Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Semua Berubah


__ADS_3

Pukul empat sore Yudha pulang ke rumah kontrakannya dengan mengendarai motor matic yang dia beli dengan harga tujuh belas juta, dia sengaja memilih motor matic untuk memudahkan dirinya jika pergi kemana-mana.


Tiba di rumah kontrakannya, Yudha langsung memarkirkan motor matic yang baru saja dia beli. Saat dia turun dari motor maticnya, di sana sudah ada Mpok Ida yang menunggu Yudha.


Mpok Ida terlihat duduk di bangku kayu yang berada di depan rumah kontrakan tersebut,


wajahnya terlihat bengis menatap Yudha.


Padahal, dia sama sekali merasa tidak punya salah kepada wanita paruh baya tersebut. Namun, dia pun tak tahu kenapa wanita itu bisa memandangnya seperti itu.


"Selamat sore, Mpok." Yudha menyapa.


"Gue ngga mau basa-basi, gue kesini mau nagih uang kontrakan. Kalau mau perpanjang ni rumah, gue mau duitnya sekarang juga. Kalau ngga sanggup bayar mending elu minggat dah," ucap Mpok Ida ketus.


"Ya ampun! Memangnya uang sewanya berapa, Mpok?" tanya Yudha.


"Lima puluh juta setahun," kata Mpok Ida.


"Ya ampun, mahalan uang sewa ini rumah ternyata. Bangunan yang ditawarkan pak Ranto saja cuma empat puluh juta setahunnya," ucap Yudha pelan namun masih bisa terdengar oleh Mpok Ida.


"Kalau elu merasa ngga sanggup bayar, mending elu keluar dari kontrakan gue. Ngga usah sok-sokan punya duit, gue tahu kalau si Leana udah bawa kabur duit elu," ucap Mpok Ida.


Mendengar ucapan Mpok Ida, Yudha pun jadi paham kenapa wanita paruh baya tersebut menatap Yudha dengan tatapan bengis. Rupanya wanita itu ketakutan jika Yudha tidak mampu membayar kontrakannya.


Yudha tersenyum, kemudian dia menurunkan tas ransel yang sedari tadi dia bawa. Dia membuka tas ransel tersebut dan membuka resletingnya.


"Tuh, Mpok. Duit saya banyak, cuma setelah saya pikir-pikir lebih baik saya keluar dari kontrakan Mpok. Terima kasih karena sudah menyewakan tempat ini kepada saya dan juga Leana, saya pamit buat ngambil baju saya dulu," ucap Yudha.


Setelah mengatakan hal itu, Yudha pun langsung masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut dan mengambil baju-bajunya.


Hanya sedikit baju yang dia bawa, karena memang saat keluar dari rumah Jesicca, dia tidak membawa bajunya sama sekali. Baju-baju yang dia bawa saat ini, adalah baju yang dibeli setelah tinggal bersama Leana.


Setelah selesai memasukkan baju miliknya ke dalam tas ransel, Yudha pun keluar dari rumah tersebut dan berpamitan kepada Mpok Ida.


"Saya pamit," ucapnya.


Mpok Ida nampak syok, dia tidak menyangka jika Yudha masih mempunyai uang. Padahal menurut desas-desus yang dia dengar, Yudha sudah tidak punya apa-apa.


'Sialan! Ternyata tuh anak masih punya duit, aturan gue ngga usah ngomong macem-macem dulu. Pan lumayan biar bisa dapet uang sewa satu tahun kedepan,' ucap Mpok Ida dalam hati.


Yudha terlihat melajukan motor maticnya, tentu saja tujuan utamanya adalah menemui Pak Ranto. Dia ingin menyewa bangunan kecil tersebut untuk dia tinggal dan juga tempat dia mengadu nasib.

__ADS_1


"Selamat sore, Pak Ranto," sapa Yudha saat tiba di depan rumah pria tersebut.


Pak Ranto yang senang melemparkan jagung ke arah burung Dara pun langsung menolehkan kepalanya ke arah Yudha.


"Waah, saya kira anda tidak jadi menyewa rumah saya," ucap Pak Ranto.


"Jadi dong, Pak." Yudha turun dari motor maticnya dan menghampiri Pak Ranto.


"Kita ngobrol di teras saja, biar lebih nyaman," ucap Pak Ranto, Yudha mengangguk setuju.


"Jadi, setuju ini mau ngontrak tempat saya yang deket taman itu?" tanya Pak Ranto to the point.


"Ya, Pak. Saya bayar tunai," kata Yudha.


"Udah kaya ucapan kabul aja, dibayar tunai." Pak Ranto terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.


Yudha tersenyum, kemudian mengambil uang sebesar empat puluh juta dari tas ransel miliknya. Kemudian, dia menyerahkan uang tersebut kepada pak Ranto.


"Waah, seneng saya kalau kaya gini. Semoga anda betah dan menjadi berkah, karena tempat yang saya sewakan anda pakai untuk mencari nafkah," ucap Pak Ranto.


"Iya, Pak. Saya minta kuncinya sekarang, sudah mau maghrib soalnya," kata Yudha.


"Oh, boleh. Sebentar," kata Pak Ranto.


"Ini kuncinya," ucap Pak Ranto.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap Yudha.


Setelah berpamitan, Yudha pun segera pergi menuju bangunan yang sudah dia sewa. Hanya memerlukan waktu dua puluh menit saja untuk Yudha tiba di bangunan berukuran dua puluh lima meter persegi tersebut.


"Akhirnya sampai juga," ucap Yudha.


Yudha terlihat memarkirkan motornya di depan bangunan tersebut, kemudian dia pun masuk dan melihat-lihat bangunan yang masih kosong melompong tanpa ada satupun barang di sana.


"Hah!"


Yudha terlihat menghela napas berat, karena dia harus membeli kasur untuk dia tidur malam ini. Dia juga harus membeli alat kebersihan seperti sapu dan kain pel, agar rumah itu bisa bersih sebelum dia tinggali.


" Lebih baik aku membeli sapu dan juga kain pel," ucap Yudha.


Yudha terlihat mengambil uang yang dia perlukan, kemudian dia pun segera keluar dari rumah tersebut dan menguncinya dengan rapat.

__ADS_1


Setelah itu, Yudha langsung melajukan motornya untuk membeli peralatan yang diperlukan


Tiba di pasar dadakan yang berada di dekat taman, Yudah langsung membeli sapu, kain pel dia juga membeli kasur lantai serta bantal.


"Sepertinya cukup untuk hari ini," ucap Yudha lirih.


Setelah dirasa cukup, Yudha pun kembali ke rumah yang dia sewa. Dia langsung menyapu dan mengepel lantainya, lalu dia pun menggelar kasur lantai di dalam kamar dan merebahkan tubuh lelahnya.


"Lelah sekali, mending aku segera tidur. Karena besok aku harus membeli peralatan lukisnya, agar bisa secepatnya bekerja dan menghasilkan uang," ucap Yudha sebelum masuk ke alam mimpinya.


Yudha bahkan tidak makan malam karena dia terlalu lelah, yang dia inginkan saat ini hanyalah tidur dan beristirahat.


Padahal waktu baru menunjukkan pukul delapan, namun Yudha kini sudah terlelap dalam tidurnya.


Di Kediaman Dinata.


Satria tak mau tidur, padahal dia sudah seharian penuh bermain dengan Angga. Namun, bocah tampan itu seakan tak mau berpisah dengan lelaki yang sudah seperti ayahnya itu.


Hal itu membuat Jonathan cemburu, namun dia merasa tidak berhak marah. Karena dia sangat tahu, bahwa Angga'lah yang selama ini selalu dekat dengan Satria.


"Sayang, lihatlah putramu itu. Dia membuat aku cemburu," kata Jonathan manja.


"Jangan cemburu, Jo. Mereka memang dekat, kamu pasti tahu apa alasannya," kata Larasati.


"Hem, aku tahu. Kalau begitu aku minta peluk," tawar Jonathan.


"Apa hubungannya cemburu sama peluk?" tanya Larasati.


"Biar lebih tenang gitu akunya, kan Satria maunya peluk-peluk Angga," ucap Jonathan.


"Modus!" ucap Larasati.


"Bodo," kata Jonathan seraya menarik lembut Larasati kedalam pelukannya.


Angga yang melihat Jonathan memperlakukan Larasati dengan sangat manis, langsung tersenyum kecut, lalu dia pun berkata dalam hatinya.


'Aku sayang kamu, Mbak. Tapi aku sangat tahu di mana posisiku, semoga Bang Jo adalah lelaki terbaik untuk kamu, Mbak.'


*


*

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2