
Yudha seperti tak berselara saat makan lontong sayur pesanannya, baru dia makan separuh sudah dia tinggalkan.
Dia merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh para pemuda yang sedang sarapan bersama dirinya itu.
Akhirnya Yudha memutuskan untuk pulang, saja ke rumah kontrakannya. Tiba di sana, Yudha langsung mengambil ponselnya.
Dia membuka situs internet liputan nemnem yang biasa menyiarkan berbagai macam berita. Pencariannya berhasil, dia menemukan artikel berita tentang apa yang dibicarakan oleh orang-orang tadi.
'Telah ditemukan enam mayat dengan kondisi mengenaskan di taman, lima orang berjenis kelamin pria dengan propesi sebagai preman pasar. Satu orang lagi berjenis kelamin wanita, sekitar berusia dua puluh tahun, mantan mahasisiwi di sebuah perguruan tinggi ternama.
Mereka meninggal dalam kondisi mengenaskan, keenam orang tersebut ditemukan dalam keadaan tak berbusana.
Sepertinya mereka sempat menjadi bahan incaran perampokan, karena barang-barang berharga milik mereka raib.
Bahkan ada beberapa luka sabetan pisau di bagian tubuh tiga orang preman, dengan luka yang cukup lebar.
Sepertinya para perampok tersebut sengaja memanfaatkan situasi saat para preman itu asik bercinta, sehingga memudahkan mereka untuk menggasak barang berharga milik keenam orang tersebut.
Miris, preman menjadi korban perampokan.
Inilah foto keenam korba tewas tadi malam.
(Foto lima orang preman dan juga foto satu korban perempuan tewas ditampilkan.)
Jika ada pihak keluarga mengenali, silahkan langsung datang ke Rumah sakit Bakthi Negara.
Yudha terlihat menutup mulutnya dengan tangan kanannya, dia benar-benar merasa tak percaya jika foto wanita korban perampokan itu adalah Leana.
"Ya tuhan, Leana. Kenapa kamu jadi seperti itu? Kamu bahkan rela tidur dengan para preman untuk memuaskan hasrat kamu," kata Yudha lirih.
Tubuh Yudha terasa lemas membaca artikel berita tersebut, dia jadi mengingat akan kata-kata para pemuda itu. Jika Leana memiliki penyakit kelamin, dia menjadi ingin segera memeriksakan diri.
"Sepertinya aku tidak usah bekerja saja, aku mau ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan," kata Yudha.
Yudha segera bersiap, dia langsung mengambil ponsel, kunci motor dan juga dompetnya. Kemudian, dia pergi dengan menggunakan motor matic menuju Puskesmas terdekat.
Tiba di Puskesmas, Yudha langsung berjalan menuju loket pendaftaran. Setelah mendapatkan nomor antrian, Yudha terlihat duduk untuk menunggu.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Yudha dipanggil. Lalu, dia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Silakan duduk," ucap Dokter.
Yudha menurut, dia langsung duduk tepat di depan dokter tersebut. Wajah Yudha terlihat tegang, dia benar-benar merasa takut saat ini.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.
"Begini, Dok. Saya ingin memeriksakan kesehatan saya, saya juga ingin memeriksakan apakah saya kena HIV atau tidak. Soalnya saya--"
Yudha seakan tak berani untuk melanjutkan ucapannya, dia merasa malu dan juga takut untuk mengatakannya. Dokter tersebut nampak tersenyum, kemudian dia pun berkata.
"Untuk pemeriksaan HIV dan AIDS, anda bisa langsung periksa di klinik VCT. Anda harus melakukan tes serologi, ada beberapa langkah yang harus anda lakukan di sana. Jika hasilnya positif HIV, maka akan dilanjutkan pemeriksaan CD4. Tujuannya untuk cek sistem imun," jelas Dokter.
Yudha nampak menunduk lesu, dia benar-benar merasa takut saat ini. Dokter tersenyum seakan menguatkan, kemudian dia kembali berkata.
"Lakukanlah saja dulu pemeriksaannya, agar anda tahu kondisi tubuh anda yang sebenarnya," ucap Dokter.
"Tapi, Dok. Bagaimana kalau saya benar-benar positif HIV?" tanya Yudha.
"Anda harus menjaga sistem kekebalan tubuh anda, agar tidak berlanjut kepada pengakit AIDS. Karena itu akan berbahaya," ucap Dokter.
"Masih, bisa. Yang penting anda rutin menjalani pengobatan dan pola hidup sehat, tapi kalau sudah berlanjut ke AIDS--"
Dokter nampak menggelengkan kepalanya.
Yudha hanya bisa menghela napas berat, kemudian dia bertanya.
"Di mana saya harus melakukan pemeriksaannya, Dok?" tanya Yudha.
"Anda langsung saja ke klinik VCT, saya akan langsung menelpon dokternya agar anda bisa langsung ditangani,'' ucap Dokter.
"Baik, Dok," jawab Yudha.
Setelah mengucapkan terima kasih dan mengetahui di mana ruangan klinik VCT berada, Yudha pun langsung keluar dari ruangan pemeriksaan tersebut dan melangkahkan kakinya menuju tempat pemeriksaan selanjutnya.
Di sebuah desa yang asri.
__ADS_1
Jesicca terlihat begitu sibuk melayani pembeli dibantu oleh bi Minah, di kampung bi Minah memang sangat jauh ke pusat perbelanjaan.
Hal itu membuat warung kelontong yang Jesicca buat sangat ramai dikunjungi pembeli, bahkan bi Minah sampai kewalahan. Beruntung ada cucunya yang ikut membantu.
Amira, anak berusia delapan tahun itu begitu rajin membantu bi Minah dan juga Jesicca. Lalu, bagaimana dengan Putri, anak semata wayangnya bersama dengan Yudha?
Putri di asuh oleh putri bi Minah, Amalia. Suaminya hanya pulang di hari sabtu dan minggu, karena harus bekerja dil luar kota, hal itu membuat dia jenuh untuk berdiam di rumah saja.
Amalia pun berinisiatif untuk mengasuh Putri, tentu saja Jesicca sangat senang sekali. Apa lagi Amalia terlihat begitu menyayangi Putri.
Awalnya bi Minah yang akan membuat toko kelontong, namun dia merasa sudah tua. Uang hasil bekerja selama merantau di kota sudah cukup untuk biaya masa tuanya, akhirnya dia pun memutuskan untuk membantu Jesicca saja.
Jesicca membeli rumah sederhana di kampung bi Minah, lalu dia merombak ruang tamu manjadi warung kelontong.
Hal itu dia lakukan agar dia bisa hidup tanpa merepotkan orang lain, tentunya semua itu bisa terwujud karena uang tiga ratus juta yang diberikan oleh Larasati sebagai hasil pembelian rumahnya.
"Bi, terima kasih karena sudah membawa aku bersama dengan Bibi. Terima kasih karena Bibi sudah memberikan aku kesempatan untuk memulai hidup baru dan memulai usaha baru," kata Jesicca tulus.
"Sama-sama, ini sudah jalan dari yang maha kuasa. Selalu bersyukur dan banyak berdo'a," ucap Bi Minah.
"Ya, Bi," jawab Jesicca.
"Sekarang pergilah ke kota, stok dagangan sudah mulai menipis. Bibi sudah meminta tolong Maman untuk mengantarkan kamu, dia sudah menunggu dengan mobil bak terbukanya di dekat pos," kata Bi Minah.
"Iya, Bi," jawab Jesicca.
Sebelum pergi ke kota, Jesicca menghampiri Amalia yang sedang memangku putrinya. Dia menggendong putrinya dan melabuhkan ciuman hangat di kening Putri.
"Ibu ke pasar dulu, ya? Jangan nakal, yang nurut sama Bibi Amalia," kata Jesicca.
Baby berusia empat bulan itu tersenyum seraya menggoyang-goyangkan kedua tangan dan kakinya, Jesicca tersenyum lalu pergi meninggalkan Putri.
*
*
**Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tebar vote ya, hadiah, koment, like dan sarannya juga boleh. Siapa tahu nanti bisa jadi pembahasan di bab selanjutnya.
Kaleyan luar biasa 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘**