Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Bertemu


__ADS_3

Setelah 3 hari mendapatkan perawatan, akhirnya Putri sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja karena keadaannya sudah sangat baik.


Setelah mengurus surat administrasi, Jesicca langsung membawa Putri untuk pulang. Dia nampak dengan penuh kasih sayang menggendong putrinya.


Bi Minah dengan setia mengikuti Jesicca sambil membawa perlengkapan Putri, tiba di depan Rumah Sakit dia langsung mencegat taksi.


Karena kini dia membawa serta Putri, tidak mungkin dia harus membiarkan putrinya kepanasan dengan menaiki ojek online.


Tiba di rumahnya, dia pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Menidurkan Putri di atas ranjang yang biasa dia tiduri.


Untuk sesaat Jesicca nampak terdiam, dia duduk di bibir tempat tidur sambil memperhatikan wajah putrinya.


Dia bingung harus berbuat apa saat ini, dia benar-benar takut jika sebentar lagi dia tidak akan mempunyai tempat tinggal.


Karena Yudha sudah membawa sertifikat rumah tersebut, andai saja benar yang Yudha katakan jika rumahnya hanya digadaikan.


Namun, jika rumah tersebut dijual, dia benar-benar bingung harus tinggal di mana. Dia sudah tidak punya tempat tinggal lagi selain di rumah itu.


Karena sebelum menikah dengan Yudha pun, dia hanya anak rantau yang mencoba mencari peruntungannya di ibu kota, karena kedua orang tuanya sudah meninggal.


"Nyonya, persediaan di dapur surah tidak ada." Bi Minah menghampiri Jesicca.


"Ah, iya, Bi. Maaf," kata Jesicca.


Jesicca lalu mengambil dompetnya dan memberikan uang Rp200.000 kepada bi Minah, mulai saat ini dia harus benar-benar menghemat keuangannya, karena dia sudah tidak bisa mengandalkan Yudha lagi.


"Segitu cukupkan Ya bi, untuk satu hari?" tanya Jesicca.


"Untuk dua hari pun cukup, Nyonya. Kita beli yang murah-murah saja," ucap Bi Minah.


Bi Minah sangat tahu jika keadaan Jesicca sekarang sedang tidak baik-baik saja, keuangannya pun benar-benar menipis. Sebisa mungkin dia akan mengatur uang tersebut agar bisa terpakai selama dua hari.


Sebenarnya dia merasa iba kepada Jesicca, makanya dia tak memutuskan untuk pergi dari sana.


Kalau mengikuti egonya, dia ingin sekali pulang kampung. Lagi pula tabungannya selama bekerja di rumah Larasati sudah lumayan banyak.


Anaknya pun sudah menikah dan berumah tangga, jadi uangnya selalu utuh selama ini. Dia ingin pulang dan membangun usaha kecil-kecilan di kampung.


Namun, dia tak tega saat melihat wajah Jesicca dan juga Putri. Apa lagi semenjak Putri lahir, bi Minah' lah yang lebih sering menggendong Putri, rasanya Putri sudah seperti cucunya sendiri.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Bi Minah.


"Ya, Bi," jawab Jesicca.

__ADS_1


*/*


Di rumah kontrakan milik Leana, Yudha terlihat masih memeluk tubuh polos Leana. Mereka baru saja menyelesaikan kegiatan panas mereka.


Hari ini Leana tak ada jadwal kuliah, sehingga keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu di atas tempat tidur.


"Sayang, nanti malam kita makan di luar, ya? Kamu, kan, habis dapet duit banyak," rengek Leana manja.


"Boleh dong, Sayang." Yudha terlihat meremat dada Leana.


Leana terlihat memelentingkan tubuhnya, dia langsung bangun dan memainkan milik Yudha. Dia usap dan dia kulum dengan lembut.


Yudha suka sekali saat Leana melakukannya, dia begitu pandai dalam urusan ranjang. Bahkan dia selalu agresif dan mendominasi dalam pergulatan panas mereka.


Leana seakan tak ada capenya, bahkan saat awal Yudha melakukannya dengan Leana. Dia benar-benar kaget sekaligus kagum dengan cara dia bermain.


(Kalau kata Othor mah, si Leana teh Hyperr, jigana)


"Aduh, Yang." Yudha langsung menarik lembut rambut Leana.


Leana suka jika Yudha melakukan hal itu, bahkan dia sangat suka jika Yudha bermain kasar terhadapnya.


"Kenapa? Sudah tidak tahan ya?" tanya Leana.


"He'em," jawab Yudha seraya memejamkan matanya.


Dia tak kuat dengan sensasi kenikmatan yang baru saja dia rasakan, karena Leana kini sudah menyatukan tubuh mereka.


Bahkan, Leana sudah mulai menggoyangkan pinggulnya dengan kedua tangannya yang bergerak aktif meremat kedua dadanya.


Padahal belum lama mereka melakukannya, namun Leana seolah tak ada puasnya. Bahkan dia sering kali membangunkan milik Yudha dan bermain di atasnya.


Yudha sudah seperti alat bantu mainan seksuall hidup baginya, berguna, memuaskan dan menghasilkan. Benar-benar sempurna untuk seorang Leana.


*/*


Malam harinya Yudha benar-benar mengajak Leana makan malam di sebuah Resto ternama, mereka terlihat begitu mesra.


"Makan yang banyak, Sayang," kata Yudha.


"Ya, Sayang." Leana mengerling nakal pada Yudha.


"Ya ampun, jangan lakukan hal itu. Nanti aku bisa tidak tahan," kata Yudha.

__ADS_1


Leanna hanya terkekeh mendengar penuturan dari Yudha, lelaki pencetak uangnya.


"Sudahlah, Sayang. Jangan bicara terus, sekarang kita nikmati dulu makanannya. Setelah itu kita pulang, aku masih pengen," kata Leana.


"Ya ampun, Sayang. Bagaimana aku mau memulai usahaku, jika kamu terus mengurung aku dalam gulungan kenikmatan?" kata Yudha.


"Kamu pikirin dong, usaha apa yang bikin kamu banyak uang tapi ngga menyita banyak waktu. Aku ngga mau loh kalau pas pengen, tapi kamunya ngga ada," kata Leana.


"Ya ampun, candu banget kamu kayaknya sama milik aku," kata Yudha seraya terkekeh.


Setelah terjadi obrolan antara Yudha dan juga Leana, akhirnya mereka pun memutuskan untuk menikmati acara makan malam mereka.


Saat sedang asyik menyantap makan malam, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang berlari dan memeluk pinggang Yudha sambil mendongakkan kepalanya.


"Papa!" teriaknya.


"Satria, kamu sama siapa kesininya, Sayang?" tanya Yudha.


"Sama, Buna sama Daddy Jo," jawab Satria seraya menunjuk ke arah Larasati dan Jonathan.


Ternyata Larasati dan Jonathan pun sedang menikmati makan malam mereka di Restoran tersebut.


Larasati terlihat duduk tak jauh dari tempat Yudha, untuk sesaat Yudha terlihat terdiam sambil menatap wajah Larasati yang terlihat begitu cantik malam ini.


Semakin hari di matanya Larasati terlihat semakin cantik saja, rasa sesal muncul di dalam hatinya yang paling dalam.


"Mas, anak kecil itu siapa sih, Mas? Kok ngomongnya pentes (jelas) banget begitu. Padahal kayaknya umurnya baru 2 tahunan, terus kenapa dia bisa panggil kamu Papa?" tanya Leana.


Yudha terlihat mengangkat tubuh kecil Satria, lalu dia mendudukkannya di atas pangkuannya. Yudha lalu mengecupi setiap inci wajah Satria.


Satria terlihat sangat senang sekali mendapatkan perlakuan seperti itu dari Yudha, karena walau bagaimanapun juga, mereka memang memiliki ikatan batin yang kuat, tak ada yang namanya bekas anak.


Jujur saja dia begitu merindukan putranya itu, apa lagi melihat wajah Satria yang begitu mirip dengan Larasati.


"Dia putraku, dari istri pertama aku," ucap Yudha bangga.


"Oh," jawab Leana. Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.


Yudha sempat melirik ke arah Jonathan, dia masih ingat akan lelaki itu. Lelaki yang pernah memperingati dirinya sebelum dia pergi bersama Larasati.


'Gue mencintai Larasati, tapi gue ngga bisa maksain perasaan gue sama dia. Karena dia lebih milih elu, dari pada gue. Tapi, jika suatu saat elu bikin dia menderita, gue adalah orang pertama yang akan maju untuk menyembuhkan lukanya.' Kata Jonathan kala itu.


"Ternyata, dia membuktikan ucapannya," ucap Yudha lirih.

__ADS_1


__ADS_2