
Ridwan dan juga bu Airin terlihat menggelengkan kepalanya melihat penampilan dari putrinya tersebut, mereka tidak menyangka jika Rachel akan keluar dalam keadaan kacau seperti itu.
Apa susahnya dia berkaca terlebih dahulu sebelum keluar dari apartemennya, pikir mereka. Atau mungkin sekedar cuci muka terlebih dahulu.
"Ya ampun, Sayang. Kamu itu sungguh keterlaluan," kata Bu Airin seraya mendorong tubuh putrinya untuk masuk ke dalam apartemennya.
Dahi Rachel terlihat mengernyit dalam, tapi walaupun seperti itu dia tetap nurut untuk masuk ke dalam apartemen dan duduk di atas sofa yang berada di ruang tengah.
"Ada apa sih, Bunda? Kok dorong-dorong aku kayak gini? Memangnya kenapa sih?" tanya Rachel heran.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari putrinya, bu Airin nampak menggelengkan kepalanya.
Dia lalu menuntun Rachel untuk berdiri tepat di depan cermin yang ada di ruang tengah tersebut, awalnya Rachel tidak paham.
Namun, setelah dia melihat pantulan dirinya di depan cermin Rachel terlihat tersenyum malu karena keadaannya terlihat begitu kacau.
"Oh ya ampun, Bunda. Aku malu," kata Rachel seraya mengusap-usap wajahnya.
Bu Airin terlihat tertawa melihat tingkah dari putrinya tersebut, kemudian dia mengusap lembut puncak kepala putrinya itu.
"Cuci muka dulu gih, terus ganti baju. Bunda mau nyiapin makanan dulu. Pasti kalian juga belum sarapan," ucap Bu Airin seraya menatap kotak bekal yang dia bawa.
"Belum, Bunda. Habis shalat subuh tidur lagi, ngantuk banget soalnya. Ini juga bangun karena Bunda datang," kata Rachel seraya mengucek matanya.
Bu Airin sempat memperhatikan tubuh putrinya yang terlihat lebih berisi, bahkan pipinya terlihat lebih cabi.
Bu Airin berpikir jika putrinya itu pasti merasa sangat bahagia bisa menikah dengan pria yang begitu dia cintai sejak kecil, Satria.
__ADS_1
Rachel terlihat mengecup pipi dari ibunya tersebut, kemudian dia langsung berlari menuju kamarnya.
Tentu saja tujuannya adalah dia ingin cuci muka dan mengganti pakaiannya, bu Airin terlihat tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Lalu, dia mengajak Ridwan untuk pergi ke dapur.
"Sepertinya Rachel sangat bahagia menikah dengan Satria," celetuk Ridwan seraya membantu istrinya mengambil piring untuk menuangkan makanan yang sudah mereka bawa.
"Hem, aku senang. Kamu lihat tadi, Sayang? Pipinya saja terlihat cabi, tubuhnya terlihat lebih berisi. Pasti karena sangat bahagia menikah dengan menantu kesayangan kita," timpal Bu Airin seraya terkekeh.
Dalam hati Ridwan membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya, Rachel terlihat begitu bahagia hidup bersama dengan Satria.
Walaupun Rachel masih sangat kecil menurutnya, tapi Rachel bisa berumah tangga dengan benar bersama dengan Satria. Dia bangga.
"Hem," jawab Ridwan.
Cukup lama mereka menunggu kedatangan anak dan menantunya, hingga sepulub menit kemudian Rachel telah kembali dengan memakai dress selutut.
Satria lalu menghampiri mertuanya tersebut, kemudian mencium punggung tangan Ridwan dan juga bu Airin secara bergantian.
"Maaf kami telat bangun," kata Satria tidak enak hati.
Mendengar Satria yang menyapanya, bu Airin terlihat memperhatikan penampilan dari anak dan menantunya.
"Tidak apa-apa, ayo Sayang. Bantu Bunda buat bikin minumannya," ajak Bu Airin kepada Rachel.
Rachel tersenyum, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bersama dengan bu Airin terlihat menyiapkan minuman.
Berbeda dengan Satria dan juga Ridwan yang terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut, Ridwan terlihat menepuk lengan menantunya lalu berkata.
__ADS_1
"Jangan terlalu sering mengajak putriku untuk melakukan itu, kasihan dia masih kecil," ucap Ridwan to the point.
Mendengar apa yang dikatakan oleh orang tuanya dari istrinya, Satria terlihat menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.
Justru akhir-akhir Ini dia yang begitu kewalahan menghadapi Rachel, bahkan beberapa kali Satria terlihat mengantuk saat bekerja.
Yoga bahkan sempat menertawakan tingkah Satria yang ketiduran saat hendak meeting, beruntung meetingnya diundur setengah jam kemudian. Sehingga Satria masih bisa melanjutkan istirahatnya.
"Kenapa malah terdiam? Ayah lagi bicara loh sama kamu," ucap Ridwan.
"Bukan seperti itu, Yah. Hanya saja akhir-akhir ini Rachel terlihat aneh, justru aku sedang tidak ingin pun dia akan mengajakku. Pokoknya Rachel terlihat sangat aneh," adu Satria dengan tidak enak hati.
Ridwan terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, seingatnya saat istrinya dulu mengandung justru bu Airin yang begitu bersemangat untuk bercinta.
Bahkan, Ridwan sempat meriang gara-gara kecapean. Bukan karena kecapean bekerja, tapi dia kecapean karena habis lembur bersama dengan istrinya.
Tidak lama kemudian, Ridwan terlihat memelototkan matanya. Lalu dia bertanya kepada Satria.
"Apakah kalian saat berhubungan menggunakan pengaman?" tanya Ridwan.
Satria yang mendapatkan pertanyaan seperti itu terlihat kebingungan, dia hanya menatap mertuanya dengan dahi yang mengernyit dalam.
**
Jangan lupa mampir di karya Othor yang lainnya, terima kasih.
__ADS_1