Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 66


__ADS_3

Putri merasa senang karena kedua orang tua Reon begitu perhatian terhadap dirinya, walaupun ada rasa risih dan kurang nyaman, tapi dia benar-benar bahagia mempunyai calon mertua seperti kedua orang tua Reon.


Walaupun terkesan cerewet dan sangat rempong, tapi Putri suka dengan perhatian dari mereka.


Selama seharian bekerja Putri benar-benar direcoki oleh ibu Amara dan juga tuan Andar, kedua pasangan suami istri itu terlihat terus saja menggoda Putri.


Mereka sengaja menggoda Putri agar gadis itu mau segera menikah dengan putranya, tapi ternyata tetap saja Putri berkata jika dirinya akan menikah nanti setelah selesai kuliah.


Dia tidak mau pikirannya terpecah belah karena akan susah mengatur semuanya, belum lagi jika nanti dia mengandung, pasti dia malah akan cuti kuliah, pikirnya.


Padahal Ibu Amara berkata jika Putri bisa memakai alat kontrasepsi terlebih dahulu jika memang belum mau memiliki keturunan, tapi Putri kekeh pada pendiriannya.


Pikiran Putri memang sudah sangat jauh, bahkan untuk rumah impiannya saja dia sudah membuat sendiri desain rumahnya seperti apa.


"Pulang yu, Sayang. Sudah sore," ajak Reon.


Reon terlihat berdiri tepat di samping Putri, lalu dia terlihat memijat pundak wanita yang sangat dia cintai itu.


Putri langsung merapikan berkas yang sudah selesai dia kerjakan seraya mennggedikkan kedua bahunya, lalu dia terlihat mendongakkan kepalanya.


"Geli, Mas. Ngga usah pijit-pijit, takutnya nanti Mas khilaf," kata Putri.


Reon seakan tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Putri, dia menghentikan aktivitasnya lalu menunduk dan bertanya.


"Khilaf? Maksudnya khilaf bagaimana?" tanya Reon. Putri tersenyum, entah Reon sedang berpura-pura tidak paham atau bagaimana.


"Nanti Mas pengen mijit yang lain," kata Putri seraya menepis tangan Reon dari pundaknya.


"Hah?"

__ADS_1


Bibir Reon terlihat menganga mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, sumpah demi apa pun dia hanya berniat memijat pundak wanitanya yang terlihat sangat lelah itu.


Tidak ada niatan sama sekali untuk melakukan hal yang lebih dari itu, dia sangat sadar jika mereka memang belum menikah.


Apalagi sering kali dia ingin mengecup kening Putri saja dia selalu menolak, alasannya nanti kalau halal Reon bisa melakukan apa pun terhadap Putri.


"Ngga usah sok polos deh, dari tadi kamunya cengar-cengir terus pas ibu Amara ngurusin masalah nikah sama bikin dede bayi. Pasti mikinya tuh udah kemana-mana," kata Putri.


"Ya ampun, sepertinya otak calon istriku sudah terkontaminasi dengan ocehan ibu." Reon menggelengkan kepalanya.


Reon terlihat berjongkok, kemudian dia menatap wajah Putri dengan lekat. Dia merasa jika calon istrinya itu semakin hari semakin cantik saja. Putri tersenyum, lalu dia mengelus lembut lengan Reon.


"Memangnya kamu ngga mikirin mijet yang lain?" tanya Putri penuh selidik.


"Mana ada!" tegas Reon seraya menepuk pelan jidat Putri.


"Makanya jangan ngeres tuh punya pikiran, nanti aku sapu baru tahu rasa!" kata Reon seraya mengusap jidat Putri.


"Iya, maaf. Habisnya kamu tuh mencurigakan," kata Putri. Putri terlihat kesal sekaligus malu terhadap calon suaminya itu.


"Sudah, lebih baik kita pulang. Jangan mikirin hal yang aneh-aneh, nanti malah kamu yang ngebet pengen nganu. Eh? Nikah," kata Reon.


Putri terlihat memelototkan matanya dengan apa yang dikatakan oleh Reon, dia selalu saja mengeluarkan kata-kata yang menurutnya belum waktunya dia ucapkan.


"Jangan marah, Sayang!" kata Reon.


"Iya," jawab Putri.


Reon terkekeh, kemudian dia bangun dan mengajak Putri untuk segera pergi dari sana. Tubuhnya sudah lelah, dia ingin segera mandi dan merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


Setelah mangambil tas miliknya, akhirnya Putri dan juga Reon terlihat melangkahkan kakinya untuk pulang, karena waktu memang sudah menunjukkan pukul lima sore.


Kini Putri dan juga Reon sudah berada di dalam mobil, Reon terlihat memasangkan sabuk pengaman untuk Putri dan untuk dirinya.


"Mau jajan dulu, atau mau langsung pulang aja?" tanya Reon seraya menatap wajah lelah Putri.


Putri nampak tersenyum, dia suka dengan perhatian yang selalu Reon tunjukkan padanya.


"Mau makan aja, sudah kangen masakan ibu," kata Putri.


Reon paham jika Putri pasti sudah lapar, karena tadi siang dia hanya makan sedikit. Dia terlalu sibuk meladeni ibunya yang terus saja mengajak dirinya untuk mengobrol.


Reon tersenyum, lalu dia mengelus lembut lengan Putri. Dia tatap wanitanya dengan penuh cinta.


"Baiklah, kita langsung pulang. Besok kita akan turun kelapangan, sebelum berangkat jangan lupa sarapan," ucap Reon mengingatkan.


"Iya, Mas Reon'ku tersayang. Sekarang buruan nyalain mesin mobilnya, nanti kita ngga sampai-sampai," kata Putri.


"Baik, Tuan Putri," kata Reon seraya mengacak lembut puncak kepala Putri. Putri tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Reon.


Sesuai dengan permintaan Putri, Reon langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Juki.


Dia sangat paham jika keseharian Putri pasti sangat melelahkan, beruntung hari ini tidak ada jadwal kuliah. Hal itu membuat Putri bisa pulang sore hari.


Saat mobil Reon masuk ke pelataran rumah Juki, Putri terlihat mengernyitkan dahinya. Dia merasa sangat heran, karena di atas tanah di samping rumah Juki terlihat ada banyak pasir, semen, batako dan juga besi beton.


***


Siang Bestie, bab kedua akan meluncur. Jangan lupa kasih like dan komentnya, sayang Kaleyan selalu.

__ADS_1


__ADS_2