
Juki terlihat begitu bersemangat setelah mendapatkan pelepasannya, apalagi setelah menyelesaikan ritual mandinya, dia terlihat semakin tampan di usianya yang semakin matang.
Jesicca juga sudah terlihat rapi dan cantik, dia langsung berpamitan untuk pergi ke dapur. Dia ingin membantu Ibu mertuanya untuk memasak.
Berbeda dengan Juki, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
Di sana dia melihat putri yang sedang asyik menonton film kartun, sedangkan kedua putra kembarnya terlihat duduk di atas karpet bulu yang tebal.
Mereka duduk saling berjauhan dan terlihat saling memalingkan muka, kedua putra kembarnya tersebut seolah sedang marah, sedang kesal dan tidak ingin berdekatan satu sama lainnya.
Kedua putra kembarnya Alex dan Ansel masih saja terlihat cemberut, karena keduanya merasa paling benar.
Alex merasa benar karena dia berkata kepada adiknya jika Ansel tidak boleh sembarangan mengambil mainan kakaknya.
Ansel juga merasa benar, karena dia berkata jika dirinya tidak mengambil mainan milik kakak kembarnya, namun hanya meminjam saja.
"Loh, kok masih diem-diaman aja? Katanya Abang mau mengalah sama Ade," kata Juki seraya menghampiri kedua putra kembarnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, kedua putra kembarnya langsung menghambur ke dalam pelukan Juki.
"Habisnya Adenya ngga mau dibilangin, Ba. Dia selalu semaunya sendiri," adu Alex.
Ansel yang mendengar kakaknya mengadu kepada bapaknya tersebut, langsung membela dirinya.
Dia langsung memundurkan wajahnya, lalu dia mulai berbicara kepada Juki.
"Tapi, Ba. Abang jahat, Abang bilang aku ngga boleh ngambil mainan sembarangan. Aku ngga ngambil, aku cuma pinjem doang," ucap Ansel polos.
Juki terkekeh mendengar penuturan dari kedua putranya, beginilah pikirnya kalau mempunyai dua putra kembar.
Sangat dibuat repot, namun Juki merasa sangat senang karena dia merasa menjadi orang tua sesungguhnya.
"Kalian tidak boleh marahan seperti itu, kalian harus selalu akur. Harus saling menyayangi dan menghargai, juga saling perhatian terhadap saudara sendiri. Tidak boleh berdebat dan tidak boleh saling membenci," kata Juki menasehati.
Kedua bocah tampan tersebut terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, mereka seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Juki.
Namun, beberapa saat kemudian mereka terlihat saling tatap dengan sengit. Kemudian, Alex mulai membuka suaranya.
"Tapi, Ba. Ade selalu saja ingin menang sendiri, masa Abang terus yang ngalah? Kan, Abang juga capek," keluh Alex.
Juki mengusap puncak kepala putranya dengan penuh kasih sayang, dia paham jika putra bungsunya Ansel selalu saja membuat dirinya kesal.
Ansel selalu saja ingin menguasai mainan abangnya, padahal dia sendiri mempunyai mainan yang sama.
Namun, Juki berusaha untuk menjadi bapak yang baik. Dia berusaha untuk menengahi pertengkaran di antara kedua putranya tersebut.
"Ya, terkadang mengalah itu membuat kita merasa lelah. Namun, itu tandanya kamu merupakan pria sejati dan juga pengertian," ucap Juki menghibur.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, Ansel langsung melerai pelukannya. Dia duduk di atas paha Juki, kemudian dia berkata.
"Tapi, Ba. Aku tidak akan nakal kalau Abang tidak pelit, Abang selalu pelit. Abang selalu merasa mainannya akan cepat rusak jika aku meminjamnya, padahal aku tidak akan merusaknya." Ansel terlihat mencebikkn bibirnya.
Juki hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putra kembarnya tersebut, sungguh saat ini dirinya menjadi serba salah.
__ADS_1
Jika dia memilih salah satu dari kedua putra kembarnya, pasti kedua putra kembarnya akan ada yang merasa iri hati.
"Kamu juga harus pengertian, Nak. Abang kamu juga ingin memainkan mainannya, lagipula kalian sudah mempunyai mainan yang kalian suka. Setiap Baba membelikan mainan, Baba selalu membelikan mainan untuk kalian berdua. Jadi, tidak boleh saling iri, tidak boleh saling berebut. Harus akur!" tegas Juki.
"Ya, Baba." Kedua putranya terlihat menjawab sembari menunduk.
"Nah, gitu dong. Kalian tidak boleh bertengkar lagi, Baba sayang kalian berdua. Tidak ada yang Baba beda-bedakan, Kakak Putri juga selalu Baba sayang," kata Juki seraya memeluk kedua putra kembarnya tersebut.
Alex dan Ansel langsung membalas pelukan dari Juki, Putri yang terlihat sedang anteng menonton film kartun kesukaannya pun langsung bangun dan menghampiri Juki.
Dia memeluk Juki dari belakang, lalu menyandarkan kepalanya di pundak bapak sambungnya itu.
"Putri juga sayang sama Baba, terima kasih karena selama ini Baba selalu memberikan perhatian yang sama seperti Baba memberikan perhatian kepada Alex dan juga Ansel," kata Putri tulus.
Putri sudah berusia empat belas tahun, tentu saja dia sudah paham jika dirinya hanyalah anak bawaan dari Jesicca.
Tentu saja Putri sangat paham jika bapak kandungnya adalah Yudha, lagi pula Juki memang selalu memberikan kasih sayang sebagai seorang bapak kepada Putri.
Namun, dia selalu memberikan pengertian kepada Putri, bahwa Yadha'lah ayah kandungnya.
Namun, walau bagaimanapun juga, dia tetap menyayangi Putri sama seperti dia menyayangi putrinya sendiri.
Putri sangat paham dengan hal itu, bahkan dia merasa senang karena mempunyai dua orang bapak sekaligus.
Kedua-duanya bahkan sangat pengertian dan perhatian terhadap Putri, apalagi Yudha. Walaupun masa lalunya sangat buruk, namun Putri sangat menyayangi Yudha.
Karena kini Yudha sudah menjadi lelaki yang sangat baik, bahkan selama ini dia hanya menghabiskan hidupnya untuk menyayangi Satria, Putri dan juga anak-anak Panti.
"Ya, ya, ya. Sekarang kalian bersiap, karena sebentar lagi waktu maghrib akan tiba," kata Juki.
Ketiga buah hati Juki langsung masuk ke dalam kamar mereka, karena mereka harus bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib.
Di kediaman Jonathan.
Larasati terlihat mondar-mandir dengan raut wajah khawatir, hari sudah mulai gelap. Adzan maghrib sebentar lagi berkumandang, namun Kinara belum juga pulang.
Adik dari Satria itu meminta izin untuk belajar kelompok, namun sampai saat ini dia belum juga kelihatan batang hidungnya.
Hati Larasati benar-benar ketar-ketir, dia takut Kinara melakukan balap liar kembali. Lalu dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, kemana anak itu? Kenapa tidak pulang-pulang?" tanya Larasati dengan tatapan mata yang tidak lepas dari pintu gerbang.
"Buna! Masuk dulu, sudah hampir maghrib. Nanti kita cari bareng kalau selepas maghrib tidak pulang juga," ucap Satria menenangkan.
Satria sebenarnya tidak paham dengan apa yang Kinara pikirkan, kenapa anak itu begitu nekat untuk menekuni hobinya yang begitu membahayakan.
Namun, Satria juga tidak bisa bersikap terlalu keras kepada Kinara. Karena walau bagaimanapun juga, balap adalah hobi dari Kinara.
Satria bahkan pernah berpikir untuk meminta kepada Jonathan, agar dia mau mengizinkan Kinara menekuni dunia balap yang legal.
Agar Kinara tidak nekat lagi melakukan balap liar, namun ada wadah yang bisa untuk dijadikan Kinara dalam menyalurkan hobinya.
"Iya, sepertinya kita memang harus shalat dulu." Larasati langsung memeluk Satria dan mengajaknya untuk masuk.
__ADS_1
Namun, baru saja Larasati dan juga Satria hendak masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba saja sebuah motor berhenti tepat di depan pintu gerbang.
Nampaklah Kinara yang datang diantarkan oleh tukang ojek, Larasati dan juga Satria menghentikan langkahnya.
Kemudian mereka menghampiri Kinara dengan penuh rasa khawatir, wajah Kinara nampak baik-baik saja.
Namun, mereka merasa aneh karena Kinara terlihat memakai jaket dan juga terlihat memakai celana panjang.
"Kamu pake jaket siapa? Itu celana panjang punya siapa? Terus, kamu dari mana saja?" tanya Larasati.
"Anu Buna, itu. Kita masuk dulu, sudah adzan. Nanti Kinara cerita," kata Kinara.
Awalnya Larasati merasa kesal karena Kinara selalu saja bisa mencari alasan, namun karena memang benar adanya suara adzan telah berkumandang, akhirnya Larasati mengalah.
"Baiklah, kita masuk. Untung daddy sedang pergi, kalau ada, habis kamu." Larasati terlihat melengos.
"Sorry, Buna." Kinara langsung memeluk Larasati.
Larasati terlihat menghempaskan kedua tangan Kinara, lalu dia berlalu begitu saja. Kinara tersenyum kecut, lalu dia memeluk lengan kekar Satria dan menyandarkan kepalanya di pundak abangnya tersebut.
"Abang sayang, kan, sama Kinara?" tanya Kinara seraya bergelayut manja.
"Hem," jawab Satria.
"Kalau Abang, sayang. Jangan marah sama Kinar," pinta Kinara.
"Abang tidak akan marah, Kinar. Hanya saja, kamu harus bisa berpikir dengan jernih. Kasihan Buna kalau setiap hari harus direpotkan sama kamu," kata Satria.
"Maaf, Abang. Aku hanya belajar kelompok, SUER!" ucap Kinara.
"Ck! Ngga usah bohong kamu, kamu kira Abang ngga tahu? Kamu pakai jaket seperti ini karena menutupi bekas luka, kamu kalah dan terjatuh karena dicurangi," kata Satria.
"Mana ada yang seperti itu!" elak Kinara.
"Ck!"
Tanpa banyak bicara Satria langsung mencemgkram pundak Kinara dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terlihat meremat sikutnya.
"Aduh, Adu--duh. Sakit Abang!" teriak Kinara.
"Bandel!" kata Satria seraya melepaskan cengkraman tangannya.
**/
Bismillah kita mulai lagi, nyok. Mudah-mudahan kalian masih mau mampir dan baca, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
Yang suka cerita menguras emosi bisa mampir ke karya temen Othor, ya.
Buat yang belum mampir di karya Othor yang bertema misteri horor romantis, di tunggu juga.
__ADS_1