
Tanpa pikir panjang Yudha langsung menandatanganinya.
"Sudah selesai, nih ambil! Aku mau pergi," ucap Yudha seraya menggandeng tangan Jesicca.
"Gitu dong, Mas. Ini kan juga buat anak kamu, kamu jangan cemberut begitu," ucap Jessica kala itu.
Setelah kepergian Yudha dan juga Jesicca, Rendy nampak bisa bernapas dengan lega. Dia mengelus dadanya beberapa kali lalu keluar dari ruangan Yudha tersebut.
Setelah keluar dari ruangan Yudha, Rendy langsung masuk ke dalam ruangannya dan menyimpan berkas gugatan cerai tersebut.
Rendy terlihat tersenyum senang, karena ternyata meminta tanda tangan Yudha tidaklah sulit. Padahal dia sempat berpikir, jika Yudha akan susah memberikan tanda tangannya.
Namun ternyata, sangatlah gampang dan bahkan Yudha sama sekali tak membaca berkas yang Rendy berikan kepadanya.
Rendy pun terlihat duduk di atas sofa dan mengambil ponselnya. Dia langsung mengetik sebuah pesan untuk Larasati.
"Beres, Bu. Tanda tangan Tuan Yudha, sudah didapatkan." Satu pesan singkat dia kirimkan untuk Larasati.
Tak perlu menunggu lama, satu balasan pesan dari Larasati pun langsung Rendy terima.
"Kamu hebat, nanti sore aku ke kostan kamu sama Jelita." Balasan pesan dari Larasati.
"Siap, Bu. Saya tunggu," balas Rendy.
#Flash Back Of#
Mendengar penjelasan dari Rendy, Yudha langsung melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Rendy.
"Lalu, di mana akte cerainya?" tanya Yudha dengan suara lemahnya.
"Ada di lemari di ruang kerja, Tuan. Saya sudah memberikannya pada Tuan, kata Tuan suruh simpan di lemari penyimpanan berkas penting saja." Rendy berbicara dengan tegas.
Yudha pun mengingat jika sebulan yang lalu Rendy masuk ke dalam ruangannya, Rendy pun waktu itu berkata.
?'Maaf, Tuan. Tadi ada kurir yang mengantarkan ber--'
??
'Penting?' kata Yudha tanpa menoleh ke arah Rendy kala itu.
'Mungkin ya, mungkin tidak.'
'Simpan saja di lemari penyimpanan berkas, nanti aku lihat.'
Setelah mengingatnya, Yudha pun terlihat sangat kesal. Dia langsung membanting gelas yang berada di atas meja.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa aku selalu ceroboh?" tanyanya dengan nada tinggi.
Rendy hanya diam saja melihat tingkah Bosnya, sedangkan Yudha yang merasa harinya sangat kacau pun langsung memutuskan untuk pulang.
Tiba di depan rumahnya, Yudha langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Saat dia melewati ruang tamu, dia melihat Jesicca yang sedang menyusui putri mereka. Jesicca sempat melirik ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul tiga.
Tak seperti biasanya Yudha pulang lebih cepat, karena penasaran Jesicca pun langsung memanggil suaminya tersebut.
"Tunggu, Mas." Mendengar ucapan Jesicca, Yudha langsung membalikkan tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Yudha.
Saat Jesicca melihat raut wajah Yudha yang terlihat kusut, dia pun jadi bertanya-tanya. Karena tak ingin terus dalam keadaan penasaran, Jesicca pun memutuskan untuk mengajak Yudha berbicara.
"Duduklah dulu, Mas. Aku ingin bicara," ucap Jesicca.
Mendengar permintaan istrinya, Yudha sempat memutar bola matanya. Lalu, dia melangkahkan kakinya dan duduk tepat di samping Jesicca.
"Apa ada masalah di Resto?" tanya Jesicca.
"Tidak ada," jawab Yuda datar.
"Kenapa Mas pulang cepet? Terus kenapa wajahnya kusut kaya gitu?" tanya Jesicca.
Jesicca terlihat menghela napas berat, dia bingung dengan perubahan sikap suaminya yang semakin lama Yudha terlihat semakin acuh terhadap dirinya.
"Mas, lihat putri kita. Dia sangat cantik, sudah satu bulan dia lahir kedunia ini. Namun, kamu belum juga memberikan putri kita nama," kata Jesicca.
Yudha menurut, dia pun langsung melihat kearah putrinya yang kini sudah mulai tidur dengan lelap di pangkuan Jesicca.
Yudha tatap wajah putrinya yang nampak begitu cantik, wajahnya begitu mirip dengan dirinya.
Hatinya terasa menghangat, walaupun dia kini sudah mulai bosan kepada Jesicca, namun bayi mungil yang kini berada di pangkuan istrinya tersebut adalah putri kandungnya.
"Dia sangat cantik," celetuk Yudha.
"Ya, dia begitu mirip sama kamu. Mungkin dia takut jika Ayahnya tidak mengakuinya, makanya wajahnya pun terlihat begitu mirip dengan kamu." jesicca terlihat mengusap wajah putrinya dengan lembut.
Mendengar ucapan Jesicca, Yudha terlihat tersinggung. Dia pun langsung menatap Jesicca dan melayangkan protesnya.
"Apa maksud dari ucapan kamu?" tanya Yudha.
Jesicca tersenyum, lalu dia pun berkata.
__ADS_1
"Kamu sudah mulai berubah, Mas. Kamu tidak mau menemani aku melahirkan, bahkan saat putri kita sudah lahir pun kamu sama sekali tak menyempatkan waktu untuk melihat putri kita. Bahkan, kamu lupa untuk memberikan putri kita nama," kata Jesicca.
"Aku sibuk di Resto, lagi banyak kerjaan," kata Yudha.
Mendengar ucapan Yudha, dia tersenyum sinis lalu. Jesicca pun kembali berkata.
"Sibuk mengurusi Resto atau sibuk mengejar perempuan?" tanya Jesicca.
Mendengar pertanyaan dari Jesicca, Yudha langsung menatap wajah Jessica dengan tatapan tidak suka.
"Apa maksud kamu?" tanya Yudha.
"Kamu sudah berubah, Mas. Aku tahu kalau saat ini kamu pasti sedang menyukai perempuan lain, aku ini perempuan juga. Aku bisa merasakannya," ucap Jesicca.
Mendengar ucapan Jesicca, Yudha langsung tertawa dengan terbahak-bahak.
"Kamu bilang kamu perempuan dan bisa merasakannya juga, lalu... kenapa kamu dulu datang merayuku, hingga membuat aku melupakan istriku? Bahkan aku dengan mudahnya kau rayu untuk merebut semua harta milik istriku, perempuan macam apa itu?" tanya Yudha dengan tatapan mata serius.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Yudha, Jesicca nampak membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika Yudha akan mengatakan hal seperti itu.
"Jadi kamu menyalahkan aku Mas, atas kejadian yang sudah lalu?" tanya Jesicca.
"Ya! Tentu saja semuanya salahmu, kalau saja kamu tidak datang dan merayuku, aku tidak akan mungkin meninggalkan istriku," ucap Yudha lantang.
Bayi mungil yang tertidur lelap di pangkuan Jesicca sampai tersentak kaget, karena mendengar suara teriakan Yudha.
"Pelankan suaramu, Mas," ucap Jesicca dengan nada pelan tapi penuh penekanan.
"Sadar diri' lah kamu wahai perempuan jalangg!" ucap Yudha.
Mendengar perkataan suaminya, air mata Jesicca langsung luruh. Dia tak menyangka jika suaminya akan berkata seperti itu, kata-kata yang membuat hatinya sangat sakit.
"Jangan pernah mengatakan hal itu kepadaku, Mas. Karena dulu kamu juga begitu memuja aku, bahkan kamu sendiri yang selalu menjelekan istrimu di depanku," ucap Jesicca.
"Tapi, itu semua terjadi karena kamu yang memancingku. Kamu yang selalu datang menyerahkan tubuhmu sebagai umpan, sampai aku lupa kalau aku sudah mempunyai istri!" ucap Yudha lantang.
Kembali putri cantik yang berada di pangkuan Jesicca terlihat kaget, Jesicca pun langsung memeluk putrinya agar tidak menangis.
"jangan pernah berbicara seperti itu, Mas. Karena kita berdua sama-sama menikmatinya, kamu juga dulu salah. Kamu punya istri tapi masih bisa aku rayu dengan mudahnya," cap Jesicca.
"Ya, aku menikmatinya. Aku bodoh dan aku menyesal karena sudah berselingkuh dengan wanita seperti kamu. Aku menyesal melakukan hal itu terhadap istriku," ucap Yudha.
Setelah mengucapkan hal itu, Yudha langsung bangun dan hendak meninggalkan Jesicca. Namun dengan cepat Jesicca mencekal pergelangan tangan Yudha.
"Maksudmu apa Mas, berkata seperti itu?" tanya Jesicca.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Yudha malah menatap Jesicca dengan tatapan tidak suka.
"Aku ingin sendiri, jangan mengganggu!" ucap Yudha seraya menghempaskan tangan Jesicca dengan kasar.