Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Akhir Cerita


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


"Ayo Bang Sat, tendang bolanya!" Kinara memanggil Satria dengan Lantang.


Satria yang kebetulan lewat, terlihat berdecak sebal karena adiknya selalu saja memanggil dirinya dengan nama yang disingkat.


"Ck! Sudah aku bilang panggil aku Abang saja. Jangan panggil Bang Sat, aku tidak suka," kata Satria tegas.


Putra sulung Larasati itu kini sudah mau memasuki usia sembilan tahun, dia sudah duduk di kelas tiga SD. Setelah dia tumbuh besar, dia mau dipanggil Abang saja, tanpa adanya embel-embel Satria.


Karena banyak orang yang meledeknya dengan sebutan 'Bang Sat', apalagi teman-teman dari adiknya, Kinara. Mereka seolah mengikuti apa yang diucapkan oleh Kinara.


Maka dari itu, Satria selalu ingin dirinya dipanggil dengan sebutan 'Abang' saja. Nama itu rasanya sangat pas menurutnya.


Bukannya takut dengan bentakan dari Satria, Kinara malah tertawa dengan terbahak-bahak. Dia merasa lucu ketika kakaknya tersebut terlihat marah padanya.


"Kinar!" Larasati terlihat memanggil Kinara seraya menggelengkan kepalanya.


Kinara yang paham jika bundanya sedang marah, Kinara langsung menundukkan pandangannya.


"Maaf, Buna," kata Kinara.


Kinara memang terlihat tumbuh sebagai anak tomboy dan juga tukang iseng, namun dia tetap saja selalu takut akan ucapan dan juga tatapan mata bundanya.


"Ya, sekarang bersiaplah untuk sekolah. Jangan membuat mood Abang kamu berantakan di pagi hari," kata Larasati.


Larasati selalu berusaha untuk bersikap bijak, dia tidak mau terjadi kecemburuan diantara kedua buah hatinya.


"Siap, Buna." Kinara terlihat berlari menuju kamarnya dan segera mengambil tasnya.


Jonathan terlihat menghampiri Larasati, menarik pinggangnya dan mengecup keningnya.


"Ada apa lagi?" tanya Jonathan yang baru saja keluar dari kamarnya.


Larasati tersenyum hangat, lalu dia elus lengan suaminya dengan lembut.


"Biasa Daddy, Putri kesayanganmu selalu saja membuat Abang kesal." Larasati terlihat memonyongkan bibirnya.


"Hem, sepertinya dia menuruti sifatmu, Yang. Bukankah dulu kamu sering iseng? Bahkan aku dan teman-teman sering mengadu pada Daddy Elias," kata Jonathan.


Larasati terdiam, dia mengingat jika masa kecilnya begitu menyenangkan kala dia sudah bisa membuat teman-temannya kesal.

__ADS_1


"Ck! Itu hanya masa lalu," keluh Larasati.


Jonathan tersenyum menyeringai, dia semakin merapatkan tubuhnya.


"Siapa bilang masa lalu, sekarang kamu semakin iseng. Kalau aku tidur suka digangguin sama kamu," kata Jonathan.


"Ehm, Daddy Jo. Masih ada aku," ucap Satria seraya berlalu.


Di harus segera berangkat ke sekolah, dia takut akan terlambat karena selalu saja menyaksikan drama pagi antara Jonathan yang terlihat menggoda Larasati.


"Maaf, Sayang. Aku harus mengantar putra kita, takut dia merajuk." Kembali Jonathan mengecup kening istrinya.


Jonathan terlihat melangkahkan kakinya, dia segera menghampiri Satria yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Daddy, tunggu Kinar. Jangan lupa sama putri cantikmu ini," kata Kinara yang sudah siap untuk pergi ke sekolah.


Ya, Kinara sekarang sudah masuk sekolah TK. Anak itu sangat pintar dan juga menggemaskan, namun tak hanya itu saja. Kinara juga tumbuh sebagai anak yang suka sekali mengerjai teman-temannya.


Jonathan langsung terkekeh, karena memang dia melupakan anak gadisnya itu.


"Silakan Tuan Putri," kata Jonathan seraya membukakan pintu mobil untuk Kinara.


Kinara tersenyum, lalu dia duduk di bangku penumpang dengan anteng.


"Jo, bolehkah Satria aku yang antarkan?" tanya Yudha.


Jonathan tersenyum saat melihat Yudha, lelaki itu selalu saja berusaha untuk bersikap baik terhadap putra-putrinya.


Bahkan, Jonathan bisa melihat jika kini di dalam mobil yang Yudha bawa, dia melihat Putri di sana.


"Boleh, sangat boleh. Bang!" kata Jonathan.


Satria segera turun dari mobil, dia menghampiri Jonathan dan langsung memintanya untuk menunduk. Jonathan menurut, dia langsung berjongkok agar tinggi tubuh mereka sejajar.


"Apa, Boy?" tanya Jonathan.


"Terima kasih, karena Daddy selalu saja baik sama aku," kata Satria tulus.


"Sama-sama, Sayang." Jonathan langsung mengecup kening Satria.


Satria berlari ke arah Larasati dan meminta izinnya, setelah mendapatkan izin dari bundanya, Satria langsung berlari ke arah Yudha. Dengan cepat Yudha menangkap tubuh Satria.

__ADS_1


Larasati tersenyum saat melihat kebersamaan Satria dan juga Yudha. Awalnya dia tidak menyangka jika kini mereka bisa berdamai setelah terjadi peperangan di masa lalu.


Namun ternyata, dia bersyukur karena bisa mengalahkan egonya. Dia merasa berdamai itu lebih indah, walaupun pada awalnya Larasati ingin membuat Yudha jatuh sejatuh-jatuhnya.


Di lain tempat, Juki merasa sangat bahagia. Karena kini dia sudah mempunyai dua putra kembar nan tampan yang terlahir dari rahim Jesicca.


Diusia kedua putranya yang baru saja satu tahun, Juki sedang merasa repot sekaligus senang. Karena kedua putranya sedang aktif belajar berjalan.


Namun, dia juga sangat senang. Karena Putri selalu bisa membantu menjaga kedua adik-adiknya.


"Purti mana, Yang?" tanya Juki seraya mengecupi pipi kedua putra tampannya secara begantian.


"Seperti biasa, Ba. Diajakin Mas Yudha, katanya mau nganter Satria sekolah, habis itu baru berangkat ke sekolahnya Putri. Kamu ngga keberatan, kan, Ba?" tanya Jesicca.


"Tidak, Sayang. Aku justru senang, karena Putri mendapatkan banyak perhatian.


Di rumah bu Airin.


Bu Airin kini sudah berhenti menjadi wanita karir, karena dia harus mengurus ketiga buah hatinya yang lahir dalam jarak yang berdekatan.


Ya, Ridwan yang selalu bersemangat dalam menggempur istrinya. Brondong yang bertemu wanita matang itu seolah tidak ada bosannya kalau untuk urusan bercinta.


Setiap tahunnya bu Airin pasti akan melahirkan, sehingga pada tahun ketiga setelah dia melahirkan. Dia meminta tolong kepada mertuanya untuk mengajaknya menginap selama dua bulan.


Hal itu membuat Ridwan tidak bisa menjamah istrinya, bu Airin bahkan sengaja memasang implan sebelum anak bungsunya berusia dua bulan. Hal itu dia lakukan agar tidak kebobolan lagi.


"Yang, aku mau berangkat kerja. Tolong pasangin dasinya," pinta Ridwan manja. Bu Airin tersenyum, lalu dia segera memasangkan dasinya di leher suaminya.


Walaupun dia sudah mempunyai tiga anak, namun tetap saja Ridwan selalu bersikap romantis dan juga manja kepada bu Airin.


"Selesai," ucap Bu Airin.


Ridwan tersenyum, lalu dia menunduk dan segera menautkan bibirnya. Bu Airin langsung mendorong dada bidang Ridwan.


"Ada putra kita," kata Bu Airin.


Ridwan terkekeh saat mendeng apa yang dikatakan oleh Bu Airin.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷TAMAT🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat malam guyz, cerita Larasati sudah tamat ya. Bulan depan kita sambung dengan novel horor romantis yang penuh dengan drama misteri.

__ADS_1


Maaf jika selama ini kalian kurang puas dengan hasil tulisan Othor, Othor juga ucapkan terima kasih karena kalian sudah mendukung karya Othor ini, apa lagi untuk kalian yang selalu saja memberikan koment, like, Vote dan juga tipsnya


Untuk yang belum DM ke IG aku ditunggu banget loh.


__ADS_2