Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 28


__ADS_3

Selama perjalanan menuju rumah Juki, Satria terlihat menekuk wajahnya. Selama lima tahun ini dia begitu merindukan Rachel, wanita yang selalu menjadi biang rusuh untuk dirinya.


Wanita yang selalu berusaha untuk mendekatinya dan selalu berkata jika dia begitu mengagumi Satria.


Namun, pada kenyataannya saat pertama bertemu Satria sudah merasa kecewa. Dia benar-benar kecewa saat melihat Rachel yang begitu akrab dengan seorang lelaki yang bernama Reon.


Satria terlihat mengingat-ingat wajah Reon, mungkin saja dia pernah melihat orang tersebut, hanya saja dia lupa.


Namun, sayangnya Satria tidak pernah merasa bertemu dengan Reon. Kepalanya kink terasa sakit jika memilirkan Rachel.


Padahal, selama ini Satria selalu bersikap cuek kepada Rachel bukan karena tidak peduli.


Namun, Satria merasa jika Rachel masih sangat kecil saat mengatakan cinta kepada dirinya.


Waktu itu usia Rachel baru tiga belas tahun, rasanya sangat tidak pantas jika Satria menganggap serius ucapan dari Rachel.


Walaupun pada kenyataannya Satria juga menyukai Rachel, Rachel memang berisik dan terkesan cerewet.


Namun, kelakuan Rachel yang seperti itu yang selalu bisa membuat Satria tersenyum. Bahkan wajah Rachel selalu saja terbayang-bayang di benaknya.


Selama lima tahun dia bersekolah di luar negeri saja, tidak pernah sekalipun melirik wanita lain. Karena di hatinya sudah ada nama Rachel.


"Ck! Dia menyebalkan sekali, sudah punya pacar tapi malah tetap deket-deket sama aku," kata Satria lirih.


"Ada apa, Den?" tanya Pak Sopir.


"Eh? Tidak apa-apa," jawab Satria.


Pak sopir hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dari Satria. Namun, pak sopir sangat paham jika saat ini Satria sedang kecewa terhadap Rachel.

__ADS_1


Sungguh pak sopir merasa ingin tertawa saat melihat tingkah anak muda jaman sekarang, bukannya bertanya terlebih dahulu dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi, Satria malah terkesan menghindari.


"Sudah sampai, Den," kata Pak Sopir.


"Oh iya, terima kasih," kata Satria.


Satria terlihat membuka pintu mobil tersebut, lalu dia turun dengan tergesa. Dia sudah sangat rindu dengan Putri, walaupun hatinya kini terasa tidak nyaman.


Namun, tetap saja rasa rindunya terhadap Putri begitu besar. Dia merasa jika rasa kecewanya terhadap Rachel harus dia lupakan terlebih dahulu.


"Assalamualaikum!"


Satria terdengar mengucapkan salam saat tiba di depan rumah Juki, tidak lama kemudian terdengar suara sahutan dari dalam.


"Waalaikum salam!"


Putri langsung tersenyum lebar, lalu dia melompat dan memeluk tubuh Satria dengan erat.


"Abang! Putri rindu, Abang tahu? Sekarang Putri kuliah sambil bekerja," adu Putri.


"Abang juga rundu, kamu bekerja, De?" tanya Satria.


"Baru setengah tahun, Bang." Putri melerai pelukannya, kemudian dia mengajak Satria untuk duduk di sofa yang ada di teras.


"Kamu kok ngga pernah bilang sama Abang?" tanya Satria.


"Maaf, Bang. Lagian Abang juga sibuk, Abang kuliah sambil bantuin ayah Angga," kata Putri.


Ya, selama kuliah memang Satria selalu menyempatkan diri untuk terjun langsung di perusahaan milik om Hendry.

__ADS_1


Hal itu sengaja dilakukan oleh Angga sebagai bentuk pelatihan agar di saat pulang ke tanah air Satria sudah benar-benar siap memimpin perusahaan Dinata.


"Ngga apa-apa, De. Oiya, kenapa kamu malah bekerja? Memangnya Om Julian tidak memberikan uang jajan?" tanya Satria.


Putri terlihat menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, bagaimana mungkin Juki yang begitu menyayangi dirinya tidak memberikan uang jajan untuk dirinya.


Juki adalah sosok ayah sambung yang sangat baik, hanya saja dia ingin hidup dengan mandiri. Dia ingin punya penghasilan sendiri.


Lagi pula dia sudah berjanji kepada Juki, jika dirinya akan mengumpulkan uang yang banyak dan akan membangun rumah tepat di samping rumah milik Juki.


"Uang jajan yang diberikan Baba sangat banyak, tapi Putri bosan jika harus tinggal di rumah terus. Alex dan Ansel sudah masuk perguruan tinggi, mereka ka sibuk Putri kesepian," kata Putri sendu.


Ya, Alex dan juga Ansel kini sudah kuliah, jika pulang kuliah mereka akan mengerjakan hal yang mereka senangi.


Putri menjadi jarang bertemu dengan kedua adik kembarnya tersebut, kecuali saat malam tiba. Saat makan malam dan sebelum tidur.


Hal itu membuat dia bertekad untuk bekerja saja, selain menghasilkan uang yang banyak, dia juga tidak merasa kesepian lagi.


"Mereka pasti sudah sangat besar, sama seperti Rachel. Mereka seumuran bukan?" tanya Satria.


"Ya, mereka sekolah di tempat yang sama," jawab Putri.


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri, Satria jadi merasa jika dia bisa menanyakan soal Reon terhadap Putri.


Akan tetapi, niatnya dia urungkan. Takutnya Putri akan curiga jika dirinya menyukai Rachel, Satria belum siap.


***


Masih berlanjut, kalau sempat malam up lagi.

__ADS_1


__ADS_2