Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 61


__ADS_3

Kinara terlihat masuk ke dalam kamarnya, dia mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih pantas untuk pergi ke kantor.


Dia memakai kemeja berwarna peach dipadupadankan dengan celana bahan berwarna putih, rambutnya dia ikat tinggi-tinggi.


Lalu, dia memoles wajahnya dengan make up tipis dan dia juga memakai pewarna bibir berwarna nude.


Dengan berpenampilan seperti itu, bukannya membuat Kinara terlihat lebih dewasa, justru Kinara malah terlihat semakin imut. Dia terlihat seperti anak SMA.


"Aku sudah siap," kata Kinara seraya memeluk lengan Angga.


"Ya, Ayah bisa lihat. Kamu sangat cantik, Sayang. Kita berangkat sekarang," ajak Angga.


"Ya," jawab Kinara.


Akhirnya Angga dan juga Kinara terlihat berangkat menuju perusahaan milik om Henry, perusahaan yang sebenarnya sudah beralih nama atas nama Angga.


Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Kinara terlihat begitu senang. Karena akhirnya dia diizinkan untuk ikut ke kantor, karena memang sejak dulu dia ingin sekali menjadi seorang pembisnis yang hebat.


Larasati saja begitu pandai dalam memajukan usahanya, masa dia tidak bisa. Dia tidak boleh lemah walaupun terlahir sebagai seorang wanita, pikirnya.


Sebenarnya Jonathan sudah berulang kali menawarkan dirinya untuk memilih fakultas kedokteran, sayangnya Kinara tidak tertarik akan hal itu.


Dia lebih baik memilih untuk menjadi seorang pembisnis dari pada harus bergelut setiap harinya dengan obat-obatan dan juga jarum suntik, menurutnya itu akan sangat membosankan.


Walaupun pada kenyataannya tugas dokter itu sangat mulia, yaitu menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tentunya semua itu atas kehendak Tuhan lewat tangan dokter.


"Sudah sampai, ayo kita turun," ajak Angga.


"Ya, Ayah," jawab Kinara.


Kinara dan juga Angga terlihat berjalan beriringan menuju ruangan milik Angga, setiap karyawan lelaki yang melihat Kinara terlihat menatapnya dengan tatapan penuh kagum.


Namun, Kinara seolah tidak perduli. Yang dia pedulikan saat ini hanyalah ingin belajar mengenai bisnis.


"Inilah ruangan Ayah," kata Angga setelah dia membuka pintunya.


Kinara langsung masuk ke dalam ruangan Angga, kemudian dia mengedarkan pandangannya. Dia tersenyum, kemudian berkata.


"Ruangannya lumayan luas dan terlihat sangat nyaman," kata Kinara.


Angga tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, tentu saja ruangannya sangat nyaman. Karena hal itu menunjang untuk melaksanakan pekerjaan terlaksana dengan lebih baik lagi.


"Ya, sekarang duduklah. Ayah mau meminta kamu untuk mengerjakan ini," kata Angga seraya membawa beberp berkas dan menyimpannya di atas meja.

__ADS_1


"Apa ini, Yah?" tanya Kinara.


"Ini berkas perusahaan yang sudah dikerjakan, kamu tinggal memeriksanya saja. Kamu tinggal menyesuaikannya dengan data yang ada di laptop ini, bisa, kan?" tanya Angga.


"Akan aku coba," jawab Kinara.


"Sekarang duduk dan kerjakan, Ayah mau meeting sebentar," kata Angga.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Angga, Kinara terlihat kaget. Karena ternyata kini dirinya akan ditinggalkan di sebuah ruangan yang terasa asing untuk dirinya.


Dia baru saja datang, tapi sudah harus belajar bisnis sendirian. Sedangkan Angga harus pergi untuk melaksanakan meeting di ruangan yang berbeda dari sana.


Rasanya nyali Kinara mulai menciut, dia seakan ingin meminta kepada Angga untuk pulang saja.


"Hey! Kenapa malah diam?" tanya Angga.


"Aku takut," jawab Kinara jujur.


"Jangan takut, karena kamu berada di ruangan Ayah. Tidak akan ada orang yang berani macam-macam, kamu tinggal duduk santai sambil memeriksa berkas. Kalau bosan kamu tinggalkan saja berkas-berkasnya, kamu boleh main ponsel," kata Angga.


"Ya sudah, Ayah pergilah untuk meeting. Aku akan berusaha untuk mengerjakannya," kata Kinara dengan suara rendahnya.


"Bagus, kalau begitu Ayah meeting dulu," kata Angga seraya mengelus puncak kepala Kinara.


Walaupun dia merasa takut, tapi dia ingin membuktikan kalau dirinya adalah orang yang mampu melaksanakan tugas yang diberikan oleh Angga dengan baik.


Karena memang tugasnya sangatlah ringan, Setelah berpamitan kepada Kinara Angga terlihat keluar dari ruangannya.


Kemudian, Kinara mulai duduk dan dia mulai menarik napasnya dalam-dalam. Lalu, dia mengeluarkannya dengan perlahan.


"Aku pasti bisa, Kinar pasti bisa. Kinar wanita yang hebat, kuat dan juga tangguh. Semua pekerjaan apa pun pasti bisa aku kerjakan," kata Kinara menyemangati dirinya sendiri.


Kinara mulai membuka berkasnya, lalu dia memeriksanya. Setelah itu dia mencocokkan datanya dengan data yang tertera di layar laptop yang kini ada di hadapannya.


Dia terlihat begitu fokus, bahkan rasa takut yang tadi sempat dia rasakan hilang entah ke mana.


Tok! Tok! Tok!


Kinara yang terlihat sedang fokus dalam bekerja nampak menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menatap pintu yang sedang diketuk dari luar.


Kalau memang itu Angga, tidak mungkin lelaki itu mengetuk pintu terlebih dahulu. Mungkin itu adalah sekretarisnya atau mungkin asisten pribadi dari Angga yang ingin memberikan laporan, pikir Kinara.


Dengan langkah malas Kinara bangun dan melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan tersebut, kemudian dia membukakan pintunya.

__ADS_1


Saat pintu terbuka dengan sempurna, dia melihat seorang lelaki tampan dan juga terlihat dewasa sedang berdiri tepat di hadapannya.


Kinara terlihat mendongakkan kepalanya, dia menatap lelaki tampan itu dengan lekat. Lalu, dahinya terlihat mengernyit dalam karena dia merasa jika dirinya pernah bertemu dengan orang tersebut.


Namun, di mana mereka pernah bertemu Kinara lupa. Dia langsung bertanya kepada pria itu.


"Maaf, anda siapa ya? Terus mau ketemu sama siapa?" tanya Kinara.


"Saya mau bertemu dengan tuan Angga, ada hal penting yang harus kami bicarakan," kata pria itu dengan tatapan matanya yang tidak teralihkan dari wajah Kinara.


"Tapi, ayah sedang meeting. Bisakah anda datang lagi lain waktu?" tanya Kinara.


"Tidak bisa, waktuku tidak banyak. Aku harus bertemu dengannya sekarang juga," kata pria tampan itu.


"Haish, anda ini pemaksa sekali. Ayah tidak ada, dia sedang meeting," tegas Kinara.


"Aku akan menunggunya," kata pria itu.


Setelah mengatakan hal itu, lelaki tampan dan juga terlihat dewasa itu nampak masuk ke dalam ruangan Angga.


Lalu, dia duduk tanpa diminta di atas sofa. Kinara terlihat kesal dibuatnya, dia langsung menghampiri lelaki tersebut dan berkata.


"Anda tidak boleh seenaknya masuk ke dalam ruangan ayah, anda tidak sopan! Kalau mau menunggu, tunggulah di luar," kata Kinara.


"Tidak bisa, aku mau menunggu di sini saja. Karena tuan Angga sudah mengirim pesan jika dia tidak akan lama melaksanakan meetingnya," kata pria itu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pria tampan tersebut, Kinara nampak menghentak-hentakan kakinya. Dia merasa tidak nyaman jika lelaki itu harus berada dalam satu ruangan bersama dengan dirinya.


"Ya ampun, anda tunggu di luar saja, ya. Aku tidak nyaman berduaan dengan pria yang tidak aku kenal," kata Kinara memelas.


Bukannya menjawab ucapan dari Kinara, lelaki tampan itu nampak menatap Kinara dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Aku bukan lelaki jahat yang akan menerkam gadis kecil seperti kamu," kata lelaki itu seraya merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya.


Kinara terlihat kesal, tapi dia merasa malas untuk mengatakan apa pun. Dia terpaksa mengalah, dia duduk tepat di hadapan lelaki tersebut.


Lalu, dia kembali mengerjakan tugasnya. Sesekali dia nampak menoleh ke arah pria tersebut, tapi pria itu hanya diam sambil memainkan ponselnya.


'Ya Tuhan! Lindungilah hamba dari lelaki yang kini berada di hadapan hamba,' do'a Kinara dalam hati.


"Kerjakan saja tugasmu, tidak usah menatapku dengan tatapan seperti itu!" kata Lelaki itu tanpa menoleh.


****

__ADS_1


Masih berlanjut. Selamat siang Bestie, selamat menikmati akhir pekan. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki.


__ADS_2