Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tak Percaya


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun Yudha belum juga pulang ke rumahnya. Biasanya pukul 8 malam Yudha sudah sampai di rumahnya, namun kali ini dia belum menampakan batang hidungnya.


Hal itu membuat Jesicca gelisah, Jesicca menatap wajah Putri yang terlihat begitu lelap dalam tidurnya. Dia merasa tenang untuk meninggalkan Putri, karena dia ingin menunggui suaminya.


Jesicca pun mengambil ponselnya dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, tiba di ruang tamu dia duduk sambil berselancar dengan ponselnya.


Sebenarnya hari ini dia sangat lelah sekali, karena setelah menjual perhiasannya dia membeli beberapa peralatan yang dia butuhkan untuk berjualan nanti.


Dia bahkan sudah berkeliling kompleks siang tadi dan ternyata di sana belum ada yang menjual kebab, Jesicca pun berniat untuk menjual kebab dan minuman boba.


Karena menurutnya, minuman tersebut sedang tren dan pasti akan laku jika dia menjualnya.


"Lelah sekali," kata Jesicca seraya menguap.


Sudah hampir satu jam Jesicca menunggu Yudha, suaminya. Namun ternyata lelaki itu tak kunjung pulang, karena penasaran akhirnya Jesicca pun memutuskan untuk menelepon suaminya tersebut.


Sayangnya sudah berkali-kali dia menelpon suaminya, namun panggilan telepon darinya tak pernah diangkat. Jesicca pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya, kemana sebenarnya suaminya itu?


"Kamu kemana sih, Mas? Kenapa belum pulang juga?" tanya Jesicca lirih.


Karena takut Putri terbangun, Jesicca pun memutuskan untuk menunggui suaminya di dalam kamarnya.


Jesicca terlihat memperhatikan wajah Putri yang terlihat begitu mirip dengan Yudha, dia pun tersenyum kecut kala mengingat semua kejadian yang tak mengenakan menimpanya.


"Lebih baik aku tidur saja, mungkin Mas Yudha sedang lembur," kata Jesicca.


Karena merasa sangat lelah, Jesicca terlihat merebahkan tubuhnya. Lalu, dia berusaha untuk memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, dia pun terlihat terlelap dalam tidurnya. Namun, baru saja dia masuk ke alam mimpinya, dia mendengar pintu kamarnya terbuka.


Jesicca pun membuka matanya, benar saja... Yudha terlihat masuk ke dalam kamar mereka. Dia berjalan dengan perlahan, lebih tepatnya seperti seorang maling yang takut akan ketahuan.


Hal itu membuat Jessica bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Yudha berjalan dengan sangat pelan sekali?


"Mas!" panggil Jesicca.


Mendengar panggilan dari istrinya, Yudha terperanjat kaget. Bahkan dia sampai memegangi dadanya.


Jessica sempat melihat jam digital yang berada di atas nakas, waktu menunjukkan pukul jam 23.30 malam.


"Mas dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Jesicca lagi.

__ADS_1


"Anu, Mas habis membantu Rendy di Restoran. Iya, membantu Rendy di Resto," jawab Yudha gugup.


"Mas kenapa jadi aneh gitu? Itu bajunya kenapa kusut banget begitu? Mas abis ngapain sih?" tanya Jesicca.


"A--aku membantu mengangkat persediaan bahan, lumayan dapet uang tambahan." Yudha terlihat mengusap dahinya yang berkeringat.


"Oh, pantes masih berkeringat kaya gitu. Mandi gih, terus tidur. Pasti kamu lelah," kata Jesicca.


"I--iya," jawab Yudha terbata.


Yudha terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan tergesa, sampai di dalam kamar mandi, dia langsung melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya.


Lalu, dengan cepat dia mencuci baju yang seharian ini dia pakai. Sebenarnya setelah menikah dengan Larasati, dia sudah tidak pernah mencuci bajunya sendiri.


Namun, dia takut jika Jesicca akan curiga, makanya dia pun segera mencuci bajunya. Apa lagi saat melihat bajunya ada bekas noda lipstiknya, Yudha pun buru-buru menuangkan bubuk deterjen yang banyak.


Setelah mencuci bajunya, Yudha pun segera mengguyur tubuhnya dan menggosoknya dengan sabun yang banyak. Dia tidak mau jika sampai Jesicca merasa curiga padanya.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Yudha pun segera memakai piyama tidurnya, lalu dia pun merebahkan tubuhnya dan memeluk Jesicca, istrinya.


Jessica langsung membuka matanya, karena merasa terganggu dengan rasa dingin dari tubuh Yudha.


"Mas, masa nifasku sudah habis loh. Mas mau?" tanya Jesicca.


"Kenapa kaget seperti itu? Aku tahu Mas pasti pengen, aku siap ko!" kata Jesicca.


Jesicca bahkan menyempatkan waktu ke bidan untuk KB, takut-takut Yudha akan meminta haknya.


"Mas tahu kamu lelah, tidurlah!" kata Yudha.


Setelah mengucapkan hal itu, Yudha langsung memejamkan matanya. Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus dari bibirnya. Jesicca jadi merasa aneh, karena menurutnya Yudha tak pernah seperti itu.


"Kenapa kamu berubah, Mas?" tanya Jesicca lirih.


Jesicca nampak memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


*'*


Pagi telah menjelang langit yang terlihat gelap kini berubah menjadi terang. Larasati berniat untuk menghabiskan hari ini bersama dengan putranya, dia ingin mengajak putranya untuk jalan-jalan.


Biarlah dia tak mengunjungi Resto, karena ada Rendy yang dia percaya. Biarlah dia tak mengunjungi Cafe, karena ada Angga yang kini fokus untuk membantu dirinya mengelola Cafe.

__ADS_1


Bahkan Bi Narti pun ikut membantu Angga dalam mengelola Cafe, dia beralasan tak mau ditinggalkan di rumah milik Larasati.


"Pagi, Sayang." Larasati langsung mengecup kening putranya yang kini sedang sarapan bersama dengan Oma'nya.


"Pagi, Buna," jawab Satria.


"Kamu hari ini jadi libur, kan?" tanya Nyonya Meera.


"Jadi dong, Mom. Aku mau ngajakin Satria jalan-jalan," jawab Larasati.


"Iya, kamu memang harus banyak meluangkan waktu untuk berkumpul bersama dengan keluarga," kata Nyonya Meera.


"Yes, Mom," jawab Larasati.


"Pagi sayang-sayangnya aku," kata Tuan Elias.


Tuan Elias terlihat menghampiri Nyonya Meera, Larasati dan Satria. Kemudian dia pun mengecup kening mereka secara bergantian.


Setelah kedatangan Tuan Elias, akhirnya mereka pun melakukan sarapan bersama. Sesekali mereka terlihat tertawa dan bercanda.


Tentu saja hal itu karena adanya Satria, tuan Elias dan nyonya Meera terlihat begitu senang sekali. Karena mereka bisa berkumpul kembali dengan putri kesayangannya dan juga cucunya.


Selepas sarapan, mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga. Mereka menikmati teh hangat dan juga camilan yang sudah dibuatkan oleh nyonya Meera sendiri.


Saat mereka sedang asyik berkumpul bersama, tiba-tiba saja Jonathan datang membawa dua kantong besar di tangannya.


"Assalamualaikum," sapa Jonathan.


"Waalaikum salam,"


"Jo, apa yang kamu bawa?" tanya Larasati.


"Camilan dan juga mainan untuk calon putraku," jawab Jonathan.


"Jo!" Larasati terlihat menatap Jonathan dengan tatapan tajamnya.


Jonathan langsung terkekeh melihat ekspresi wajah Larasati, menurutnya itu sangat berlebihan.


"Aku ingin menjadi Ayah untuk Satria, kalau kamu tidak mau jadi istriku tak apa." Dengan santainya Jonathan langsung menghampiri Satria dan memberikan dua kantong besar yang dia bawa kepada bocah lelaki tersebut.


"Telima kasih, Daddy," kata Satria.

__ADS_1


"What?" Larasati terlihat kaget saat mendengarkan putranya memanggil Jonathan dengan sebutan Daddy.


__ADS_2