Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Imitasi


__ADS_3

Pagi ini langit terlihat berkabut, sinar mentari seakan enggan untuk menyambut. Hati yang sedang kalut, seakan membuat raga bertambah kusut.


Wajah Yudha masih terlihat muram, suasana hatinya masih meraung tak menerima akan apa yang telah terjadi pada dirinya.


"Sial!" umpatnya seraya mengambil kunci mobilnya.


Yudha terlihat keluar dari dalam kamarnya, lalu berjalan menuju garasi. Dia ingin segera berangkat ke Resto, rasanya di rumah pun dia sudah merasa tidak betah.


"Mas mau kemana?" tanya Jesicca yang baru saja keluar dari dapur.


"Mau pergi ke Resto," jawab Yudha.


Jesicca terlihat melirik jam yang bertengger cantik di dinding.


"Baru pukul enam pagi, Mas. Sarapan saja belum, lagian Resto'nya juga paling belum buka," kata Jesicca.


"Yang penting bisa keluar dari rumah dulu," jawab Yudha.


"Jangan bawa mobilnya, Mas. Biar aku antar," kata Jesicca.


"Ngga bisa, aku bawa sendiri. Nanti kalau aku mau pergi susah," kata Yudha.


"Tapi, Mas. Aku juga butuh kendaraan," kata Jesicca.


"Bodo!" kata Yudha acuh.


Yudha langsung pergi tanpa melihat ke arah Jesicca dan putrinya, Jesicca langsung mengelus dadanya yang terasa sesak.


Selepas kepergian Yudha, Jessica pun langsung sarapan. Setelah itu, dia menitipkan Putri kepada Bi Minah.


Tentu saja hari ini dia ingin mewujudkan keinginannya untuk membangun usaha, tentunya tanah di depan rumahnya masih kosong melompong.


Dia harus membuat bangunan kecil untuk tempat dia menjual makanan siap saji yang sudah dia rencanakan bersama dengan minuman kekinian.


Langkah pertama, dia mendatangi serang pria paruh baya yang bertugas untuk mengelola perumahan tersebut.


Dia mengemukakan keinginannya, beruntung dia mendapatkan izin dari pria paruh baya tersebut. Bahkan pria itu bersedia membantu Jesicca untuk membangun sebuah bangunan kecil untuk dia menjalankan usahanya nanti.


"Berapa kira-kira uang yang diperlukan untuk biaya pembangunannya, Pak? Tanahnya cuma sekitar 2x2 m," kata Jesicca.

__ADS_1


"Kalau borongan 100jt, kalau beli bahan sendiri bisa lebih hemat. Nanti saya bantu buat cari tukangnya saja," katanya.


Mendengar penuturan pria paruh baya tersebut, Jesicca menjadi bingung. Pasalnya kalau dia membeli bahan sendiri, dia tidak mempunyai pengalaman dalam hal itu.


Takut-takut dia malah ditipu karena bahannya yang tidak berkualitas, akan tetapi... jika dia mengeluarkan uang 100jt dan terima jadi, itu artinya uangnya habis semua.


Dia masih memerlukan biaya untuk modalnya, dia pun menghela napas dengan berat. Mungkin semua perhiasan yang dia miliki harus segala dia jual, agar rencana usahanya bisa segera terwujud, pikirnya.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu saya terima jadi saja, Ini uangnya," ucap Jesicca seraya mengeluarkan uang yang diminta oleh pria paruh baya tersebut dari dalam tasnya.


"Baiklah kalau begitu, hari ini juga saya akan mulai membangun tempat usaha untuk anda," ucapnya.


Jesicca terlihat tersenyum, walaupun dadanya kini bertambah sesak.


Setelah mendapatkan kesepakatan dengan pria paruh baya tersebut, Jesicca pun langsung pulang ke rumahnya.


Dia membenahi semua perhiasannya, lalu berpamitan kepada Bi Minah untuk pergi ke toko perhiasan.


Tiba di depan rumahnya, dia pun berniat untuk memesan taksi agar bisa sampai di toko perhiasan.


Namun, saat mengingat jika dirinya kini tidak mempunyai uang lagi. Dia pun segera mengambil dompetnya yang berada di dalam tasnya, dia segera mengecek isi dompetny.


Sayang pikirnya, jika uang tersebut harus dia bayarkan untuk ongkos taksi. Bukankah akan lebih baik jika dia pakai untuk membeli bahan makan siang saja, pikirnya.


Setelah mendapatkan pesan ojek onlinenya, Jesicca pun langsung pergi menuju toko perhiasan. Dia pun langsung menghampiri seorang wanita yang berjaga di dalam toko perhiasan tersebut.


"Permisi, Mbak. Saya mau jual perhiasan saya," ucap Jesicca.


"Boleh, Nyonya. Silahkan keluarkan perhiasannya, biar kita periksa dan langsung di timbang dulu," kata wanita muda tersebut.


Jesicca pun dengan cepat mengeluarkan berbagai koleksi perhiasan miliknya yang dia beli dari teman-teman sosialitanya. Ada emas murni dan juga beberapa berlian.


"Sebentar ya, Nyonya. Biar saya periksa dulu keasliannya," ucap penjaga toko tersebut.


"Iya, Mbak," Jawab Jesicca.


Jessica pun menunggu dengan sabar, sepuluh menit kemudian penjaga toko tersebut nampak menghampiri Jesicca.


"Maaf, Nyonya. Dari sekian banyaknya perhiasan yang Nyonya bawa, hanya ada satu kalung emas yang asli. Semuanya imitasi," ucap perempuan muda tersebut.

__ADS_1


Jessica terlihat syok sekali mendengar penuturan dari penjaga toko tersebut, pasalnya dia membeli semua perhiasan tersebut dari teman sosiaitanya.


Apakah benar dia telah ditipu? Apakah teman-teman sosialitanya setega itu? Atau dirinya yang terlalu bodoh karena tak pernah mengecek keaslian dari perhiasan tersebut?


Padahal dia mengeluarkan uang hingga ratusan juta untuk membeli perhiasan tersebut, sayangnya semuanya palsu.


"Mbak, saya membelinya dari teman sosialita saya. Masa sih bisa palsu? Coba deh dicek ulang lagi," pinta Jesicca.


"Kalau Nyonya tidak percaya, Nyonya bisa bertanya ke toko perhiasan yang lainnya," ucap wanita muda tersebut seraya memberikan kembali perhiasan milik Jesicca.


Jesicca nampak menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan saat ini, tidak mungkin bukan jika dia harus pulang dengan tangan kosong?


"Lalu, mana perhiasan yang asli?" tanya Jesicca.


Penjaga toko tersebut pun langsung menunjukkan kalung emas kepada Jesicca, Jesicca nampak tersenyum di dalam rasa gundah dan sesak di dadanya.


Karena kalung itu adalah pemberian Yudha saat mereka pertama kali berkenalan, ternyata hanya Yudha yang memberikan emas asli terhadap dirinya, sedangkan teman-teman sosialitanya dengan teganya menipu dirinya.


Padahal jessica selalu bersikap royal terhadap teman-temannya tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, saya menjual kalung emas tersebut," kata Jesicca.


Berat sekali hatinya untuk melepaskan kalung emas tersebut, namun tak ada lagi pilihan untuknya.


"Baik, Nyonya," jawab wanita muda tersebut.


Jesicca terlihat memasukkan kembali koleksi perhiasan imitasi miliknya ke dalam tasnya, tentunya sambil menunggu wanita muda tersebut menghitung berapa jumlah uang yang bisa Jesicca terima.


Tak lama kemudian, wanita muda tersebut menghampiri Jesicca.


"Berat kalungnya 20gr, bisa dijual dengan harga Rp. 20.480.000. Kena potongan penjualan Rp. 400.000. Jadi, uang yang bisa anda terima Rp. 20.080.000," jelas wanita muda tersebut.


Jassica mengangguk lemah seraya menerima uang dari penjaga toko tersebut, dia benar-benar merasa miris dengan hidupnya saat ini.


Karena ternyata saat dia banyak uang, banyak orang yang mendekatinya namun tidak tulus. Mereka hanya berniat menipu, dia benar-benar merasa kecewa dengan teman-teman sosialitanya.


"Mungkin uang ini cukup untuk membeli perabotan dan juga bahan-bahan makanan siap saji yang akan aku jual, tapi untuk sehari-hari?"


Jesicca terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah gontai, dia benar-benar merasa sedih, bingung, dan juga kesal.

__ADS_1


__ADS_2