Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Boncap 3


__ADS_3

Kinara terlihat begitu bahagia karena akhirnya dia menjadi seorang pemenang dari lomba balap liar tersebut, senyuman manis terus tersungging di bibirnya.


Dia benar-benar tidak menyangka, jika dirinya akan mengalahkan para pembalap pria yang terlihat gagah dan juga tangguh.


Bukan hanya karena itu saja, dia juga merasa bahagia karena dia memenangkan taruhan. Tentu saja sebelum mereka melakukan lomba ada sejumlah uang yang dipertaruhkan.


"Yeey, gue menang. Gue bilang juga apa, gue pasti menang. Cemen!" tunjuk Kinara pada seorang pria berseragam putih abu.


"Elu menang karena lagi beruntung aja, belum tentu lain kali elu bisa ngalahin gue!" ketus pria itu.


"Alah! Udah kalah belagu, sok ke--"


"Kinar!" Suara Larasati yang terdengar pelan, tapi penuh penekanan.


Hal itu sontak membuat Kinara langsung menolehkan kepalanya, senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya langsung redup seketika.


Dia terlihat begitu ketakutan saat melihat Larasati yang menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


Bahkan dia bisa melihat ada air mata yang terus merembes di kedua pipi bundanya, terlihat sekali ada raut kekecewaan di sana.


Kinara langsung menunduk lesu, dia tidak tahu harus berkata apa kepada bundanya tersebut.


Pria yang sedari tadi diolok-olok oleh Kinara terlihat tertawa, lalu dia menepuk pundak Kinara dengan cukup kencang.


"Lihatlah! Setelah ini tamat riwayat elu, karena elu ngga bakal bisa balapan lagi," kata pria tersebut seraya tersenyum jahat.


Setelah mengatakan hal itu, pria itu langsung pergi meninggalkan Kinara. Larasati dan juga Satria terlihat menghampiri Kinara, dia kini terlihat seperti seorang tersangka.


Sebenarnya Satria juga kecewa terhadap adiknya itu, dia ingin memaki adiknya tersebut.


Namun, rasa kasihan dan juga rasa sayangnya terhadap Kinara sangatlah besar, Satria tidak mungkin melakukan hal itu. Apalagi di depan banyak orang.


"Sudahlah, Buna. Jangan menangis lagi, sekarang kita pulang. Kita bicarakan baik-baik di rumah," ucap Satria memulai pembicaraan.


Untuk sesaat Larasati menatap wajah tampan Satria, dia merasa jika usul dari putranya tersebut memanglah benar.


Tak lama kemudian Larasati terlihat menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kita bicara di rumah!" ucap Larasati.


Setelah mengatakan hal itu kepada Satria, tatapan Larasati langsung beralih kepada Kinara.

__ADS_1


"Kita harus berbicara di rumah, Kinar. Sekarang masuklah ke dalam mobil!" kata Larasati.


Kinara memberanikan diri untuk menatap wajah Larasati, matanya nampak berkaca-kaca. Dia merasa sangat bersalah karena melakukan balap motor liar tanpa sepengetahuan bundanya tersebut.


Kinara terlihat menghampiri Larasati, dia terlihat ingin memeluk bundanya tersebut. Namun, dengan cepat Larasati menghindar dan meninggalkan Kinara.


Rasa sesak langsung menyeruak di dalam dada Kinara, dia tahu jika dirinya salah. Dia tahu jika bundanya kini begitu kecewa terhadap dirinya.


Kinara langsung mengejar Larasati dan ikut masuk ke dalam mobil yang bundanya tersebut tumpangi.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Larasati, baik Kinara, Satria atau pun Larasati tidak ada yang memulai ucapan.


Mereka terlihat sibuk dengan pemikiran masing-masing, sesekali Kinara terlihat menolehkan kepalanya ke arah Larasati.


Sungguh dia tidak betah dengan keadaan ini, Kinara memberanikan diri untuk memeluk Larasati.


Lalu, menyadarkan kepalanya di pundak bundanya tersebut.


"Maafkan, Kinar, Bunda. Kinar janji, Kinar tidak akan melakukan balap motor lagi," kata Kinara seraya terisak.


Larasati tidak menyahuti ucapan putrinya, dia hanya terdiam dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


Satria yang paham dengan apa yang dirasakan oleh bundanya, langsung memeluk bundanya dan mengelus puncak kepala wanita yang telah melahirkannya tersebut dengan sangat lembut.


*/*


Di sinilah mereka berada, di dalam ruang keluarga. Larasati baru mau menemui putrinya kembali setelah Jonathan pulang.


Bahkan Larasati tidak keluar dari dalam kamarnya saat makan malam tiba, dia masih merasa enggan untuk bertemu dengan putrinya tersebut.


Dia tidak ingin berbicara sebelum Jonathan pulang, karena dia takut merasa emosi dan kelepasan dalam berbicara.


Jonathan terlihat menghampiri Kinara, lalu dia duduk tepat di samping putrinya tersebut. Dia elus puncak kepala putrinya dengan penuh kasih.


"Kinar! Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Buna bisa terlihat sedih seperti itu?" tanya Jonathan terhadap putrinya tersebut.


Untuk sesaat Kinara terlihat terdiam, dia menunduk seraya memilin ujung baju tidur yang dia pakai.


Dia merasa ketakutan kala Jonathan bertanya kepada dirinya, padahal Jonathan terlihat menanyakan hal tersebut dengan kata-kata yang sangat lembut. Namun, tetap saja putrinya itu terlihat ketakutan.


"Jawab Kinar, Sayang!" kata Jonathan.

__ADS_1


"I'm sorry, Daddy. Aku melakukan balap liar lagi," kata Kinara tanpa berani menatap wajah sang ayah.


"Oh, Lord!" Jonathan langsung menepuk jidatnya.


"Daddy, please. Maafkan aku," pinta Kinara.


"Heh!"


Terdengar helaan napas panjang dari bibir Jonathan, dia benar-benar tidak menyangka jika putrinya akan melakukan hal tersebut lagi.


Padahal sebelumnya dia juga sempat berjanji tidak akan melakukannya lagi, tapi Kinara mengingkari.


"Janji tidak akan mengulanginya lagi?" tanya Jonathan.


"Janji, Dad." Kinara memeluk Jonathan dengan erat.


"Minta maaflah pada Buna, tapi kamu harus ingat. Kalau kamu mengulangi kesaahan kamu lagi, Daddy akan mengirim kamu untuk bersekolah di negara A bersama Aunty Mini."


Ya, Mini dan Angga sekarang tinggal di negara A. Mereka mengelola usaha om Hendry yang ada di sana.


Setelah melakukan banyak usaha, akhirnya mereka mendapatkan tiga putra sekaligus lewat program bayi tabung.


Mini langsung melahirkan tiga baby tampan sekaligus, mereka sangat aktif dan jahil Membayangkan hal itu membuat Kinara bergidig.


"No, Dad." Kinara mengeratkan pelukannya.


"Jangan nakal lagi!" pinta Jonathan.


"Tidak akan," jawab Kinara seraya melipat ketiga jarinya di belakang punggung.


'Aku tidak bisa, Dad. Maaf aku berbohong,' kata Kinara dalam hati.


*


*


Selamat malam kesayangan, semoga masih ada yang nunggu. Selamat malam mingguan ya, guyz. Jangan lupa untuk mampir juga di karya Othor yang berjudul Tumbal Perawan.



__ADS_1


__ADS_2