sedangkan Ridwan merebahkan tubuhnya dengan kepalanya dia sandarkan di paha bu Sopia.


Saat sedang asik menonton tv, dari arah luar terdengar suara deru mobil yang berhenti. Ridwan, bu Sopia dan juga pak Lukman saling pandang. Lalu, mereka bangun dan segera berjalan menuju pintu utama.


"Siapa, Pak?" tanya Bu Sopia pada suaminya yang sedang mengintip di balik gorden.


"Kaga tahu, ada empat orang di luar. Dua laki, dua lagi perempuan. Tapi yang satunya kaya Bapak kenal," kata Pak Lukman.


"Mana sih? Aku penasaran," kata Bu Sopia.


Bu Sopia menggeser tubuh suaminya, lalu dia mengintip siapa yang datang.


"Itu mah mantan bininya si Juki, ngapain dia kemari?" tanya Bu Sopia.


Ridwan terlihat menarik tubuh Ibunya, lalu mendudukkannya di atas sofa yang berada di ruang tamu.


"Udah Emak sama Bapak duduk anteng aja sih. Entar kalau ada yang ngetok pin--"


Tok! Tok! Tok!


Belum juga Ridwan menyelesaikan ucapannya, pintu utama nampak ada yang mengetuk.


Ridwan, bu Sopia dan juga pak Lukman nampal saling pandang. Kemudian mereka tersenyum karena merasa konyol dengan apa yang telah mereka lakukan.


Ridwan kemudian membuka pintu utama, saat pintu terbuka nampaklah bu Airin, bi Imas, Yudha dan juga Sopir pribadi dari bu Airin.


"Selamat malam, maaf kalau saya mengganggu kamu. Boleh masuk?" tanya Bu Airin.


"Silakan!" jawab Ridwan seraya melebarkan pintunya.


Bu Airin nampak tersenyum, kemudian dia masuk di susul bi Imas, Yudha dan juga pak Sopir.


Bu Sopia nampak bangun, kemudian dia mempersilakan tamunya untuk duduk.


"Duduklah!" titah bu Sopia.


Untuk sesaat ruangan tersebut nampak hening, tak ada yang berani memulai untuk berbicara.


Apalagi Ridwan, dia nampak terdiam. Sesekali dia melirik kearah bu Airin yang terlihat terus menatapnya dengan intens.

__ADS_1


Berbeda dengan pak Lukman, dia memang diam. Namun tatapan matanya terus saja tertuju kepada wajah bu Airin, bu Sopia bahkan sampai memukul lengan pak Lukman yang tiada hentinya menatap wajah bos dari anaknya tersebut.


"Bapak!" sentak Bu Sopia.


"Maaf, Ayang. Abang tidak bermaksud, hanya saja Abang seperti mengenal wajah Bu Bos," kata Pak Lukman.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Lukman, semua orang terlihat menatap wajahnya. Pak Lukman menjadi salah tingkah dan mengelus lembut tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin.


Apalagi saat melihat tatapan dari bu Sopia yang terkesan sangat horor, ingin rasanya dia mengubur dirinya dengan bongkahan berlian.


"Ehm, maaf. Kalau kedatangan saya mengganggu, ada hal penting yang harus saya sampaikan!" kata Bu Airin pada akhirnya.


"Iya, Bu bos. Katakan saja!" Bu Sopia menyahuti.


"Begini Bu, Pak. Kedatangan saya kesini untuk meminta pertanggungjawaban dari Ridwan, makanya saya mengajak ketiga orang kepercayaan saya untuk menjadi saksi," kata Bu Airin.


Mata bu Sopia dan juga pak Lukman langsung membulat dengan sempurna ketika mendengar apa yang diucapkan oleh bu Airin.


Tatapan mata pak Lukman dan juga bu Sopia nampak tertuju kepada Ridwan.


"Elu buntingin anak orang, Wan?" celetuk Pak Lukman.


"Lah terus! Ngapa Bu Bos, minta pertanggungjawaban elu? Emangnya elu habis ngapain dia?" tanya Bu Sopia.


Ridwan bingung harus menjawab pertanyaan dari bu Sopia seperti apa, beruntung bu Airin langsung menjawab.


"Begini Bu, Pak. Kemarin saya dijebak oleh mantan pacar saya, dia memberikan obat perangsang di dalam makanan yang saya makan. Beruntung kemarin ada Ridwan yang yang membantu saya untuk pulang ke apartemen, namun saat di apartemen obat tersebut bereaksi. Saya hilang kendali dan--"


Belum juga bu Airin menuntaskan ucapannya, namun bu Sopia langsung menyelak.


"Maksud Bu Bos, bagaimana? Anak saya *****-***** badan Bu Bos gitu? Apa anak saya melecehkan gitu? Apa pegimana?" tanya bo Sopia tidak sabar.


Bu Airin tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Tidak seperti itu, Bu. Justru Ridwan berusaha untuk tidak menyentuh saya, namun dia sudah melihat keadaan tubuh saya tanpa sehelai benang pun, jadi saya mau meminta pertanggungjawaban Ridwan untuk menikahi saya," jawab Bu Airin.


Bu Sopia dan juga pak Lukman nampak bisa bernapas dengan lega setelah mendengar apa yang dikatakan oleh bu Airin, karena ternyata anaknya tidak memanfaatkan situasi genting seperti yang dialami oleh bu Airin.


"Maaf ya, Bu. Maaf banget ini mah, tapi' kan anak saya kagak ngapa-ngapain. Terus kenapa dimintai pertanggungjawaban?" tanya Pak Lukman.


"Ya, dia memang tidak melakukan apa pun terhadap saya. Tapi, saya ini masih gadis dan Ridwan adalah lelaki pertama yang melihat tubuh saya," kata Bu Airin.

__ADS_1


Tatapan mata bu Sopia dan pak Lukman terlihat beradu pandang, bu Sopia seolah bertanya harus melakukan apa.


Pak Lukman terlihat memalingkan wajahnya dan menatap Ridwan, yang di tatap hanya terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa pun.


"Wan! Kamu harus menikahi saya, mau kan?" tanya Bu Airin.


Ridwan yang sedari tadi menunduk, memberanikan diri untuk menatap wajah bu Airin. Dia tersenyum, kemudian bertanya.


"Kenapa Ibu harus memilih saya sebagai suami ibu? Padahal saya hanya orang biasa, saya memang sudah melihat keadaan ibu tanpa memakai apa-apa. Tapi, tidak terjadi apa-apa diantara kita, Ibu masih bebas memilih siapa pun untuk menjadi suami," jelas Ridwan.


"Justru karena kamu tidak menyentuh saya, saya jadi yakin untuk meminta kamu menikahi saya," kata Bu Airin dengan senyum manisnya.


Senyum yang sudah lama hilang semenjak kedua orang tuanya meninggal, senyum yang sangat dirindukan oleh bi Imas dan juga pak Sopir. Karena majikannya sudah sangat lama tidak tersenyum.


"Maudy!" celetuk Pak Lukman.


Mendengar pak Lukman menyebutkan nama bundanya, bu Airin langsung memicingkan matanya seraya menatap tajam kearah pak Lukman.


"Bapak mengenal almarhumah bunda saya?" tanya Bu Airin.


Mendengar pertanyaan dari bu Airin, pak Lukman nampak melirik ke arah bu Sopia. Kemudian, dia terlihat menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


"Anu, itu. Iya, saya mengenalnya," jawab pak Lukman.


Melihat gelagat aneh dari raut wajah pak Lukman, bu Airin jadi mengingat kala bundanya pernah bercerita, jika saat SMA dia memiliki pacar.


Namun, karena pacarnya berasal dari keluarga biasa. kakeknya bu Airin berusaha memisahkan bundanya dengan pacarnya tersebut.


Bahkan di usia yang baru saja beranjak 18 tahun, bundanya sudah dinikahkan dengan lelaki pilihan dari kakeknya bu Airin.


Hal itu sengaja dilakukan agar bunda Maudy tidak berhubungan lagi dengan pacarnya itu.


"Jangan bilang kalau Bapak mantan pacar bunda saya saat SMA?" tanya Bu airin.


Pak Lukman tidak menjawab pertanyaan dari bu Airin, apalagi saat melihat tatapan mata dari bu Sopia yang terlihat begitu tajam dan menusuk ulu ati.


BERSAMBUNG....


Hayo, kira-kira bagaimana kelanjutannya?


Tunggu besok lagi, ya guys....

__ADS_1


__ADS_2