
'Ya Tuhan! Lindungilah hamba dari lelaki yang kini berada di hadapan hamba,' do'a Kinara dalam hati.
"Kerjakan saja tugasmu, tidak usah menatapku dengan tatapan seperti itu!" kata Lelaki itu tanpa menoleh.
Kinara begitu kaget saat mendengar suara berat pria dewasa itu, dia bahkan sampai menegakkan tubuhnya.
"Si--siapa yang manatap anda? Geer," kata Kinara mencoba untuk menutupi kegugupannya.
Pria dewasa itu nampak mematikan ponselnya, lalu dia menyimpan ponselnya itu ke dalam saku celana yang dia pakai. Dia nampak memandang wajah Kinara dengan lekat.
"Kenapa anda menatap saya seperti itu, Om?" tanya Kinara.
Pria itu nampak kaget dengan panggilan yang Kinara ucapkan pada dirinya, dia tidak suka dengan sebutan itu.
"What? Aku ini hanya pria dewasa, aku tampan dan gagah. Kenapa kamu memanggilku, Om?" tanya lelaki dewasa itu.
Kinara terlihat kaget dengan respon dari pria itu, dia nampak menunduk dan meremat kedua tangannya secara bergantian.
"Tapi anda memang terlihat tua, walaupun anda sangat tampan!" ceplos Kinara.
Setelah mengatakan hal itu Kinara langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dia takut jika pria dewasa yang ada di hadapannya itu akan semakin marah terhadap dirinya.
Apalagi kini pria itu nampak melototkan matanya, dia seolah tidak percaya dengan apa yang Kinara ucapkan terhadap dirinya.
Pria dewasa itu nampak bangun, lalu dia menghampiri Kinara dan duduk tepat di samping Kinara.
Dia terlihat menatap wajah Kinara dengan lekat, mendapatkan tatapan seperti itu dari pria yang ada di hadapannya, Kinara nampak memundurkan tubuh dan wajahnya.
"Ja--jangan menatapku seperti itu, Om. Anda sangat menyeramkan," kata Kinara.
Pria itu nampak mendengus, Kinara sudah memanggilnya dengan sebutan om. Lalu apa lagi ini, Kinara menyebut dirinya menyeramkan.
Pria itu nampak menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia benar-benar merasa kesal kepada Kinara, gadis kecil yang berada di hadapannya.
"Jangan memanggilku dengan sebutan Om, karena aku bukan Om kamu, panggil aku Mich!" sentak lelaki dewasa itu.
Sontak Kinara terlihat gelagapan, bahkan dia terlihat berkata dengan tidak jelas karena merasa kaget dengan apa yang dikatakan oleh Mich.
"Iya, Om Mich! Eh, Kakak. Eh, Mich!"
Kinara sungguh merasa gugup luar biasa saat mendapatkan tatapan tajam dari pria dewasa tersebut, jika saja ada Doraemon, dia ingin sekali meminta pintu kemana saja agar dia bisa segera pergi dari sana.
__ADS_1
"Cukup panggil Mich!" kata lelaki tersebut.
"Kedengaran tidak sopan, tapi dia pasti marah kalau aku tidak menurutinya. Dasar lelaki tua tidak tahu diri," keluh Kinara dengan suara yang sangat pelan.
Mich yang tidak begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara langsung bertanya, takut-takut Kinara sedang mengumpat.
"Bicara apa kamu, hem?" tanya Mich.
"Tidak ada, hanya saja anda terlalu dekat dengan aku. Bisakah anda duduk kembali di sana!" tunjuk Kinara pada tempat asal di mana Mich duduk.
Mike mengikuti telunjuk Kinara yang mengarah ke arah seberang darinya, dia tersenyum lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hem," jawab Mich.
Mich langsung bangun dan kembali duduk di sofa yang berada tepat di hadapan Kinara, Kinara terlihat bisa bernapas lega seraya mengelus dadanya.
Mich memang duduk anteng tanpa mengganggu Kinara, tapi tatapan mata pria itu tetap saja tidak beralih dari wajah Kinara.
Hal itu membuat Kinara kesal sekaligus dia bingung dan juga canggung, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Kinara memutuskan untuk menutup laptopnya, dia tidak ingin lagi memeriksa berkas yang ada di sana karena pikirannya sudah terasa kacau.
Lalu, dia mencoba mencari ponsel miliknya. Sayangnya ponsel miliknya ternyata tidak ada, bahkan tas selempang yang biasa dia bawa saja tidak ada di sana.
Dia hanya bisa menggerutu di dalam hatinya seraya mengkerucutkan bibirnya, dia tidak ingin dapat masalah dengan pria yang kini ada di hadapannya.
"Kenapa malah bengong? Kerjakan saja tugasmu!" kata Mich.
"Aku bosan," kata Kinara. 'Karena ada dirimu di sini, Om rese!' sambung Kinara dalam hati.
"Kalau begitu buatkan aku kopi," kata Mich.
"Hey! Aku bukan OB," keluh Kinara.
"Aku ini tamu, setidaknya perlakukan tamu dengan baik. Aku memintamu membuatkanku kopi bukan berarti menganggap kamu OB, tapi justru aku menghargaimu sebagai anak dari pemilik perusahaan ini," kata Mich panjang kali lebar.
"Terserah!" kata Kinara pada akhirnya.
Kinara terlihat bangun dan segera berjalan menuju keluar dari ruangan Angga, tentu saja tujuan utamanya adalah pantri.
Tiba di pantri dia langsung mengambil cangkir, lalu menuangkan dua sendok teh kopi hitam. Saat dia akan mengambil gula, tangannya yang jahil malah mengambil dua sendok teh garam.
__ADS_1
Setelah melakukan hal itu Kinara nampak menyeringai, lalu dia menuangkan air panas dari termos.
"Rasakan pembalasanku om RESE!" gumam Kinara.
Setelah membuatkan kopi untuk Mich, Kinara langsung keluar dari pantri dan masuk kembali ke dalam ruangan milik Angga.
Dia tersenyum hangat ke arah Mich, lalu menyimpan kopi pesanan Mich di atas meja. Setelah itu, dia nampak duduk tepat di hadapan Mich.
"Silakan dinikmati, Om. Eh? Mich," kata Kinara dengan senyum manisnya.
Melihat senyum manis yang mengembang di bibir Kinara, bukannya merasa senang tapi Mich malah terlihat memicingkan matanya ke arah Kinara.
Melihat reaksi dari Mich, sontak Kinara langsung melayangkan protesnya karena dia merasa tidak suka.
"Eh? Kenapa Om memandangku seperti itu? Seharusnya Om merasa senang karena aku sudah membuatkan kopi untukmu, kopi yang sudah kamu inginkan sejak tadi," kata Kinara.
"Sudah aku katakan jangan memanggilku Om," Kata Mich.
"Oh ya, maaf Mich. Kalau begitu silakan dinikmati kopinya," kata Kinara.
Dengan tegas Mich langsung menggelengkan kepalanya, dia malah menatap ke arah Kinara dengan tatapan penuh curiga.
"Apa yang kau masukkan ke dalam kopiku?" tanya Mich.
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Mich, sontak Kinara langsung menggelengkan kepalanya.
Dia tidak menyangka jika mereka akan menanyakan hal itu, padahal pria itu tidak melihat dirinya saat membuat kopi.
Akan tetapi, pria dewasa di hadapannya seakan tahu apa yang sudah Kinara lakukan di belakang pria itu.
'Apakah pria di hadapanku ini mempunyai mata batin? Kenapa dia bisa menanyakan tentang hal itu?' batin Kinara.
"Hey! Kenapa diam saja, cepat katakan! Kamu pasti menyimpan sesuatu di dalam kopiku!" kata Mich.
"Tidak, Mich. Aku serius aku tidak menyimpan apa pun di dalam kopimu," kata Kinara seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya tinggi-tinggi.
"Aku tidak memercayaimu gadis kecil, kalau memang kamu tidak menaruh apa pun di dalam kopiku, sekarang cicipi kopinya," pinta Mich.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mich, Kinara langsung memelototkan matanya. Dia tidak menyangka dengan apa yang diminta oleh lelaki yang kini ada di hadapannya tersebut.
"Sudah kuduga!" kata Mich.
__ADS_1
***//
Selamat pagi Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki selamat beraktifitas selamat menghadapi hari Senin.