
Angga terlihat begitu lelap dalam tidurnya, mungkin itu terjadi karena semalam suntuk dia tidak bisa memejamkan matanya.
Di terus saja melamun dan memndang wajah wanita yang sudah memberikan rasa kecewa kepada dirinya.
Berbeda dengan Mini yang kini nampak duduk di tepian tempat tidur, dia begitu asyik memandang wajah Angga yang terlihat sangat damai.
Sebenarnya dia merasakan jika Angga begitu berbeda setelah menyentuhnya, ingin sekali Mini bertanya 'kenapa', namun dia takut Angga akan tersinggung.
Karena Mini tidak dapat tidur, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia ingin menenangkan dirinya dengan duduk di taman belakang, sambil menikmati secangkir kopi. Mungkin hal itu akan membuat dirinya merasa lebih tenang.
"Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Mini Lirih.
Di lain tempat.
Ridwan terlihat sangat gugup, karena setelah semua berkas diserahkan kepada pihak KUA, saat itu juga bu Airin mengajak Ridwan untuk menikahinya.
Pak Lukman dan bu Sopia pun turut serta ke KUA, karena mereka ingin menyaksikan pernikahan putra semata wayang mereka dengan bu Airin.
Bahkan di sana juga ada Yudha dan bi Imas yang setia menemani, untuk saksi dan juga wali bu Airin serahkan kepada pihak KUA. Karena memang dia sudah tidak memiliki sanak saudara.
Awalnya bu Sopia tidak mengizinkan Ridwan untuk menikahi bu Airin, karena menurutnya masih banyak wanita muda yang bisa dia nikahi.
Walaupun Ridwan bukan berasal dari keluarga kaya, namun Ridwan pemuda yang tampan, berpenghasilan dan juga lulusan dari universitas ternama di ibu kota.
Namun, saat bu Sopia mengemukakan pendapatnya, Ridwan malah berkata.
"Mungkin bu Airin adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untuk Uwan, Mak."
Mulut Ridwan memang berkata seperti itu, namun tetap saja di dalam hatinya dia juga merasa ada yang mengganjal.
"Tapi, Wan. Wanita masih banyak, gadis yang bisa kamu nikahi. Bahkan yang lebih muda juga banyak," sahut Bu Sopia.
Dia masih mencoba bernegosiasi dengan putranya tersebut, siapa tahu Ridwan akan berubah pikiran.
"Tapi, Mak. Uwan harus bertanggung jawab, karena Uwan sudah melihat hal yang seharusnya tidak Uwan lihat," jawab Ridwan.
Ya, Ridwan menerima pernikahan ini atas dasar tanggung jawab. Karena dia merasa jika matanya sudah melihat dengan jelas tubuh bosnya.
"Tapi, Wan. Kamu harus janji, kamu akan berpisah dengan bu Airin kalau kamu merasa tidak cocok dengan dirinya. Apa lagi kalau dia tidak memperlakukan kamu dengan baik, Emak kagak rela!"
"Emak, pernikahan itu hal yang sakral. Bukan sebuah mainan, do'akan yang terbaik untuk Uwan," jawab Ridwan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ridwan, bu Sopia hanya bisa menghela napas berat. Rasanya dia tidak rela jika putranya menikahi perawan tua seperti bu Airin, walaupun pada kenyataannya dia memanglah wanita kaya.
__ADS_1
Berbeda dengan pak Lukman, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Karena dia takut menyinggung perasaan istrinya, apalagi bu Sopia sangat tahu jika bu Airin adalah anak dari mantan pacarnya, cinta pertamanya.
"Ehm, sudah bisa dimulai?" tanya Pak penghulu.
Pertanyaan pak penghulu membawa bu Sopia ke alam nyata.
"Bisa," jawab Ridwan tegas.
Akhirnya acara nikah dadakan pun terjadi juga, Ridwan memberikan mas kawin berupa 10 gram cincin emas kepada bu Airin.
Bu Arin nampak senang sekali karena akhirnya dia kini bisa menikah dengan lelaki yang dia anggap baik.
Dia yakin cinta akan datang karena terbiasa, dia sudah sering mencintai namun sering juga disakiti.
Setelah acara pernikahan mereka selesai, bu Airin langsung mengajak Ridwan untuk pergi ke apartemen miliknya.
Bu Sopia dan juga pak Lukman terlihat pulang ke kediamannya, Yudha pergi menuju Panti. Sedangkan bi Imas langsung pergi ke kediaman utama.
Tibi di apartemen, bu Airin nampak mengajak Ridwan untuk duduk di sofa. Ridwan menurut, bu Airin nampak senang.
"Wan!"
"Hem," jawab Ridwan.
Bu Airin berpikir jika seperangkat alat shalat lebih murah ketimbang emas seberat 10 gram, dia merasa terlalu memberatkan Ridwan akan hal itu.
"Justru kalau aku memberikan Mas Kawin seperangkat alat shalat kepada Ibu, akan berat di sayanya bu. Jika Ibu shalat maka saya akan mendapatkan pahala, namun jika Ibu lalai dalam melaksanakan shalat, maka saya akan menanggung dosanya," jawab Ridwan.
"Ya ampun, ternyata aku ngga salah pilih suami." Bu Airin tersipu.
Ridwan terkekeh mendengar penuturan dari istrinya.
"Kita ke kamar, yu?" ajak Bu Airin.
"Mau apa?" tanya Ridwan.
"Takutnya kamu mau meminta hak kamu, aku siap," jawab Bu Airin.
Bukannya senang mendapat ajakan dari bu Airin, Ridwan malah merasa takut. Bahkan lututnya terasa lemas.
"Ini masih siang, baru jam sebelas. Sebantar lagi sahalat dzuhur, kita nonton tv saja." Ridwan mengambil remot tv dan menyalakannya.
Bu Airin memeluk Ridwan dan menyandarkan kepalanya di pundak suami brondongnya itu. Mendapatkan perlakuan seperti itu, tubuh Ridwan terasa gemetaran.
__ADS_1
"Kamu gugup, Wan?" tanya Bu Airin.
"He'em," jawab Ridwan tanpa menoleh.
"Jangan gugup, aku ngga gigit. Malahan aku maunya kamu yang gigit," kata Bu Airin.
Dia mengelus lembut pipi Ridwan, lalu dia mendongakkan wajahnya. Netra mereka saling beradu, Ridwan terlihat gugup sekali.
"Kamu tuh lucu, belum apa-apa sudah gemeteran. aku jadi pengen godain kamu," kata Bu Airin.
"Godain? Maksudnya gima--"
Belum selesai Ridwan bertanya, Bu Airin sudah naik ke atas pangkuan Ridwan. Dia memeluk leher Ridwan dan mendekatkan wajahnya.
"Kiss me!" Bu Airin memejamkan matanya dan memonyongkan bibirnya.
Ridwan nampak menelan ludahnya dengan susah, dia tidak menyangka jika wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu terlihat begitu menggoda.
"Tunggu dulu, aku belum siap." Ridwan menahan bibir Bu Airin dengan jari telunjuknya.
"Kamu lama! Kalau kita tidak memulainya dari sekarang, mau kapan?" tanya Bu Airin.
"Kasih aku waktu, ini semua terlalu mendadak," jawab Ridwan.
"Aku merasa jadi sugar Mommy, yang membutuhkan belaian dari brondong muda kaya kamu." Bu Airin nampak hendak turun dari pangkuan Ridwan. Namun, dengan cepat Ridwan mencegahnya.
"Kita mulai sekarang!"
Ridwan langsung menarik lembut tengkuk leher istrinya dan menautkan bibirnya dengan lembut, dia pagut bibir tipis itu. Dia sesap dan dia gigit.
Bu Airin terlihat senang, dengan apa yang Ridwan lakukan terhadap dirinya. Karena itu artinya, dia Ridwan sudah mau menerima dirinya.
Bu Airin nampak menjambak rambut suaminya, dia balas pagutan suaminya dengan gaya amatirnya.
Ya, walaupun sudah berumur dia memang tidak berpengalaman jika mengenai hal intim antara lelaki dan perempuan.
Berbeda dengan Ridwan yang memang sering berpacaran dengan wanita yang lebih tua dengannya, dia sering bergelut walau hanya sebatas bibir saja.
BERSAMBUNG....
"Aduh Thor, kok belum terungkap kenapa dengan Mini?" (Reader)
"Sabar ya, kalau sempat up jawabannya sore." (Othor kelewat soleha)
__ADS_1
Rencana tamat tanggal 28, ya kesayangan. Semoga bisa terlaksana. Soalnya Othor mau pulang kampung, mau sungkem dulu sama Emak.