
Yudha masih terduduk lesu sambil memeluk kaki Larasati, dia masih tak menyangka jika hidupnya akan jungkir balik hanya dalam waktu kurang dari empat puluh hari.
Larasati yang mulai merasa tidak nyaman pun meminta pak Arman untuk membantu Yudha agar bangun dan duduk, pak Arman yang mengerti pun langsung bangun dari sofa dan menghampiri Yudha.
"Bangunlah, Tuan Yudha. Mari duduk dan minum dulu biar lebih tenang," ajak Pak Arman.
Yudha menurut, dia melepaskan tangannya dari kaki Larasati. Kemudian, dia pun duduk di sofa dekat pak Arman.
"Minumlah!"
Pak Arman terlihat menyodorkan sebotol air mineral kepada Yudha, dengan tangan gemetar Yudha pun menerima air botol mineral tersebut.
Lalu, dengan gerakan lambat dia meminum air tersebut. Larasati dan juga pak Arman terdiam seraya menunggu Yudha tenang, setelah Yudha terlihat lebih tenang Larasati pun kembali berkata.
"Pulanglah, Mas. Ini sudah malam, anak dan istri kamu pasti sudah menunggu!"
Yudha terlihat melirik jam mewah yang berada di tangannya, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Dia pun jadi berpikir untuk segera pulang, agar bisa istirahat dan menenangkan pikirannya.
"Baiklah, Mas pulang dulu." Dengan langkah gontai Yudha terlihat melangkahkan kakinya keluar dari Cafe menuju parkiran.
Pak Arman dan Larasati mengikuti langkah Yudha, tepat saat Yudha hendak membuka mobilnya pak Arman kembali berkata.
"Maaf, Tuan Yudha. Anda sudah tidak boleh menggunakan mobil ini lagi," kata Pak Arman.
Mendengar ucapan pak Arman, Yudha terlihat kaget sekali. Bahkan Yudha langsung menatap heran ke arah pak Arman.
"Maksudnya bagaimana ya, Pak? Ini mobil saya, kenapa saya tidak boleh memakainya lagi?" tanya Yudha penasaran.
Pak Arman tersenyum kala mendengarkan pertanyaan dari Yudha, lalu dia pun kembali berkata.
"Apa Tuan lupa, jika mobil ini dibeli oleh Nyonya Larasati saat anda menikah dengannya?" tanya Pak Arman.
Untuk sesaat Yudha terdiam, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Pak Arman tersenyum, lalu dia kembali berkata.
"Saya sudah memeriksanya dan ternyata STNK dan juga bpkb-nya masih atas nama Nyonya Larasati, anda belum sempat membalik nama untuk mobil ini," jelas Pak Arman.
Lutut Yudha makin terasa lemas setelah mendengar penuturan dari pak Arman, karena hal itu memang benar adanya.
__ADS_1
Untuk dua mobil yang Larasati beli, Yudha tidak pernah membalik nama atas nama dirinya.
Karena menurutnya itu tidak penting, lagi pula Larasati tidak ada, mana mungkin Larasati akan meminta mobil tersebut.
Namun ternyata dia salah, karena kesalahannya tidak membalik nama mobil tersebut, kini dia pun tidak bisa kembali menikmati kemewahan mobil tersebut.
"Ras!"
Yudha terlihat menatap Larasati dengan tatapan mengiba, dia seolah meminta waktu untuk dirinya menyerahkan mobil itu kembali kepada Larasati.
Namun sayangnya Larasati hanya terdiam, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Hal itu membuat Yudha tidak bisa dengan mudah merayu Larasati lagi.
"Ras, Mas mohon. Jangan ambil juga mobilnya, Mas pake apa?" tanya Yudha.
Larasati terlihat tersenyum tipis, kemudian dia pun berkata.
"Aku tahu kalau selama dua tahun ini penghasilan Resto mengalir ke rekening pribadi kamu, Mas. Bahkan aku dengar dari Rendy kamu tidak menaikan gaji karyawan selama mereka bekerja, padahal penghasilan Resto makin besar. Apa salahnya kamu gunakan uang itu untuk membeli rumah dan juga mobil?" ucap telak Larasati.
"Bahkan saat kita masih berumah tangga, selama satu tahun kamu mengurus Resto, kamu mengalirkan uang Resto ke rekening kamu, Mas. Uangnya kamu pake untuk berselingkuh dan sisanya kamu simpan," ucap Larasati lagi.
Deg!
Bahkan Yudha sepertinya lupa, jika Larasati adalah lulusan manajemen bisnis dengan nilai terbaik dari universitas luar negri.
"Ta--tapi, Ras. Uang Mas tinggal 1m, kan kemarin sudah Mas transfer ke rekening kamu," ucap Yudha beralasan.
"Sudahlah, Mas. Lebih baik kamu pakai saja uang yang ada di dalam rekening kamu untuk membeli rumah dan juga kendaraan yang kamu butuhkan, aku kasih kamu waktu satu minggu untuk mencari rumah baru." Larasati tersenyum.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Yudha.
"Aku kan sudah bilang aku kasih waktu Mas satu minggu untuk membeli rumah baru, jadi... mulai minggu depan Mas ngga boleh tinggal di rumah aku lagi," jelas Larasati.
"Tega kamu, Ras. Seminggu itu hanya sebentar," keluh Yudha.
"Itu tidak seberapa, Mas. Apa kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan dulu? Bahkan kamu tak memberiku kesempatan untuk mencari tempat tinggal yang baru untuk aku dan Satri," ucap Larasati.
Mata Larasati terlihat mengembun, dia sebenarnya sudah ingin menangis. Namun dia berusaha tegar di hadapan Yudha, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki yang sudah membuat dirinya kecewa dan juga sakit hati.
__ADS_1
Yudha langsung terdiam, karena dia tahu jika kesalahan yang dia lakukan teramat besar. Bahkan kalau dia mengingat begitu kejamnya dirinya mengusir Larasati dari rumahnya sendiri, membuat hatinya terasa berdenyut.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pepatah, jika rumput tetangga selalu terlihat lebih memukau.
Namun, satu hal yang dia lupa. Jika istri terlihat tidak cantik jangan mengeluarkan uang banyak untuk wanita cantik, tapi seharusnya dia mempercantik istrinya dengan uang yang dia punya, agar rumah tangganya tetap utuh dan lebih harmonis.
Memang kesalahan banyak pria seperti itu, merasa bosan dengan istri yang terlihat kusut di rumah, mereka mencari wanita cantik, memujanya dan rela menghabiskan isi kantongnya untuk perempuan cantik tersebut.
Padahal, uang yang mereka berikan kepada wanita cantik di luar sana bisa mereka gunakan untuk mempercantik istri di rumah.
Selain merupakan ibadah, mereka pun mendapat pahala dan wanita halalnya akan terlihat lebih cantik lagi.
"Lalu, Mas pulang pake apa?" tanya Yudha dengan wajah sendunya.
"Naik taksi, atau mobil online juga banyak," jawab Larasati.
"Ras!" Yudha terlihat mengiba.
Larasati seolah tak perduli, dia lalu mengalihkan pandangannya kepada pak Arman.
"Pak, tolong ambil kunci mobil yang ada di tangan Mas Yudha. Jangan lupa pesankan taksi online untuknya, saya masuk ke dalam dulu," kata Larasati.
Setelah mengatakan hal itu, Larasati langsung masuk ke dalam Cafe. Dia sudah tidak ingin berbicara panjang lebar lagi kepada Yudha, setelah kepergian Larasati pak Arman pun menurut, dia meminta kunci mobil dari Yudha lalu memesankan taksi online untuk Yudha.
*
*
Teruntuk sayang-sayangnya aku, yang sabar ya....
Ini novel baru, pembalasan untuk sang mantan pasti akan berjalan dengan perlahan.
Kalau langsung jebred sadis, Novelnya entar and dong. Kita main perlahan-lahan, bikin Yudha sama Jesicca kelabakan dulu ya....
Masih banyak balasan untuk Yudha di bab selanjutnya, terima kasih dukungannya untuk kaleyan semua. ππππππ
Oh, iya. Ini novel ikut lomba mengubah takdir, kalau alur ceritanya ada yang kurang kalian boleh kasih saran. Kalau ada yang salah Boleh kasih kritiknya, kalau bisa sekalian sama solusinya.
__ADS_1
I Love You sekebon kembang, jangan lupa like, vote, koment sama hadiahnya yang banyak.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ