
Binar bahagia terlihat begitu jelas di wajah Satria, anak itu benar-benar seperti merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
Jonathan bahkan sengaja membawa sopir, agar dia tak perlu menyetir dan bisa duduk bersebelahan dengan Larasati.
Dia sengaja merapatkan tubuhnya pada Larasati, sedangkan si tampan Satria duduk di pangkuannya.
"Jo, kamu geseran dikit. Jangan mepet banget kaya gini," protes Larasati.
"Ngga bisa geser, Ra. Udah kaya ada lemnya ini, nempel." Jonathan nampak nyengir kuda.
"Ya ampun," keluh Larasati.
Sepanjang perjalanan menuju taman hiburan, Larasati lebih banyak diam. Justru yang begitu aktif berbicara adalah Jonathan dan juga Satria.
Mereka benar-benar terlihat seperti anak dan juga ayah, mereka begitu kompak saat mengobrol akan hal yang mereka sukai.
Ternyata, walaupun Jonathan sudah berumur, dia sangat menyukai tokoh-tokoh superhero yang ada di dunia ini.
Bahkan, dia mempunyai banyak koleksi tokoh superhero yang ada di dunia ini. Saat mendengar akan hal itu, Satria terlihat begitu senang sekali.
Bahkan dia meminta Jonathan untuk mengajaknya ke rumahnya, tentu saja Jonathan dengan senang hati mengiyakan.
Berbeda dengan Larasati, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jonathan yang begitu gigih dalam mendekati putranya.
"Sudah sampai, Tuan. Mau saya belikan tiketnya atau bagaimana?" tanya Pak Rudi supir dari keluarga Al Fachri.
"Tolong belikan tiketnya, ya Pak. Saya tunggu di pintu masuk," ucap Jonathan.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan langsung turun sambil menggendong Satria. Larasati pun ikut turun dan berjalan beriringan dengan Jonathan yang menggendong Satria.
Berbeda dengan pak Rudi, dia langsung berjalan ke arah loket untuk membeli tiket pesanan sang majikan.
Tak lama kemudian, tiket masuk pun sudah di tangan. Jonathan langsung mengajak Satria dan juga Larasati untuk menikmati semua wahana yang ada di taman hiburan tersebut.
Satria benar-benar merasa sangat senang, karena baru kali ini dia diajak jalan-jalan ke taman hiburan yang menurutnya sangat besar dan juga luas.
Larasati memang sering mengajak Satria jalan-jalan pada saat berada di kampung Bi Narti, namun hanya sebatas bermain ke taman atau ke alun-alun kota saja.
"Suka?" tanya Jonathan.
"Suka, Daddy." Satria tertawa sambil menaiki wahana komedi putar bersama dengan Jonathan.
Larasati tidak ikut naik wahana tersebut, dia malah asik mengabadikan moment kebersamaan mereka lewat camera ponselnya.
__ADS_1
Hampir seharian penuh mereka menghabiskan waktu bersama, semua wahana untuk anak sudah Satria coba.
Bahkan mereka juga sudah berwisata kuliner di sana, wajah Satria benar-benar terlihat puas dan juga lelah.
Pukul empat sore, akhirnya Larasati meminta pulang, karena takut jika putranya akan kecapean.
"Kita pulang ya, Jo?" pinta Larasati.
"Hem, kita pulang." Jonathan terlihat menggendong Satria yang ternyata sudah tidur dengan tangan kirinya.
Dia juga menggenggam tangan Larasati dengan tangan kirinya, dia benar-benar memanfaat hari ini untuk bisa dekat dengan Larasati dan putranya.
Tiba di parkiran, dengan sigap pak Rudi membukakan pintu mobil untuk Larasati. Larasati pun langsung masuk, lalu Jonathan nampak menurunkan Satria dari gendonganmya kepangkuan Larasati.
"Aku pergi sebentar, mau beli permen kapas. Tadi jagoan memintanya," kata Jonathan.
"Jangan lama-lama," ucap Larasati.
"Hanya sebentar," jawab Jonathan.
Jonathan terlihat melangkahkan kakinya, dia ingin membelikan permainan kapas permintaan dari putra Larasati.
Setelah kepergian Jonathan, Larasati terlihat memperhatikan wajah Satria, putranya. Tak lama kemudian, tersungging sebuah senyuman di bibirnya.
'Terima kasih, Jo. Kamu memang yang terbaik, mungkin inilah saatnya untuk aku membalas semua kebaikan kamu, dengan cara menjadi istri kamu.' Kata larasati dalam hati.
Sebenarnya Larasati sudah memutuskan akan menikah dengan Jonathan, hanya saja dia sengaja mengulur waktu selama satu bulan.
Hal itu sengaja dia lakukan agar Jonathan bisa membuktikan keseriusannya, dia memang sangat percaya jika Jonathan mencintai dirinya.
Namun, dia juga perlu mendekatkan Satria dengan Jonathan. Karena menurutnya, jika Larasati menikah nanti, lelaki yang menikah dengannya harus benar-benar menerima putranya, Satria.
Larasati nampak melirik jam di tangannya, sudah 10 menit namun Jonathan tak kunjung kembali.
Larasati terlihat mengedarkan pandangannya, alangkah kagetnya dia saat melihat Yudha sedang berciuman dengan seorang wanita muda di pojok parkiran.
Yudha terlihat begitu agresif, bahkan tangannya pun terlihat nakal sekali. Namun satu hal yang Larasati herankan, wanita yang dia cumbui bukanlah istrinya, Jesicca.
Larasati bahkan merasa tak habis pikir, kenapa tidak di dalam mobil saja Yudha mencumbui wanita muda itu?
Kenapa malah di tempat umum seperti itu? Walaupun dalam keadaan sepi, rasanya tetap tidak pantas untuk dilakukan.
"Ya Tuhan, Mas. Tega sekali kamu melakukan hal itu! Padahal Jesicca tidak mengalami perubahan tubuh yang signifikan, bahkan saat aku kemarin bertemu dengannya, dia malah terlihat lebih kurus," ucap Larasati lirih.
__ADS_1
"Ra, kok malah melamun. Ada apa?" tanya Jonathan.
"Ya ampun, Jo. Kamu ngagetin," kata Larasati.
Jonatahan nampak terkekeh, dia duduk di samping Larasati dan meminta pak Rudi untuk segera melajukan mobilnya kekediaman Dinata.
"Maaf kalau aku mengagetkan kamu, habisnya kamu bengong terus. Aku udah panggil kamu berkali-kali," sesal Jonathan.
"Tidak apa, aku yang salah. Karena terlalu asik melamun, aku juga minta maaf." Larasati tersenyum.
Jonathan nampak senang melihat senyuman Larasati, dia suka melihat lesung pipi di pipi Larasati saat dia tersenyum.
Setelah mengatakan hal itu, tidak ada lagi obrolan diantara mereka. Mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.
Jika Jonathan telah bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan Larasati dan juga Satria.
Berbeda dengan Larasati yang kini merasa sedih sekaligus bahagia, dia sedih karena ternyata lelaki yang pernah dia banggakan mempunyai sifat yang sangat buruk.
Namun, dia juga merasa bahagia karena dia sudah terlepas dari jerat lelaki seperti busuk Yudha. Tentu Larasati pun berdo'a kepada Tuhan, semoga di kehidupannya yang sekarang bisa lebih baik lagi.
Semoga keputusannya untuk menikah dengan Jonathan adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga Satria.
Tiba di kediaman Dinata pak Rudi pun langsung memberhentikan mobilnya, dia langsung turun dan menjauh dari mobil.
Larasati sempat mengernyit heran dengan kelakuan dari pak Rudi, dia pun lalu menatap Jonathan dengan lekat.
"Kenapa pak Rudi malah pergi? Kirain aku mau bukain pintu," ucap Larasati.
Jonathan nampak terkekeh, kemudian dia menggenggam tangan Larassati dengan sangat erat.
"Kemarin kamu sudah mengatakan jika kamu bersedia untuk menikah dengan aku, jika aku bisa membuat kamu jatuh hati selama satu bulan. Sebagai tanda awal keseriusan aku, aku ingin memberikan kamu ini," ucap Jonathan.
Jonatahan terlihat merogoh saku celananya, lalu dia mengambil sebuah kotak kecil. Dia nampak membuka kotak kecil tersebut, nampaklah cincin berlian yang begitu indah.
"Ini buat kamu, Ra. Kamu mau' kan terima cincin ini? Anggap saja kita jadian mulai hari ini dan selama 1 bulan ke depan kita berpacaran," ucap Jonathan.
Larasati tersenyum, kemudian dia pun mengulurkan tangannya. Jonathan terlihat bahagia sekali, dia pun lalu mengambil cincin berlian tersebut dan menyematkannya di jari manis Larasati.
"Terima kasih," ucap Larasati.
"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah memberikan aku kesempatan," ucap Jonathan.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan nampak memiringkan wajahnya. Lalu, dia mengecup bibir Larasati beberapa kali.
__ADS_1
Larasati benar-benar terlihat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Jonathan terhadap dirinya, dia hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika Jonathan melakukan hal itu kepadanya.