
Rachel terlihat tersenyum malu kala mengingat pergumulan panasnya dengan Satria, sesekali dia bahkan tersenyum seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rasanya dia sangat bahagia karena bisa memberikan hal yang paling berharga untuk suaminya, mahkotanya yang selalu dia jaga.
Ini adalah pertama kalinya dia melakukannya, dia sangat bangga karena melakukannya dengan suaminya. Lelaki yang sangat dia cintai, lelaki yang sejak lama dia kagumi.
"Yang," panggil Satria.
Satria yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung mendekap erat tubuh istrinya yang sedang duduk di atas sofa.
Dia sandarkan kepalanya di pundak istrinya, lalu dia kecupi leher jenjang istrinya dengan sangat lembut.
"Hem," jawab Rachel yang menjawab pertanyaan dari suaminya hanya dengan deheman saja.
Dia sedang merasakan sensasi dari bibir Satria yang terasa basah saat mengecup lehernya.
"Masih sakit ngga, Yang?" tanya Satria seraya mengusap milik istrinya.
Rachel terlihat memelototkan matanya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.
"Abang, jangan pegang-pegang. Masih sakit," rengek Rachel.
Satria terkekeh lalu menarik tangannya dan melingkarkannya di perut istrinya, tangannya mulai mengusap perut istrinya dan merambat sampai ke dada Rachel.
Dada milik istrinya memang tidak berukuran besar. Namun, dia sangat suka saat bermain dengan dada istrinya tersebut.
Apalagi saat menyesap ujung dada istrinya yang terlihat begitu kecil, dia sangat suka. Dia juga merasa lucu, karena bentuk ujung dada Rachel yang sangat kecil.
"Jangan ih, Abang nakal terus!" kata Rachel seraya mengkrucukan bibirnya.
Satria mengajaknya untuk mendaki puncak nirwana dari pagi sampai hampir tengah hari, Rachel sampai kelelahan karena ulah suaminya.
__ADS_1
Dia sampai tertidur dan terbangun kala Satria mengajaknya untuk shalat dzuhur, itu pun sudah pukul satu siang.
Setelah shalat dzuhur, mereka langsung makan siang bersama. Setelah itu Satria langsung tidur, sedangkan Rachel malah duduk sambil bermain dengan ponselnya.
Sesekali dia berbalas pesan dengan adik dan kakaknya, dia juga mengadukan apa yang sudah Satria lakukan kepada bu Airin.
"Iya, maaf," kata Satria.
"Hem, ituku masih sakit. Jangan minta dulu kalau belum sembuh," pinta Rachel.
"Iya, kalau aku ngga khilaf. Oh iya, Sayang. Mau langsung pulang atau mau nginep lagi?" tanya Satria.
Untuk sesaat Rachel terdiam, dia sedang berpikir dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya.
Jika dia menginap kembali, sudah pasti Satria akan memintanya lagi. Padahal pinggangnya masih terasa pegal, bahkan area intinya masih sakit.
Rasanya dia tidak bisa melayani hasrat dari suaminya itu, badannya terasa sakit dan remuk. Walaupun dia akui saat Satria melakukannya, dia begitu menikmatinya.
"Ehm, aku mau pulang saja. Selepas makan malam kita pulang ke rumah bunda," pinta Rachel.
Satria langsung mengernyitkan dahinya dengan apa yang diminta oleh istrinya, dia merasa tidak rela jika mereka harus pulang ke rumah mertuanya.
Takutnya nanti dia tidak akan leluasa untuk menjamah tubuh istrinya, bisa-bisa Rachel beralasan untuk tidur bersama dengan bundanya.
"No, kita pulang ke rumah buna aja. Kita bobo di kamar aku aja," kata Satria.
"Ngga mau, maunya bobo di rumah bunda aja," kata Rachel.
Rachel terlihat merengek, hal itu membut dia tidak tega. Dia mengecupi bibir istrinya, lalu dia berkata.
"Baiklah, kita menginap di rumah bunda. Tapi kamu bobonya sama aku, ngga boleh bobo sama bunda," pinta Satria.
__ADS_1
'Astogeh, bagaimana dia bisa tahu kalau aku mau kabur nanti malam? Padahal aku ngga bilang apa-apa, kata Rachel dalam hati.
"Loh, kok diem aja? Jangan-jangan kamu minta pulang ke rumah bunda biar ngga bisa tidur sama aku ya?" tanya Satria.
"No!" seru Rachel seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagus! Istri yang pandai, sekarang kita mandi dulu. Sudah sore, nanti setelah makan malam kita pulang," kata Satria.
"Iya, Abang," jawab Rachel.
Padahal Rachel sudah berniat untuk kabur, agar dia bisa istirahat. Dia sungguh takut jika Satria akan memintanya lagi malam ini, dia belum siap.
Badannya perlu beristirahat, tapi dia juga sadar jika dirinya kini harus melayani Satria yang sudah menjadi suaminya.
"Mau mandi bareng atau--"
"Mandi sendiri aja, Bang. Abang duluan aja," kata Rachel dengan cepat.
"Baiklah istri cantikku, aku mandi duluan," kata Satria.
"Iya, Abang," jawab Rachel.
Satria terlihat mencium bibir istrinya dengan mesra, setelah itu dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi karena dia takut jika dirinya akan khilaf dan memerkosa istrinya di atas sofa.
Dia sangat tahu jika Rachel sangat kelelahan karena ulahnya, dia tidak mau membuat istrinya sakit.
Dia ingin membiarkan istrinya untuk istirahat terlebih dahulu, untuk urusan yang satu itu dia bisa memintanya lagi esok hari, pikirnya.
Rachel tersenyum melihat kepergian dari Satria, dia merasa jika dirinya kini lebih mencintai Satria. Setelah perubahan dari sikap Satria.
***
__ADS_1
Selamat siang kesayangan, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki.