Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Menyebalkan


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktunya bersama Satria, Angga pun pergi menuju pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan kue.


Angga memang lebih suka membeli bahan kue di pasar, agar dia bisa sekalian membeli buah-buahan yang masih segar dan baru dikirim dari petaninya langsung.


"Sudah selesai," ucap Angga seraya merapihkan barang belanjaannya kedalam bagasi.


Tak lama kemudian Angga pun masuk kedalam mobilnya dan melajukannya menuju Cafe, dia menyetir seraya tersenyum kala mengingat kebersamaannya dengan Satria.


Tak lama kemudian, mobil yang dia kendarai pun berhenti tepat di depan Cafe. Dia turun dan segera mengeluarkan semua barang belanjaannya.


Tangan kanan dan kirinya terlihat membawa banyak barang belanjaan, sehingga dia terlihat kesusahan dalam berjalan.


Baru saja dia melangkahkan kakinya beberapa langkah, namun tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada yang berjalan dengan sangat cepat hingga akhirnya.


Brugh!


Seorang wanita muda tanpa sengaja menabrak Angga, semua barang belanjaannya jatuh berhamburan.


Perempuan itu nampak mengerjapkan matanya beberapa kali, dia merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


"Hey, Nona. Bantulah aku merapikan semua barang belanjaanku, jangan diam saja! Sudah menabrak, bukannya bertanggung jawab malah melongo saja!" kesal Angga seraya merapihkan barang belanjaan yang terjatuh.


Ucapan Angga seakan menyadarkan wanita muda tersebut dari lamunannya.


"Ah, iya-iya." Dia pun dengan tergesa membantu Angga merapikan belanjaannya dan membantu membawanya ke dalam Cafe.


Walaupun Angga terlihat kesal, akan tetapi dia merasa cukup senang karena wanita tersebut mau membantunya.


"Lain kali berhati-hatilah," ucap Angga.


Perempuan tersebut nampak menganggukan kepalanya, lalu dia menyimpan barang bawaannya di dekat kaki meja.


"I--iya," jawab perempuan itu.


"Pergilah!" kata Angga.


Mendengar ucapan Angga, perempuan itu nampak tak percaya. Karena walaupun dia salah sudah menabrak Angga, setidaknya harus ada kata terima kasih karena dia sudah membantunya.


"Ck! Aku sudah membantumu, apa kau tidak mau berterima kasih padaku?" tanyanya ketus.


Angga tertawa sinis.


"Terima kasih, sekarang pergilah." Mendengar ucapan Angga, wanita itu terlihat berdecak sebal.


Lalu, dia terlihat menghentakkan kakinya beberapa kali lalu dia pun pergi dari sana.


Selepas kepergian wanita tersebut, Angga tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian, dia pun menata bahan-bahan kue yang sudah dia beli di atas meja.


Saat sedang asyik menata bahan kue di atas meja, Larasati datang menghampiri Angga. Dia pun lalu berkata.


"Angga, Mbak mau ke Resto dulu. Rendy bilang ada orang yang mau kerja sama dengan Resto, Mbak," kata Larasati.


Angga menghentikan aktivitasnya, lalu dia pun menatap wajah Larasati dengan lekat.

__ADS_1


"Pergilah, Mbak. Hati-hati, atau mau aku antar?" tanya Angga.


Larasati menggelengkan kepalanya, rasanya akan terlalu merepotkan. Lagi pula, dia tidak ingin terlalu membuat Angga cape.


"Ngga usah, kamu tolong urus Cafe saja," kata Larasati.


"Siap, Mbak' ku yang cantik." Angga berucap seraya tersenyum manis.


Larasati tersenyum, dia suka kala Angga tersenyum seperti itu. Rasanya, senyum itulah yang selalu bisa membuat dia bersemangat.


"Manis sekali senyumnya, pasti wanita yang nanti jadi istri kamu akan diabetes," goda Larasati.


Angga terlihat menekuk wajahnya saat mendengar penuturan dari Larasati.


"Mbak, lebay. Mana ada yang seperti itu!" keluh Angga.


Larasati tersenyum, lalu dia mengelus lembut lengan Angga.


"Jangan marah, Mbak pamit," kata Larasati.


"Ya," jawab Angga.


Setelah berpamitan kepada Angga, Larasati pun langsung pergi menuju Resto miliknya.


Tiba di depan Resto, Larasati langsung memarkirkan mobilnya. Lalu, dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Rendy. Karena pria itu berkata sudah menunggu dirinya di sana.


Dengan perlahan Larasati pun membuka pintu ruangan Rendy.


"Ren--"


Menyadari kedatangan Larasati, baik Rendy ataupun Jonathan langsung berdiri.


"Ra, sini, Yang." Jonathan menghampiri Larasati dan menuntunnya agar duduk di sofa.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Larasati.


"Tadi ada perlu, jadi sekalian mampir," jawab Jonathan.


"Terus, kenapa kalian terlihat begitu akrab?" tanya Larasati.


Jonathan dan Rendy Saling pandang, kemudian Jonathan pun berkata.


"Rendy adalah sahabatku, Yang. Sahabat baikku," ucap Jonathan.


Mendengar ucapan Jonathan, sontak Larasati pun membulatkan matanya dengan sempurna.


"Jangan bilang kalau kamu sengaja meminta bantuan Rendy agar dia mau membantuku," ucap Larasati.


Jonathan terlihat menggenggam tangan Larasati, kemudian dia pun berkata.


"Maaf, Yang. Karena selama ini aku selalu--"


Jonathan terdiam, dia tak berani melanjutkan kata-katanya. Larasati seakan paham, dia tahu jika Jonathan sangat mencintai dan menyayangi dirinya.

__ADS_1


Sudah pasti jika Jonathan sama seperti Daddynya akan terus memperhatikan kesehariannya walaupun tanpa dia tahu.


"Aku memgerti," ucap Larasati pada akhirnya.


Jonathan terlihat sangat bahagia sekali, bahkan tanpa sadar dia langsung menarik lembut Larasati ke dalam pelukannya. Kemudian dia pun mengecup kening Larasati dengan lembut sekali.


"Ehm, maaf Nyonya. Orangnya sudah datang, barusan dia kirim pesan." Rendy terlihat mengacungkan ponselnya.


Larasati pun paham, kemudian dia pun mengajak Rendy untuk menemui kliennya.


*/*


Di lain tempat.


Yudha terlihat bersiap untuk pergi ke toko yang biasa menjual perlengkapan alat lukis, menurutnya dia harus segera membeli peralatan lukis tersebut, agar dia bisa dengan secepatnya melukis dan menjual hasil lukisannya.


Tentu saja hal itu harus dia lakukan, karena hidup terus berjalan. Yudha membutuhkan uang untuk melanjutkan kehidupannya.


Walaupun saat ini dia masih memiliki uang, namun tetap saja dia harus punya pekerjaan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah, pikirannya.


Tiba di toko, Yudha pun langsung membeli kuas, cat, kanvas, bingkai, palet, easel, hingga bahan-bahan lainnya yang dibutuhkan.


Ternyata barang-barang yang Yudha beli sangat banyak, dia bahkan sampai menyewa mobil bak terbuka untuk mengantarkan barang belanjaan miliknya.


Dia berpikir akan lebih baik jika dia membeli barangnya dengan jumlah banyak, selain dapat diskon harga, dia juga tidak perlu bolak-balik untuk membeli bahan.


Yudha bahkan menghabiskan uang sampai lima puluh juta rupiah, dia sengaja membeli banyak perlengkapan melukis, biar untuk stok sekalian.


Tiba di rumah yang dia sewa, dia pun segera merapikan semua barang belanjaannya. Dia bahkan menghabiskan seharian penuh untuk menata barang-barangnya.


"Hah! Lelah sekali, sepertinya aku harus mencari makanan untuk aku santap. Aku bahkan lupa untuk makan siang," ucap Yudha.


Hari sudah menunjukkan pukul lima sore, Yudha pun terlihat pergi dengan menggunakan motor maticnya menuju kedai soto yang tak jauh dari rumah yang dia sewa.


Tiba di sana, Yudah langsung memesan satu porsi soto ayam lengkap dengan lemon tea hangat.


Baru saja dia hendak menyuapkan soto ayam tersebut ke dalam mulutnya, tak jauh dari sana dia melihat Leana yang sedang berjalan sambil membawa dua buah paper bag di tangannya.


Tanpa pikir panjang, dia pun segera bangun dan hendak berlari untuk mengejar Leana. Namun, teriakan dari pedagang soto tersebut membuat Yudha menghentikan langkahnya.


"Hey! Kalau mau pergi, bayar dulu," teriak Kang soto.


Yudha pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kang soto tersebut.


"Tunggulah sebentar, Kang. Saya hanya ingin mengejar gadis itu," ucap Yudha.


Saat dia memalingkan wajahnya kembali ke arah Leana, sayangnya Leanna tak lagi berada ini di sana, Yudha mengumpat kasar.


"Sialan!"


*


*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2