Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 92


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Satria terlihat kebingungan, karena tingkah istrinya begitu berbeda dari biasanya.


Terkadang Rachel akan marah-marah tidak jelas, terkadang Rachel akan menangis dan terkadang dia akan begitu manja kepada suaminya.


Bahkan, setiap malam Rachel akan membangunkan Satria saat tengah malam tiba. Dengan penuh semangat Rachel akan melepaskan semua pakaiannya, begitupun dengan pakaian yang dipakai oleh Satria.


Dia akan bermain dengan milik Satria dan dia akan bertingkah seperti joki yang begitu lihai saat menaiki kuda.


Seperti malam ini, waktu menunjukkan pukul satu malam. Tiba-tiba saja Satria merasa jika kini tubuh bagian bawahnya terasa dingin.


Satria terlihat membuka matanya, karena penasaran dia langsung bangun dan menyangga tubuhnya dengan kedua sikutnya.


Satria terlihat membulatkan matanya dengan sempurna karena kini Rachel sedang menurunkan celana tidur yang dia pakai.


"Ouch, Sayang. Kenapa kamu--"


Satria tidak bisa meneruskan ucapannya, karena tiba-tiba saja Rachel menunduk dan langsung mengecupi ujung kenikmatan miliknya.


"Ouch, Sayang. Jangan seperti itu, aku ngga tahan," rengek Satria.


Bukannya menghentikan aktivitasnya, Rachel terlihat tertawa kemudian dia menyesap milik suaminya dengan lidahnya yang terus meliuk pada ujung jamur milik suaminya.


"Sayang!" keluh Satria dengan suara meninggi.


"Aku mau mainan," ucap Rachel.


Setelah mengatakan hal itu, Rachel nampak melucuti pakaiannya. Lalu dia terlihat memosisikan tubuhnya agar milik suaminya bisa menerobos masuk ke dalam inti tubuhnya.


"Ouch, Sayang!" pekik Satria saat merasakan miliknya seakan dihisap kuat oleh milik istrinya.


"Ck! Nikmati, Sayang!" celetuk Rachel seraya menggoyangkan pinggulnya.


Akhirnya Satria menyerah, dia pun menikmati apa yang disuguhkan oleh istrinya tersebut. Dia memejamkan matanya seraya meremat kedua dada istrinya.

__ADS_1


Rachel terlihat sangat seksi sekali, apalagi saat dia bergoyang seraya meremat kedua dadanya, Satria sangat suka.


Satria benar-benar merasa kebingungan, karena tingkah Rachel selama satu minggu ini benar-benar berbeda dari biasanya.


Namun, dia merasa bahagia. Dia merasa senang, karena dengan sikap Rachel yang seperti itu justru dia semakin mencintai istrinya.


"Ouch, Abang. Aku--"


Rachel terlihat tidak meneruskan ucapannya, dia terlihat memekik kala dia mencapai puncak kenikmatannya.


Satria terlihat terkekeh saat istrinya kini terlihat lemas, Rachel kini memeluk dirinya dengan tubuh yang bergetar.


Bahkan Satria merasa jika miliknya kini terasa dicengkram kuat oleh liang kelembutan milik istrinya, dia juga bisa merasakan jika milik istrinya masih berkedut.


Sepertinya dia baru saja sampai kepada puncaknya, Satria langsung mengangkat tubuh istrinya.


Dia baringkan tubuh Rachel dengan perlahan, lalu dia mengungkung tubuh istrinya dan mulai menunduk untuk menyatukan bibir mereka.


"Kamu nakal banget!" keluh Satria. "Tapi Abang suka," ucapnya lagi seraya menyatukan tubuh mereka.


"Abang!" teriak Rachel seraya menggigit dada suaminya.


Malam ini menjadi malam menjelang pagi yang terasa begitu indah bagi Satria dan juga Rachel, hal itu terus berulang selama satu minggu ini.


**


Keesokan paginya.


Selepas melaksanakan shalat subuh, baik Rachel ataupun Satria yang merasa masih kelelahan langsung tertidur kembali dengan pulas.


Beruntung hari ini adalah hari Sabtu, hal itu membuat Satria merasa lebih tenang karena dia tidak harus bekerja.


Matahari sudah mulai meninggi, tapi keduanya masih terlelap dalam tidurnya. Bahkan, saat bel berbunyi dengan nyaring pun mereka begitu anteng dalam tidurnya.

__ADS_1


Bu Airin dan juga Ridwan yang datang ingin menemui anak dan menantunya terlihat berdecak sebal, karena sudah lima belas menit mereka berdiri di depan pintu.


Namun, tidak ada tanda-tanda pintu itu akan dibukakan oleh sang pemilik. Hal itu membuat Ridwan benar-benar merasa kesal.


Berbeda dengan ibu Airin yang terlihat begitu tenang, dia bahkan terlihat menenangkan suaminya itu dengan menepuk-nepuk punggung suaminya.


"Sabar, Sayang. Namanya juga hari libur, pasti mereka tidur lagi," ucap Bu Airin.


"Kamu telpon aja gih, siapa tahu diangkat," usul Ridwan.


"Iya, Sayang," jawab Bu Airin.


Bu Airin nampak merogoh tas miliknya, kemudian dia langsung menelpon putrinya tersebut.


Cukup lama dia mencoba menelepon putrinya, hingga pada panggilan ketiga barulah dia mendapatkan jawaban.


"Ya, Bunda," jawab Rachel dengan suara serak khas bangun tidur.


"Bunda ada di depan apartemen kamu, sudah hampir setengah jam loh Bunda di luar. Kamu tidak mau bukain pintu?" tanya Bu Airin dengan lembut.


Rachel yang belum sadar dengan sempurna terlihat terlonjak dari tempat tidur, dia masih terlihat polos. Karena selepas shalat subuh Rachel ingin memeluk Satria tanpa busana.


ponselnya miliknya pun masih menyala, tapi dia abaikan. Dia malah meletakkan ponselnya begitu saja di samping suaminya.


"Di mana bajuku?" tanya Rachel seraya mengedarkan pandangannya.


Karena tidak ingin membuat ayah dan ibunya menunggu lama, akhirnya Rachel memakai kemeja milik Satria yang tersampir di atas sofa.


Dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mengikat rambutnya secara asal. Setelah itu, dia berlari menuju pintu utama.


"Ayah, Bunda. Maaf sudah membuat kalian menunggu lama," kata Rachel sesaat setelah membuka pintu.


Bu Airin dan juga Ridwan nampak saling pandang, karena melihat penampilan putrinya yang begitu kacau.

__ADS_1


Mereka bahkan merasa lucu ketika melihat Rachel memakai kemeja milik Satria yang kebesaran di tubuhnya, bahkan Rachel mengancingkan kemeja tersebut secara asal.


__ADS_2