Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Pertolongan


__ADS_3

Larasati merasa kasihan dan juga iba saat melihat Jesicca yang terlihat berjalan tanpa arah, Jesicca bahkan terlihat berjalan seperti orang yang sedang banyak pikiran.


Larasati tahu, pasti itu karena ulah Yudha yang kini tengah pergi bersama wanita lain.


Karena merasa tak tega, Larasati yang kebetulan sedang hendak pergi bersama dengan Jonathan pun langsung meminta Jonathan untuk memberhentikan mobilnya.


Jonathan menurut, walaupun dia merasa kesal karena Larasati terkesan perduli pada wanita yang sudah membuat hidupnya hancur.


Namun, di satu sisi. Jonathan juga bersyukur karena Jesicca sudah hadir di tengah-tengah Yudha dan Larasati, kalau tidak, tentu saja saat ini Jonathan tak akan bisa kembali bersama dengan wanita yang sangat dia cintai.


"Apa yang kamu lakukan di jalanan?" tanya Larasati seraya mengajak Jesicca untuk duduk di bangku pinggir jalan.


"Mbak Laras," ucap Jesicca lirih.


"Ya, ini aku. Kamu kenapa?" tanya Larasati.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Larasati, Jesicca malah menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Kemudian, dia pun memeluk kaki Larasati.


Dia bersimpuh dan langsung meminta maaf kepada Larasati, dia benar-benar menyesali semua perbuatannya terhadap Larasati.


"Mbak, maafkan aku. Maaf karena dulu aku sudah merebut Mas Yudha dari Mbak," kata Jesicca.


Jesicca menangis tersedu, dia langsung berpikir dan bertanya-tanya dalam hatinya.


Bagaimana dulu sakitnya Larasati saat dia sedang melakukan hubungan intim dengan Yudha?


Bagaimana hancurnya perasaan Larasati saat itu?


Bagaimana sedihnya Larasati saat diusir dari rumahnya sendiri kala itu?


"Mbak, tolong maafkan aku. Aku minta maaf, maaf," ucap Larasati.


Jesicca tak mampu berkata apa pun lagi selain kata maaf, dia benar-benar mengharapkan pengampunan dari wanita yang kini ada di hadapannya.


"Bangunlah, jangan seperti ini," kata Larasati.


"Aku tidak akan bangun sebelum Mbak memaafkan aku," kata Jesicca.


Larasati nampak memandang Jonathan yang kini berdiri di sampingnya, Jonathan nampak mengangukkan kepalanya.


"Aku memaafkan kamu, sekarang duduklah yang benar," kata Larasati.


Dengan perasaan malu bercampur senang, Jesicca pun bangun dan duduk tepat di samping Larasati.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mbak. Aku salah," kata Jesicca.


"Sudahlah, sekarang ceritakan sama aku, sebenarnya kamu kenapa?" tanya Larasati.


"Aku, aku--"


Jessica pun kemudian menceritakan apa yang terjadi terhadap dirinya dan juga putrinya tanpa ada satupun hal yang dia tutupi.


Sebenarnya dia merasa sangat malu untuk menceritakan hal ini kepada Larasati, namun dia berpikir jika dia akan merasa lebih tenang jika membicarakan hal tersebut kepada Larasati.


Mendengar apa yang diceritakan oleh Jesicca, Larasati terlihat menitikan air matanya. Dia teringat kala dirinya yang baru saja melahirkan dan dia harus terusir dari rumahnya sendiri.


Melihat Larasati yang menangis, membuat Jesicca merasa semakin bersalah. Dia langsung mengusap air mata di pipi Larasati, kemudian dia pun berkata.


"Aku memang pantas diperlakukan seperti ini, aku sudah jahat sama Mbak. Maaf, maafkan aku." Jesicca menunduk malu.


"Memangnya berapa harga rumah yang kamu tempati?" tanya Larasati.


Mendengar pertanyaan dari Larasati, membuat Jesicca bertanya-tanya. Sebenarnya apa maksud dari Larasati?


Larasati yang seakan paham akan kebingungan di wajah Jesicca pun langsung tersenyum, kemudian dia berkata.


"Aku ingin membeli rumahmu, bukankah dengan begitu kamu bisa menebus putrimu? Lagi pula, sisa uang hasil penjualan rumahnya bisa kamu pakai untuk memulai hidup baru," kata Larasati.


Larasati seolah tak pernah merasa sakit hati oleh perbuatannya, bahkan dia dengan tulusnya mau menolong Jesicca di saat kesusahan seperti ini.


Kembali tubuh Jesicca luruh ketanah, dia kembali memeluk kaki Larasati dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Mbak. Hati Mbak benar-benar baik. Maafkan aku, Mbak. Aku benar-benar merasa menjadi manusia paling hina saat ini," kata Jesicca.


"Bangunlah! Sekarang kita jemput putrimu," ucap Larasati.


Jesicca pun menurut, dia kembali bangun dan duduk tepat di samping Larasati. Larasati mengalihkan pandangannya kepada Jonathan, kemudian dia pun berkata.


"Jo, kita harus minta tolong Pak Arman untuk segera ke sini. Kita butuh bantuannya untuk membuat surat perjanjian di atas materai, takut-takut si rentenir itu akan macam-macam dikemudian hari," kata Larasati.


"Ya ampun, calon istri aku ini pinter banget." Jonathan langsung merogoh saku celananya, kemudian dia langsung menelpon pak Arman.


Beruntung pak Arman sedang ada waktu, hanya dalam waktu empat puluh menit saja dia sudah datang dan membawa surat perjanjian yang diminta oleh Larasati.


"Terima kasih, Om. Karena sudah mau menyempatkan waktu," kata Larasati.


"Sama-sama, sekarang kita harus bergegas, kasihan babynya. Takutnya nanti di sana dia tak mau meminum susu selain asi ibunya," kata Pak Arman.

__ADS_1


"Baik, Om," kata Larasati.


Akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah Juragan Juki, tiba di sana Juragan Juki pun langsung menyambut kedatangan 4 orang tamunya dengan baik.


Setelah mengetahui kedatangan tamunya untuk menebus rumah yang digadaikan oleh Yudha, awalnya dia mempersulit, bahkan meminta bunga tambahan.


Beruntung Larasati membawa pak Arman, pak Arman pun dengan mudahnya mengancam Juragan Juki untuk memenjarakannya.


Bahkan pak Arman berkata 'akan membawa Polisi ke sana', Juragan Juki yang memang takut dengan Polisi pun langsung saja memperbolehkan Larasati untuk menembus sertifikat rumah tersebut.


Setelah itu, Juragan Juki pun langsung menandatangani berkas perjanjian yang sudah dibuat oleh pak Arman.


Jesicca tersenyum lega, apa lagi ketika melihat putrinya yang diserahkan oleh salah satu asisten rumah tangga Juragan Juki, Jesicca langsung menangis haru sambil memeluk putrinya dan mengecup setiap inci wajah putrinya.


Walaupun wajah Putri begitu mirip dengan Yudha, namun tetap dia begitu menyayangi putrinya itu.


"Sekarang aku antar kamu pulang," ucap Larasati.


Setelah berpamitan kepada Juragan Juki, Larasati pun langsung memilih Untuk mengantarkan Jesicca.


Tak lupa sebelum dia pergi, dia pun berterima kasih kepada pak Arman yang sudah membantunya.


*


*


Bersambung....


Hay kesayangan.


Buat pembaca baruku, ini adalah novel on going. Karya masih bersambung, artinya masih akan up dalam setiap harinya.


Tidak ada kelanjutannya bukan berarti tamat di tengah jalan, bukan pula mengecewakan pembaca.


Jadi... mohon ditunggu kelanjutannya, selama belum ada tanda end di sampulnya berarti karya masih bersambung ya....


Buat yang kemarin nanya, apakah hyperseksualitas dan maniakk seksualitas sama?


Aku sampe nanya sama Dokter Josie, takut salah jawab.


Ternyata dalam istilah kedokteran tidak ada yang namanya maniakk seksualitas. Maniakk bahasa yang biasa disebutkan dalam bahasa kita sehari-hari, bahasa gaulnya dari hyperseksualitas itu sendiri.


Terima kasih, i love you full untuk kaleyan.

__ADS_1


__ADS_2