Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 99


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Kini Mich dan juga Kinara tengah duduk di depan pak Penghulu dan juga Jonathan, mereka akan melaksanakan Acara ijab kabul untuk mengesahkan ikatan keduanya dalam janji suci pernikahan.


Setelah kejadian satu minggu yang lalu, saat mereka katahuan sedang berciuman dengan sangat mesra, Merlin langsung mengatakan hal itu kepada Angga.


Bahkan, Merlin tanpa ragu langsung melakukan panggilan video call kepada Ibu dari Kinara tersebut.


Hal itu membuat Larasati bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Mich saat itu sedang bertelanjang dada dan berada di dalam satu kamar yang sama dengan putrinya.


Awalnya Larasati merasa begitu kecewa, karena putrinya yang begitu dia cintai itu melakukan hal yang seharusnya tidak di boleh dilakukan sebelum dia menikah.


Namun, ada rasa tenang di hatinya ketika mereka tidak sampai berzina. Pada akhirnya setelah Merlin dan juga Larasati berbicara dari hati ke hati, mereka pun memutuskan untuk menikahkan Mich dan juga Kinara.


Tentu saja hal itu mereka lakukan agar tidak terjadi dosa yang lebih besar lagi di antara kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu.


"Buna, kecewa." Itulah kata-kata yang keluar dari bibir Larasati.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Larasati, Mich merasa sangat bersalah kepada wanitanya, akhirnya pun dia berusaha untuk membela wanitanya tersebut.


Karena, pada kenyataannya memang Mich yang memaksa. Sedangkan Kinara dari awal pun sudah menolaknya.


"Maaf, Tante. Ini semua salah Mich," ucap Mich tertunduk tidak enak hati.


"Sudahlah, sekarang kerjakan semua tugasmu yang masih tertunda. Setelah itu segeralah ke tanah air untuk mempersunting putriku," pinta Larasati.


"Iya, Tante." Mich terlihat bersemangat.


Tentu saja Mich terlihat begitu senang, karena akhirnya dia akan segera menikah dengan wanita pujaan hatinya.


Walaupun pada kenyataannya bukan seperti ini hal yang dia inginkan, karena rasanya dinikahkan dengan cepat hanya karena sebuah kesalahan sangatlah memalukan.


Berbeda dengan Kinara yang terlihat diam saja, tatapan matanya bahkan terlihat begitu sulit untuk diartikan. Entah apa yang sedang dia pikirkan, Mich juga tidak paham.


Setelah melakukan panggilan video call, Kinara langsung dipulangkan ke tanah air. Berbeda dengan Mich, selama tiga hari dia mengurus pekerjaannya terlebih dahulu.


Barulah dia pulang ke tanah air untuk menyusul Kinara, beruntung Mich lahir di tanah air.


Dia juga berkewarganegaraan tanah air, sehingga tidak sulit untuk mengurus proses pernikahan di antara mereka berdua.


"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya Pak Penghulu.


"Sah!"

__ADS_1


Semua sanak saudara, keluarga, sahabat dan juga kolega yang datang nampak meneriaki kata sah. Dalam hati Mich benar-benar merasa bahagia, karena akhirnya kini dia sudah menjadi seorang suami dari Kinara Afasya Huntler.


"Selamat ya, Sayang. Bahkan kamu sudah melangkahi Kakak," kata Putri.


"Ehm! Maaf, Kak." Kinara berkata dengan penuh sesal.


"Eh? Tidak apa-apa, Kakak hanya bercanda," kata Putri.


"Sabar, Sayang. Bulan depan kita akan menyusul," kata Reonnseraya mengusap punggung tangan wanitanya.


"Menyusul ke mana?" goda Putri.


"Ke pelaminan, Sayang." Reon tampak mencubit gemas kedua pipi Putri.


"Aih! Sakit, Mas!" rengek Putri.


Mendengar rengekan manja dari Putri, Reon terlihat mencondongkan wajahnya. Kemudian, dia berbisik tepat di telinga calon istrinya itu.


"Aku belum merawanin kamu loh, kok udah bilang sakit aja?" goda Reon seraya mengerling nakal.


"Mas!" seru Putri.


Tamu yang hadir di sana pada akhirnya malah memperhatikan interaksi antara Reon dan juga Putri, saat menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, akhirnya Putri terlihat menutup wajahnya dengan Kedua telapak tangannya.


"Aih, calon pengantin malah malu-malu. Udah ngga sabar buat Ayah nikahin, ya?" tanya Yudha.


"Ayah! Putri malu," jawab Putri.


Mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, Yudha terlihat menarik Putri ke dengan lembut ke dalam pelukannya.


"Ehm! Bisa kita lanjutkan?" tanya Pak penghulu.


"Tentu," jawab Yudha.


Akhirnya acara pernikahan pun dilanjutkan kembali, rangkaian acara yang sudah disusun dengan penuh rencana satu persatu dilaksanakan, hingga pada akhirnya selepas ashar acara resepsi pernikahan pun telah berakhir.


Sengaja Jonathan tidak mengadakan acara resepsi pernikahan sampai malam tiba, karena dia merasa ketakutan jika putrinya akan kelelahan.


Menurutnya Kinara masih sangat kecil, dia takut jika putrinya akan kelelahan jika sampai malam harus mengadakan acara resepsi pernikahannya.


"Selamat, ya, Sayang. akhirnya kalian resmi menjadi pasangan suami istri," ucap Larasati seraya memeluk putrinya tersebut.


Kinara membalas pelukan dari bundanya seraya menangis di dalam pelukan bundanya tersebut, Larasati terlihat menenangkan putrinya dengan mengelus lembut punggung Kinara.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis? Bukankah ini hari kebahagiaanmu? Kamu menikah dengan pria yang kamu cintai, bukan?" tanya Larasati.


"Bukan begitu, Buna. Mulai saat ini aku akan tinggal bersama Om Mich, rasanya pasti akan berbeda," jawab Kinara.


Larasati tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut, kemudian wanita paruh baya itu berkata.


"Nikmatilah harimu, Sayang. Berusahalah menjadi istri yang baik untuk suamimu, Buna selalu mendukung apa pun keinginan kamu."


Walaupun ada sedikit rasa kecewa di dalam hati Larasati, tapi dia tidak memperlihatkannya kepada putrinya tersebut.


Larasati sadar betul jika dirinya dulu pernah mengecewakan Elias dengan sebuah kesalahan, menikah dengan Imam tanpa restu darinya.


Bahkan, Larasati saat itu rela meninggalkan keluarganya demi pria yang begitu dia cintai. Pria yang rela meninggalkan dirinya demi wanita lain karena perubahan bentuk tubuhnya.


Kinara memang membuat kecewa dirinya, tapi apa yang Kinara lakukan masih jauh lebih baik dengan apa yang pernah dulu dia lakukan bersama dengan Imam. Dirinya merasa tertampar sebagai orang tua.


"Ya, Buna," jawab Kinara.


Larasati terlihat melerai pelukannya dengan Kinara, karena sejak tadi Jonathan sudah memberikan kode kepada istrinya tersebut jika dia juga ingin memeluk putri kesayangannya itu.


Benar saja, setelah pelukan mereka terlepas Jonathan langsung menarik Kinara ke dalam pelukannya. Semua rasa kini bercampur aduk menjadi satu di dalam hati Jonathan.


"Selamat ya, Sayang. Semoga kamu bahagia dengan pria yang sudah menikahimu saat ini," ucap Jonathan dengan tulus.


"Yes, Daddy!" jawab Kinara.


Setelah mendapatkan ucapan selamat dari setiap anggota keluarga, akhirnya Kinara dan juga Mich terlihat melangkahkan kaki mereka untuk menuju kamar hotel. Lebih tepatnya kamar pengantin yang sudah dipesankan oleh Jonathan dan juga Larasati.


Setelah mereka berada di dalam kamar hotel, baik Kinara ataupun Mich terlihat saling diam Mereka seperti orang linglung dan tidak tahu harus melakukan apa.


setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya Mich terlihat menghampiri Kinara. Dia duduk tepat di samping istrinya tersebut, kemudian dia bertanya.


"Ehm, Kinara, Sayang. Kita beneran udah nikah, kan?"


Mich masih merasa belum percaya jika dirinya kini sudah benar-benar menjadi seorang suami dari Kinara Afasya Huntler, semuanya terasa bagaikan mimpi.


"Hem," jawab Kinara.


Kinara menjawab pertanyaan dari Mich tanpa menolehkan wajahnya ke arah lelaki yang baru saja mengesahkan dirinya sebagai seorang istri itu, dia hanya memandang ke arah sembarang.


"Kalau begitu, aku udah boleh, kan?" tanya Mich.


Kinara langsung menolehkan wajahnya ke arah Mich, setelah Mich menanyakan hal itu kepada dirinya. Karena jujur saja Kinara tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Mich.

__ADS_1


"Boleh apa?" tanya Kinara dengan dahi yang mengernyit dalam.


__ADS_2