
Setengah Jam sebelumnya.
"Bu Rita, mana data orang yang katanya mau melamar di perusahaan kita?" tanya Bu Airin dari ambang pintu.
Bu Rita yang sedang duduk manis di belakang mejanya sambil mengotak-atik laptopnya langsung menghentikan kegiatannya.
"Ini, Bu." Bu Rita nampak menunjukkan data di layar laptopnya.
"Oh, biar saya lihat." Bu Airin menutup pintu dan duduk sambil mengambil alih laptop milik Bu Rita.
Bu Airin terlihat membaca data dari Ridwan, dia tersenyum seraya manggut-manggut.
"Masih muda, berpengalaman, saya suka," kata Bu Airin.
"Jadi, langsung diterima saja atau mau menunggu yang lainnya?" tanya Bu Rita.
"Saya sih merasa tertarik dengan pria muda ini, tapi kita harus review dulu. Kalau kata kamu layak, saya langsung ok!" sahut Bu Airin.
"Siap, Bu!" jawab Bu Rita.
"Ya, sudah. Kamu saja yang review, saya mau masuk ke ruangan saya dulu. Belum ngopi," ujar Bu Airin seraya bangun dan berjalan ke arah pintu.
*/*
Di sinilah sekarang Ridwan berada, di dalam ruangan bu Airin. Setelah direview oleh bu Rita, ternyata wanita yang menjabat sebagai HRD itu sangat menyukai jawaban dari Ridwan.
Suasana canggung sangat terasa, Ridwan beberapa kali meremat kedua tangannya secara bergantian.
Bahkan sesekali dia terlihat mengelap dahinya yang mengembun, padahal ruangan tersebut sudah sangat dingin.
Namun, Ridwan merasa sangat kepansan. Apalagi saat dia melirik wajah bu Airin dengan ekor matanya dan melihat bibir Bu Airin, tambah panas.
Bu Airin juga sama dengan Ridwan, dia merasa gugup setelah kejadian yang belum lama menimpa mereka.
Hanya saja, bu Airin lebih pandai menyembunyikan rasa itu.
"Ekhm! Saya sudah baca data kamu, semuanya bagus. Saya juga sudah menerima laporan dari Bu Rita kalau jawaban kamu sangat memuaskan," kata Bu Airin.
Ridwan yang sedari tadi menunduk memberanikan diri untuk menatap wanita cantik di hadapannya.
"Terima kasih, Bu." Ridwan tersenyum manis.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu memilih untuk melamar kerja di perusahaan saya? Padahal kamu sedang bekerja di perusahaan yang lumayan bagus," tanya Bu Airin.
"Tentu saja karena perusahaan ibu merupakan perusahaan yang jauh lebih besar, gajinya juga sangat besar dibandingkan dengan tempat saya bekerja kemarin. Hidup ini banyak tanggungan, Bu. Apalagi saya lajang, perlu uang untuk menabung biaya pernikahan," celetuk Ridwan.
__ADS_1
"Ya ampun!" kata Bu Airin seraya terkekeh.
*/*
Di lain tempat.
Satria terlihat sedang merengek, dia begitu merindukan Yudha. Bahkan, dia seolah tidak sabar untuk bertemu dengan Yudha.
Padahal kemarin sore mereka baru saja bertemu, Yudha sengaja datang ke kediaman Dinata untuk berpamitan kepada Larasati dan juga Satria kalau dia akan bekerja sekaligus tinggal di Panti milik Bu Airin.
Walau dia harus mendapatkan tatapan tajam dari tuan Elias dan juga nyonya Meera, namun Yudha seolah tidak gentar untuk menemui putra dan mantan istrinya itu.
"Ketemu Papa Yudha'nya nanti sore, ya, Sayang. Nunggu daddy Jo," kata Larasati.
"No!" jawab Satria dengan gelengan kepalanya.
"Hah!"
Larasati terlihat menghembuskan napas berat, sudah hampir satu jam dia merayu putranya namun tidak mempan.
"Oke, kita ke Panti sekarang." Larasati bangun dan segera menuntun Satria untuk keluar dari dalam kamarnya.
Wajah Satria terlihat sumringah, bahkan dia sampai melompat-lompat kegirangan. Tiba di ruang keluarga, Larasati meminta izin kepada nyonya Meera untuk menemui Yudha.
Nyonya Meera tentu saja mengizinkan, dengan syarat dia harus ikut. Dia takut jika Yudha akan merayu Larasati dan menghancurkan rumah tangganya bersama dengan Jonathan.
Yudha memang pernah sangat menyakiti dirinya, namun Larasati sangat yakin jika Yudha sudah berubah. Apalagi saat melihat sorot matanya.
"Baiklah, Mom. Apa pun kata Mommy, yang terpenting Satria bisa bertemu dengan papanya," jawab Larasati pasrah.
Setelah mendapatkan persetujuan dari nyonya Meera, akhirnya mereka meminta pak Sopir untuk mengantarkan mereka ke Panti.
Empat puluh menit kemudian, pak Sopir nampak memberhentikan mobilnya di depan Panti yang mereka tuju.
Satria langsung turun dengan tidak sabarnya, karena dia melihat Yudha yang sedang melukis ditemani anak-anak berusia tiga sampai lima tahun.
"Papa!" teriak Satria.
Yudha yang sedang menorehkan cat warna langsung menghentikan aktivitasnya, senyum di wajah tirusnya langsung mengembang.
"Satria!" seru Yudha dengan kaca-kaca di matanya.
Satria langsung melompat dan dengan sigap Yudha menangkap tubuh mungil itu dan memeluknya dengan erat.
"Aku kangen," celetuk Satria.
__ADS_1
Air mata langsung mengalir di pipi Yudha saat mendengar hal itu, dia sangat bersyukur karena putra yang tidak pernah dia anggap kelahirannya terlihat begitu merindukan dirinya.
"Papa juga, kamu sama siapa ke sini?" tanya Yudha seraya mengecupi puncak kepala putranya.
Melihat akan hal itu, anak-anak panti ikut meneteskan air matanya. Sedih sekaligus senang saat melihat mereka berdua mencurahkan kasih sayang.
"Syama Buna, syama Oma." Satria melarai pelukannya, lalu dia menunjuk Larasati dan juga nyonya Meera yang sedang berjalan ke arah Yudha dengan membawa dua kantong besar di tangannya.
"Hai anak-anak, Tante Rara bawa mainan dan juga makanan. Kalian mau?" tanya Larasati.
Mendengar tawaran dari Larasati, anak-anak Panti terdengar begitu riang. Mereka bersorak gembira dan langsung menerima mainan dan juga makanan dengan antusias.
Hal itu membuat pengurus Panti langsung keluar dan menghampiri Larasati.
"Maaf, ibu siapa, ya?" tanya wanita paruh baya itu.
"Saya Larasati, Bu. Ini Mommy saya, saya mantan istrinya Mas Yudha. Saya ke sini mengantar anak saya yang sedang rindu sama Papanya," jawab Larasati.
Pengurus Panti tersebut nampak menjabat tangan Larasati dan juga nyonya Meera.
"Terima kasih karena kalian sudah berbaik hati membawa oleh-oleh untuk anak Panti," kata pengurus Panti tulus.
"Sama-sama," jawab Larasati.
"Silakan duduk dulu, saya akan meminta anak saya untuk menyiapkan minuman," kata pengurus Panti.
"Iya, Bu. Tapi sebelumnya, saya mau ngasih ini. Buat anak-anak Panti," kata Larasati menyerahkan amplop tebal berwarna coklat.
"Alhamdulillah, hari ini Panti kami kedatangan wanita baik seperti anda. Semoga anda dan keluarga sehat selalu, berkah dalam menjalani kehidupannya," kata pengurus Panti tulus.
"Aamiin," jawab Larasati.
Larasati dan juga nyonya Meera duduk di bangku yang ada di sana, sedangkan pengurus Panti langsung masuk ke dalam, dia ingin meminta anaknya untuk membuatkan minuman.
Larasati terlihat memperhatikan kebersamaan Yudha dan juga Satria, tidak dapat Larasati pungkiri kalau Satria terlihat begitu menyayangi Yudha, karena mungkin adanya ikatan batin yang tidak akan pernah terputus.
Berbeda dengan nyonya Meera yang hanya diam saja, dia seolah tak ingin berkata apa pun juga.
Tak lama kemudian Larasati melihat seorang wanita cantik dan muda menghampiri dirinya bersama nyonya Meera, dia membawa nampan berisikan teh hangat.
"Silakan, Bu. Di minum teh hangatnya," ucapnya.
"Terima kasih," kata Larasati.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Satu bab untuk menemani waktu sahur kaleyan, Othor pamit mau masak.