Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 6


__ADS_3

Satria terlihat sudah bersiap untuk melajukan motor sport kesayangannya, tiba-tiba saja Rachel datang dan merentangkan kedua tangannya di depan Satria.


Sontak Satria langsung mematikan mesin motornya, dia membuka helmnya dan langsung bersuara.


"Ada apa Rachel? Kenapa kamu menghalangi jalanku?" tanya Satria.


Rachel terlihat mendengkus sebal saat mendengar pertanyaan dari Satria, tentu saja dia memberhentikan Satria karena dia ingin berbicara dengan dirinya.


Dia bahkan merasa sangat cemburu jika Satria terlalu dekat dengan Putri, karena Rachel merasa jika Putri layaknya sebagai seorang kekasih saat memperlakukan Satria.


Bukan sebagai abangnya sendiri, Putri selalu bermanja dengan Satria, namun selayaknya kekasih yang meminta perhatian terhadap sang pacar.


"Abang mau ke mana? Kenapa Abang terlihat begitu dekat sama dia? Terus, kenapa duduknya nempel banget kaya gitu?" tanya Rachel dengan nada kecemburuan.


Putri yang merasa tidak enak hati terhadap Rachel, langsung melepaskan tangannya dari perut Satria.


Kemudian, dia menggeser letak duduknya agar lebih ke belakang. Dia berusaha untuk menjaga jarak dengan Satria, agar Rachel tidak merasa cemburu.


Rachel tersenyum melihat akan hal itu, karena dengan seperti itu rasa cemburunya sedikit berkurang. Walaupun satria tetap satu motor bersama dengan Putri.


"Abang mau anter Putri pulang," jawab Satria.


"Nanti balik lagi, ya, Bang. Rachel masih mau bicara," pinta Rachel.


Satria terlihat tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan Rachel.


Kenapa anak itu selalu saja bersikeras untuk mendekati dirinya, padahal dia masih sangat kecil, menurut Satria.


Saat ini adalah waktunya mereka untuk menikmati masa bermain, bukan menikmati masa berpacaran. Apalagi seperti Rachel, berusaha mengejar pria yang dia sukai.


"Abang ngga janji, soalnya sudah ada janji sama Daddy," jawab Satria.


'Maaf, Dad. Aku menjadikanmu sebagai alasan,' kata Satria dalam hati.


Tentu saja Satria harus pandai mencari alasan, karna dia tidak mungkin kembali lagi ke Panti hanya untuk mengobrol dengan Rachel.


Menurut Satria, akan lebih menyenangkan jika dia belajar lebih giat lagi. Agar dia bisa mendapatkan hasil maksimal, karena sebentar lagi dia akan lulus.


Mendengar jawaban dari Satria, Rachel terlihat tertunduk lesu. Pupus sudah harapannya untuk bisa bersama dengan Satria setelah kepergian Putri.


Padahal, tadinya dia sempat berpikir jika setelah kepergian Putri, maka dia akan sangat bebas mendekati Satria.

__ADS_1


"Ya sudah, tidak apa-apa," jawab Rachel lesu.


"Hem, Abang pulang dulu," pamit Satria seraya memakai helmnya.


"Hem," jawab Rachel lesu.


Satria terlihat kembali memakai helmnya, kemudian dia mulai menyalakan mesin motornya.


Lalu, dia menarik lembut tangan Putri agar segera memeluk dirinya. Satria merasa takut jika Putri akan jatuh terjengkang jika tidak memeluk dirinya.


Putri menurut walaupun dia merasa tidak enak hati terhadap Rachel, karena kini Rachel terlihat menatap dirinya dengan tatapan tajamnya.


"Sial!" umpat Rahel ketika motor Satria berlalu dari Panti.


Selama perjalanan menuju kediaman Juki, Satria dan Putri hanya saling diam. Satria terlihat fokus dengan menyetir, sedangkan Putri terlihat sibuk dengan pikirannya.


"Sudah sampai, sekarang turun. Jangan melamun," kata Satria.


"Iya, Bang," jawab Putri. Putri melerai pelukannya, lalu dia turun.


Jesicca yang melihat kedatangan Satria dan juga putrinya, langsung menghampiri mereka berdua.


"Hey! tumben sekali kalian sudah pulang? Apa papa Yudha tidak ada di Panti?" tanya Jesicca.


Begitupun dengan Putri, dia melakukan hal yang sama. Mereka memang sangat sopan, Jesicca selalu bersyukur akan hal itu.


"Bukan seperti itu, Bu. Papa sedang ada tamu, katanya mau mengadopsi salah satu anak Panti. Papa pasti sibuk, jadinya Putri mending pulang saja. Kan, bisa bantu ibu buat jagain Alex sama Ansel," jawab Putri.


Jesicca tersenyum, karena Putri begitu pengertian. Dia selalu saja mementingkan orang lain, dia selalu saja membantu dirinya untuk menjaga kedua adik kembarnya.


"Seharusnya kamu bermain saja di sana, siapa tahu Papa malah butuh bantuan kamu. Kalau tidak bermain di Panti, mungkin bisa bermain dengan teman-teman kamu. Karena ini adalah hari libur, lagi pula kedua adik kamu lagi jalan-jalan sama nenek Sari," awab Jesicca.


"Tidak apa-apa, Bu. Lagian sudah sampai rumah juga, Putri masuk saja, mau ngerjain tugas dulu." Putri langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Satria.


"Putri masuk, ya, Bang. Makasih udah anter pulang," kata Putri.


"Sama-sama, Abang pamit." Satria mengacak pelan rambut Putri.


"Ya," jawab Putri.


Putri terlihat masuk setelah berpamitan kepada Satria dan juga Jesicca, Satria juga sama. Dia terlihat pergi setelah berpamitan kepada Jesicca.

__ADS_1


Terkadang Jesicca merasa khawatir saat melihat kedekatan Satria dan juga Putri, entah kenapa Jesicca merasa jika sikap kedua bersaudara itu terlalu manis.


Takut-takut akan tumbuh perasaan yang tidak wajar di antara keduanya.


"Semoga saja hanya perasaanku saja," gumam Jesicca.


***


Tiba di kediaman Huntler, Satria terlihat memarkirkan motornya tepat di samping mobil mewah milik Jonathan.


Setelah itu, dia langsung melangkahkan kakinya menuju rumah megah itu. Dia langsung masuk ke dalam ruang keluarga, lalu duduk tepat di samping Larasati.


Ya, saat ini Larasati dan juga Jonathan terlihat sedang duduk di sofa yang sama. Kinara duduk tidak jauh dari mereka.


Wajah mereka terlihat sangat serius sekali, Satria menjadi penasaran dibuatnya. Dia rangkul pundak Larasati, lalu dia sandarkan dagunya di atas pundak ibunya.


"Ada apa sih, kenapa wajah kalian terlihat sangat tegang?" tanya Satria.


'"Heh!"


Terdengar helaan napas berat dari binjr Larasati, dia sedang membicarakan masalah hobi dari Kinara.


Larasati masih gamang untuk memberikan izin kepada putrinya, dia takut keputusannya akan berakibat buruk untuk Kinara ke depannya.


"Buna kamu masih bingung," kata Jonathan.


Satria seolah paham, dia langsung mengelus punggung Larasati dengan lembut.


"Buna harus percaya terhadap Kinar, aku yakin Kinar akan lebih baik jika Buna memberi Kinar izin," kata Satria.


Larasati terdiam, dia memandang ke arah Jonathan dan juga Satria secara bergantian. Jonathan nampak menganggukkan kepalanya, begitupun dengan Satria.


"Baiklah, Buna pasrah. Kinar boleh ikut pelatihan eksklusif di sirkuit, dengan naungan perusahaan ternama," kata Larasati.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Larasati, sontak Kinara melompat kegirangan. Dia langsung menghampiri Larasati dan memeluknya dengan erat.


"Buna terbaik," kata Kinara seraya mengecupi setiap inci wajah Larasati.


Jonathan dan juga Satria terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka ikut senang dengan apa yang Kinara rasakan. Namun, tetap saja dalam hati mereka berkata, akan menjaga Kinara dengan sangat ketat.


**//

__ADS_1


Masih berlanjut....


Selamat malam, selamat beristirahat. Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.


__ADS_2