Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Jalan-jalan ke Taman


__ADS_3

Sore telah menjelang, Jesicca terlihat sudah cantik, begitupun dengan Putri. Jesicca terlihat ingin membawa Putri berjalan-jalan keliling taman.


Jesicca keluar dari kostannya, kemudian dia menghampiri pemilik kost untuk berpamitan. Pemilik kostan yang bernama bu Sari terlihat sedang asik menyiram bunga di halaman rumahnya.


"Ehm... Bu Sari, saya mau ngajak main putri saya ke taman sebentar," pamit Jesicca.


Bu Sari yang sedang asik dengan kegiatannya, langsung berhenti dan memalingkan wajahnya ke arah Jesicca.


Untuk sesaat dia menatap wajah Jesicca dan Putri secara bergantian, wajah Putri terlihat lucu dan menggemaskan.


Bu Sari tersenyum, lalu dia mengelus lembut pipi tembem Putri.


"Kamu cantik banget, Sayang. Kalau saja cucu Nenek masih hidup, pasti lucu seperti kamu," kata Bu Sari.


"Nanana, tatata." Putri seakan menyahuti ucapan dari Bu Sari.


Melihat respon dari Putri, bu Sari nampak tersenyum.


Jika Putri terlihat tersenyum pada bu Sari, berbeda dengan Jesicca. Wajahnya terlihat sendu, karena tidak enak hati.


Tentu saja karena dia mendengar apa yang dikatakan oleh bu Sari, hal itu membuat Jesicca tak enak hati.


Dia baru mendengar dari penghuni kostan yang lainnya, jika tiga bulan yang lalu menantunya bu Sari meninggal saat melahirkan.


Bahkan, baby mungil yang dilahirkan oleh menantunya juga tidak bisa bertahan lama. Baby yang terlahir prematur itu menghembuskan napas terakhirnya setelah dua jam dilahirkan.


"Ehm, saya boleh pergi, kan, Bu?" tanya Jesicca.


"Ya, pergilah. Jangan sampai pulang terlalu malam, nanti saya ngga bukain pitu gerbangnya," kata Bu Sari.


Tangan bu Sari terlihat begitu asyik mengelus pipi gembil Putri, bahkan sesekali dia mencubit gemas tangan Putri.


Bukannya merasa kesakitan, Putri malah terlihat tertawa dengan begitu manisnya. Hal itu membuat bu Sari terlihat enggan untuk berjauhan dengan Putri, namun dia sangat sadar jika putri bukanlah siapa-siapanya.


"Iya, Bu. Saya tidak akan lama," kata Jesicca.


"Ah, iya." Bu Sari mengecup pipi Putri sebelum Jesicca benar-benar meninggalkan kostan tersebut.


🍎🍎


Jesicca terlihat berjalan dengan santai menuju taman, sesekali matanya mengedarkan pandangan.


Banyak anak-anak dan juga orang tuanya yang terlihat sedang menghabiskan waktu sorenya, Jessica tersenyum kecut kala melihat satu keluarga utuh yang terlihat sedang bersenda gurau.


Dari semenjak melahirkan Putri, dia benar-benar sudah tidak pernah berbicara dari hati ke hati dengan Yudha.

__ADS_1


Dia bahkan tidak pernah melihat Yudha menegur putrinya sama sekali, jika mengingat akan hal itu hatinya benar-benar terasa sakit.


Namun, kembali dia menyadarkan dirinya jika semua yang terjadi karena ulah dari perbuatannya sendiri. Karena di mana ada sebab, di situ pasti akan ada akibatnya.


"Kita duduk di bangku taman ya, Sayang," ajak Jesicca.


Putri langsung tertawa seraya menggoyang-goyangkan tangan dan kakinya, balita cantik itu terlihat seperti sedang merespon ucapan dari Ibunya.


Jesicca duduk di bangku taman, lalu dia melepaskan kain gendongannya. Putri nampak senang sekali, dia seolah merasa bebas kembali.


Kalau saja dia sudah bisa berjalan, pasti Putri akan turun dan berlarian di atas hamparan rumput nan hijau itu.


Jessica mendudukan Putri di pangkuannya seraya memperhatikan keindahan bunga yang sedang bermekaran di taman.


Tak lama kemudian, netranya menangkap sosok seorang pria yang sedang duduk santai sambil melukis tak jauh dari dirinya.


Badan pria itu terlihat kurus kering, pria itu terlihat sedang melukis satu keluarga utuh. Ada ayah, Ibu dan juga seorang balita cantik di pangkuan Ibunya tersebut.


Jesicca nampak tersenyum, dia mengingat akan dirinya yang berada di lukisan tersebut bersama dengan Putri dan juga Yudha.


"Astagfirullah, untuk apa aku mengingat Mas Yudha. Dia pasti sudah bahagia bersama dengan selingkuhannya," ucap Jesicca seraya tersenyum kecut.


Mengingat akan hal itu, Jesicca pun menjadi bete. Akhirnya Jesicca memutuskan untuk pulang saja.


"Semuanya sudah kebeli, saatnya pulang," kata Jesicca lirih.


Jesicca berjalan pulang menuju kostannya dengan meneteng satu kantong berisikan camilan, sesekali dia mengajak Putri untuk berbicara.


"Anak cantik ibu anteng ba--"


BRUGH!


Kantong belanjaan milik Jesicca terlihat terjatuh dan berserakan, hal itu terjadi karena ada seorang pria yang menabrak pundak Jesicca dari belakang.


Beruntung hanya belanjaannya saja yang terjatuh, sedangkan Jesicca hanya terhuyung ke depan akibat kerasnya benturan dari pria tersebut.


"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja, saya terburu-buru." Pria itu nampak memunguti belanjaan milik Jesicca.


Melihat pria itu merapikan belanjaan milik Jesicca, Jesicca hanya terdiam. Sesekali dia mengelus-ngelus dada putrinya, dia takut jika Putri kaget akan kejadian tersebut.


"Ini, Mbak. Maafkan saya sekali lagi," kata pria itu.


Setelah mengatakan hal itu, pria tersebut nampak pergi. Jesicca hanya bisa menghela napas berat, namun dia juga merasa bersyukur


karena Putri dan dirinya tidak kenapa-kenapa.

__ADS_1


Karena waktu sudah semakin sore, Jesicca memutuskan untuk segera pulang menuju kostannya.


Tiba di depan kostannya, dia merasa heran karena pintu gerbang terbuka lebar dan di depan rumah pemilik kostan pun nampak sebuah mobil yang terparkir secara asal.


Jesicca terlihat menggelengkan kepalanya, kemudian dia menutup pintu gerbangnya. Takut-takut ada yang akan berbuat jahat, kalau pintu gerbang dibiarkan terbuka lebar.


"Sebaiknya aku segera masuk ke dalam kostan, karena ini sudah sore. Kasihan Putri," ucapnya lirih.


🍎🍎


Di lain tempat.


Pukul delapan malam, Angga meminta izin kepada Larasati untuk segera pulang. Bukan tanpa alasan, hari ini Mini tidak datang ke Cafe, hal itu membuat dirinya gundah.


Apa lagi seharian ini Mini tidak memberikan kabar kepadanya, setiap kali dia mencoba menelpon Mini, namun tak pernah diangkat.


Setiap dia mengirimkan pesan pun tak pernah dibalas, hal itu benar-benar membuat Angga khawatir, gundah dan juga gelisah.


"Mbak, aku pulang duluan, ya?" pinta Angga.


"Ya,'' jawab Larasati.


Dia sangat tahu jika Angga ingin segera menemui kekasih hatinya, dia tentu saja tidak tega kepada Angga.


Setelah mendapatkan izin dari Larasati, Angga langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Mini.


Tiba di depan rumah yang Mini tinggali, Angga terlihat memarkirkan mobilnya. Lalu, dia menghampiri seorang security yang berjaga di depan rumah Mini.


"Permisi, Pak. Mini ada?" tanya Angga.


Melihat kedatangan Angga, security tersebut nampak tersenyum. Dia memang sudah mengenali wajah dari pacar Mini tersebut.


"Ada, Den. Mau dipanggilkan?" tanya security tersebut.


"Iya, Pak. Tolong dipanggilkan," pinta Angga.


"Iya, Den. Silakan tunggu di depan teras aja," pinta security tersebut.


Angga menurut, dia nampak duduk di kursi yang ada di teras. Sedangkan security tersebut nampak masuk ke dalam rumah Mini.


*


*


Selamat pagi, selamat beraktivitas. Kalau ada typo kasih tahu ya, nanti aku edit.

__ADS_1


__ADS_2