
Sudah hampir dua jam Satria pergi, namun tidak ada kabar sama sekali. Hal itu benar-benar membuat Jonathan, Larasati dan juga tuan Elias merasa sangat khawatir.
Apalagi ini untuk pertama kalinya Satria pergi sendiri tanpa didampingi oleh mereka, mereka mengira jika Satria hanya akan pergi sebentar saja. Namun, pada kenyataannya sangat lama.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah keluarga Dinata.
Tuan Elias dan juga Larasati berjalan dengan tergesa, karena ingin mengetahui siapa yang datang.
Jonathan bahkan sampai menegur istrinya tersebut, karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.
"Pelan-pelan, Sayang. Jangan terburu-buru, takut dedenya kenapa-kenapa," kata Jonathan.
"Iya, Mas Jo, Sayang." Larasati memeluk lengan kekar Jonathan dengan manja.
Tiba di halaman rumah, ternyata benar jika Hendro yang datang. Namun, Tuan Elias, Larasati dan juga Jonathan nampak mengernyit heran kala yang turun dari mobil tersebut adalah nyonya Meera bersama dengan Hendro. Tidak ada Satria di sana.
Larasati langsung menghampiri nyonya Meera dan segera bertanya.
"Mom, Satria mana?" tanya Larasati.
Nyonya Meera yang mendapatkan pertanyaan tentang Satria terlihat mengernyit heran, apa hubungannya dirinya dengan Satria, pikirnya.
"Halo! Mommy baru saja pulang, kenapa bertanya kepada Mommy?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Larasati, nyonya Meera malah kembali bertanya. Tuan Elias menghampiri istrinya, lalu dia berkata.
"Tadi Satria pergi bersama dengan Hendro, katanya mau membeli buah Cermai," kata Tuan Elias seraya menatap tajam ke arah Hendro.
Merasa tersudutkan, Hendro langsung menghampiri tuan Elias. Lalu, dia pun berkata.
"Maaf, Tuan. Den Satria tadi minta diantar ke Panti, katanya nanti dia akan pulang bersama dengan--"
Belum juga Hendro menyelesaikan ucapannya, sebuah motor matic masuk ke dalam halaman kediaman Dinata.
Ternyata Satria pulang ke kediaman Dinata diantar oleh papanya, Yudha. Satria nampak duduk di depan dengan bangku khusus balita, sedangkan Yudha terlihat mengemudikan motor tersebut dengan membawa satu karung yang terikat di belakang motornya.
Entah apa isinya, Larasati tidak tahu. Yang pasti karung itu nampak terlihat sangat berat sekali.
Yudha nampak memberhentikan motornya tepat di depan tuan Elias, Jonathan langsung menghampiri Yudha dan menggendong Satria.
"Kamu dari mana, hem? Dari negeri Jiran?" tanya Jonathan.
Satria memandang wajah Jonathan dengan lekat, kemudian dia berkata.
"Membeli pesyanan Daddy," jawab Satria.
Jonatahan memalingkan wajahnya ke arah Yudha, dia seolah meminta jawaban. Yudha tersenyum, dia membuka ikatan dan menurunkan karungnya.
__ADS_1
"Ini buah Cermai pesanan Daddy Jo," kata Yudha seraya terkekeh.
Jonathan nampak membelalakan matanya, dia tidak menyangka jika Satria benar-benar akan mencarikan buah yang dia minta sampai ke daerah selatan.
"Ya ampun, banyak sekali, Mas!" pekik Larasati saat Yudha membuka karungnya.
"Kata pak Mail buat setok, kalau mau awet ya tinggal dibuatkan manisan," jawab Yudha.
Yudha merasa lucu kala mengingat kedatangan Satria di Panti, dia langsung meminta Yudha untuk mengantarkan Satria ke taman rumah pak Mail.
"Jadi, beneran beli sama orang yang namanya Mail?" tanya Tuan Elias.
Yudha tersenyum, lalu dia menjawab.
"Iya, pak Mail itu rumahnya dekat Panti. Dia punya banyak pohon Cermai, suka dia jual setelah dia jadikan manisan," jawab Yudha.
"Tapi, kenapa Satria bisa tahu kalau di sana ada yang menjual buah Cermai?" tanya Jonathan.
"Karena saat Satria ke Panti, Satria bertemu saat pak Mail mengantarkan manisan kepada Ibu Panti. Satria sempat mengobrol dan bertanya kepada pak Mail," jawab Yudha.
"Kenapa aku tidak tahu?" tanya Larasati.
"Karena saat itu kamu sangat sibuk berbagi dengan anak-anak Panti," jawab Yudha.
Larasati tersenyum, dia ingat kala dia datang ke Panti. Dia memang sangat sibuk berbagi dan mengobrol dengan anak Panti.
"Oh, maksaih, ya, Mas. Maaf merepotkan," kata Larasati.
Yudha jadi mengingat kala Larasati mengandung Satria dulu, di awal kehamilan Larasati, Yudha begitu menyayangi dan memberikan perhatian lebih kepada Larasati.
Karena Larasati tengah mengandung buah cinta mereka. Setiap pagi, siang, sore dan malam Yudha selalu bertanya apa yang diinginkan oleh Larasati.
Bahkan, Yudha selalu menyiapkan susu hamil dan juga camilan sehat untuk Larasati. Semua yang Larasati inginkan selalu Yudha penuhi.
Saat masuk bulan kelima, tubuh Larasati mulai membengkak dan saat itulah perhatian Yudha mulai memudar.
Apalagi kala itu Jesicca masuk ke dalam kehidupannya, membuat Yudha mulai berpailng dari Larasati. sungguh Yudha menyesali akan hal itu.
Apalagi jika mengingat kala Larasati yang sedang hamil besar, bukan hanya tubuhnya yang membengkak. Namun, kakinya juga ikut membengkak.
Setiap malam Larasati selalu mengeluh punggungnya sakit dan kakinya terasa pegal, tangan kanan Yudha memang sibuk mengelusi punggung Larasati.
Namun, tangan kirinya sibuk berselancar dengan benda pipih miliknya. Dia begitu asyik bertukar pesan dengan Jesicca, bahkan tak jarang Jesicca mengirimkan fotonya dalam fose menantang.
Hal itu membuat jiwa kelelakian Yudha bangkit, jika Larasati sudah terlelap dalam tidurnya, Yudha akan pergi untuk menemui Jesicca dan menuntaskan hasratnya.
Jika mengingat hal itu, Yudha benar-benar merasa sangat menyesal, malu dan merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan Mas ya, Ra. Dulu--"
Yudha tak bisa meneruskan ucapannya, dia terlalu malu untuk mengatakannya. Jonathan yang paham langsung menghampiri Yudha dan menepuk pundaknya dengan pelan.
"Semuanya sudah berlalu," kata Jonathan.
Jonathan tidak ingin membuat Larasati mengingat akan masa lalunya yang terasa berat dan menyedihkan.
"Iya, terima kasih. Ini sudah mau maghrib, saya pamit," kata Yudha.
"Iya," jawab Jonathan.
Satria nampak merentangkan kedua tangannya, Yudha langsung menggendong Satria yang ada di dalam gendongan Jonathan.
"Papa pulang dulu, jangan nakal! Jangain Dedenya," kata Yudha.
Satria tersenyum, lalu dia mengecup pipi dan kening Yudha.
"Iya, Papa!" jawab Satria.
Yudha memberikan Satria kepada Jonathan, setelah itu dia langsung pergi dari kediaman Dinata.
Selepas kepergian Yudha, Larasati terlihat menatap karung berisikan buah Cermai. Begitu banyak, pikirnya.
"Mas!"
"Hem," jawab Jonathan.
"Ini buahnya mau diapain, Mas?" tanya Larasati.
Sebenarnya Jonathan juga merasa bingung dengan buah Cermai yang dibawa oleh Yudha. Karena memang buah Cermai yang Yudha bawa sangatlah banyak.
Akan tetapi dia sangat menginginkan buah tersebut, tak lama kemudian tatapan mata Jonathan beralih kepada Hendro.
"Hendro! Tolong bawakan buah Cermainya ke dapur, minta bibi untuk mencuci buah tersebut dan taruh di atas piring. Jangan banyak-banyak, aku ingin memakannya," kata Jonathan.
"Siap, Den," jawab Hendro.
Hendro langsung mengangkat karung berisikan buah ceremai tersebut ke atas pundaknya, lalu dia membawanya ke dapur.
"Mas! Makannya jangan banyak-banyak, takut sakit perut," kata Larasati.
"Iya, Sayang," jawab Jonathan.
BERSAMBUNG....
*
__ADS_1
*
Selamat sore kesayangan, selamat menunggu waktu berbuka. Di lanjut besok lagi, ya....