
Setelah melakukan perjalanan sekitar dua puluh empat jam lamanya, akhirnya Satria tiba di Bandara Soetta.
Ternyata, hari ini. Di hari kepulangannya Satria tidak memberitahukan kepada siapa pun, maka dari itu tidak ada yang menjemputnya di sana.
Dia sengaja melakukan hal itu, karena dia ingin memberikan surprise kepada keluarganya.
Dia memang sudah benar-benar rindu terhadap semua orang yang dia sayang. Namun, dia ingin memberikan sebuah kejutan untuk mereka semua.
Seulas senyum dia tampilkan di bibirnya, kemudian dia menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan.
Satria terlihat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata waktu menunjukkan pukul dua belas siang.
"Selamat datang di tanah air kelahiranku," kata Satria menyambut kedatangannya sendiri.
Setelah mengatakan hal itu, dia menggeret koper miliknya. Lalu, dia keluar dari Bandara Soetta dan mencegat sebuah taksi.
Tentu saja tujuannya saat ini adalah kembali ke kediaman Jonathan, dia ingin bertemu dengan bunda dan daddy'nya terlebih dahulu.
Setelah itu, baru dia akan menemui papanya, Yudha di Panti Asuhan. Dia juga ingin menemui Putri dan menemui wanita yang sudah sangat dia rindukan celotehannya selama lima tahun ini.
Tiba di kediaman Jonathan, Satria langsung membayar uang taksi dan turun dengan cepat. Saat hendak membuka pintu gerbang, seorang security terlihat menghampiri Satria.
"Den!"
"Ah, iya, Pak. Apa kabar?" tanya Satria.
"Baik, Den. Ya ampun, Den. Aden tambah ganteng," kata Security tersebut. Security tersebut nampak melongok ke arah pintu utama, kemudian dia berteriak. "Nyonya, Tuan, Den Satria sudah pulang!"
Mendengar akan hal itu, Satria langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukannya membukakan pintu gerbang untuk dirinya, malah berteriak seperti itu, pikirnya.
Satria langsung membuka pintu gerbang tersebut dan masuk begitu saja, saat dia baru saja masuk ke dalam rumah, Larasati dan Jonathan terlihat berjalan dengan tergesa menghampirinya.
Mereka benar-benar merasa tidak percaya jika kini putra sulungnya memang sudah tiba di rumah, bahkan tanpa memberitahukan kepada mereka terlebih dahulu.
Tanpa banyak bicara Larasati langsung memeluk Satria dengan erat, dia begitu rindu dengan putranya tersebut.
__ADS_1
Bahkan air matanya sampai mengalir deras di kedua pipinya, Larasati memang selalu datang setiap enam bulan sekali ke tempat Mini untuk menjenguk Satria dan juga Kinara.
Akan tetapi, walaupun seperti itu tetap saja dia begitu merindukan kedua buah hatinya tersebut.
Bahkan Larasati sudah sempat berencana akan pergi ke negara A untuk menjemput Satria, tentunya agar dia bisa bertemu terlebih dahulu dengan Kinara.
Namun, ternyata di luar dugaannya. Satria sudah pulang terlebih dahulu tanpa memberitahukan dirinya.
Antara senang, sedih, haru, dan rindu semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Melihat istrinya yang menangis, Jonathan langsung menghampiri keduanya. Jonathan langsung memeluk keduanya.
"Kenapa tidak mengabari? Daddy pasti menjemputmu," kata Jonathan.
Satria terkekeh, kemudian dia melerai pelukannya. Lalu, Satria terlihat mengusap pipi Larasati yang basah dengan air mata dan mengecap kening ibunya dengan sangat lembut.
"Kalau Abang memberitahu terlebih dahulu, itu namanya bukan surprise. Abang ingin memberikan surprise untuk kalian," kata Satria.
"Ya, kamu berhasil membuat Buna terkejut," kata Larasati.
Dia kembali memeluk putranya, dia menumpahkan segala rasa rindunya terhadap Satria.
"Ya, tidak apa-apa," jawab Larasati.
Jonathan tersenyum melihat interaksi antara Larasati dan juga putra sulungnya, kemudian Jonathan berkata.
"Kamu sudah makan siang belum?" tanya Jonathan.
"Belum, Daddy. Tadi tiba di Bandara langsung pulang ke sini," jawab Satria.
"Kalau begitu, kita makan siang terlebih dahulu. Setelah itu kamu mandi dan shalat dzuhur, setelah itu kamu istirahat," kata Jonathan.
"Iya, Daddy," jawab Satria.
Akhirnya Satria dan Larasati melerai pelukannya, kemudian mereka berjalan beriringan menuju ruang makan.
Saat mereka tiba di ruang makan, Jonathan meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk membawakan koper milik Satria ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah itu, mereka bertiga menikmati makan siang dengan penuh keceriaan. Sepanjang makan siang bersama, Larasati dan juga Satria tak henti-hentinya mengungkapkan rasa rindu mereka.
Satria menceritakan bagaimana dirinya dan Kinara selama berada di sana tanpa tanpa Larasati dan juga Jonathan, dia juga menceritakan hasil akhir masa kuliahnya.
"Aku sudah selesai, Buna. Aku mau shalat dzuhur dulu," pamit Satria.
"Ya," jawab Larasati.
Satria tersenyum dan langsung mengecup kening Larasati, Jonathan turut bahagia melihat keceriaan di wajah keduanya.
Satria masuk ke dalam kamarnya, lalu dia pun melaksanakan salat dzuhur seperti yang sudah dia ucapkan kepada Larasati.
Bukannya beristirahat, setelah salat dzuhur ternyata Satria malah merapikan barang-barang yang ada di dalam kopernya.
Satria bahkan mengeluarkan dua buah kotak Coklat Harshey's, merek coklat dari negara A yang sangat mendunia.
Lalu, dia memasukkan dua kotak coklat tersebut ke dalam tas ransel miliknya, dia tersenyum lalu bersiap untuk pergi.
Pukul dua siang, Satria terlihat keluar dari kamarnya. Lalu, dia meminta izin kepada Jonathan dan juga Larasati untuk pergi ke Panti.
Awalnya Larasati melarang karena Satria baru saja pulang, takutnya saat ia merasa capek dan juga lelah.
Namun, Satria beralasan jika dirinya sudah beristirahat cukup di dalam pesawat. Lagi pula dia merasa sangat rindu dengan Yudha dan juga anak-anak Panti.
Begitupun dengan adiknya, Putri. Satria merindukan mereka, akhirnya mau tak mau Larasati dan juga Jonathan mengizinkan.
Lagi pula ini kebetulan merupakan hari Sabtu, pasti Putri ada di Panti juga, pikir Larasati. Jadi, Satria tidak usah cape-cape pergi ke sana ke mari.
"Terima kasih atas izinnya, Buna," Kata Satria.
"Ya, Sayang. Hati-hatilah di jalan, kalau mau main di dulu pulangnya jangan terlalu larut," pesan Larasati.
"Ya," jawab Satria.
***
__ADS_1
Masih berlanjut, yuk tebak siapa cewek cantik yang Satria rindukan.