
Jesicca terlihat duduk seraya mengelus lembut puncak kepala putrinya, dia merasa sangat sedih karena disaat putrinya sakit Yudha tidak ada di sampingnya.
Sialnya dia lupa membawa handphonenya, sehingga dia tidak bisa mencoba menghubungi suaminya kembali.
Sebenarnya, dia masih merasa sangat penasaran dengan sosok lelaki yang bergandengan mesra dengan seorang perempuan muda tadi.
Dia merasa sangat yakin, jika itu adalah Yudha, suaminya. Namun, dia juga tak bisa menuduh sembarangan sebelum menemukan bukti yang kuat.
"Tanpa terasa, air matanya jatuh begitu saja. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini di dalam hidupnya.
Dia jadi berpikir, mungkin inilah karma yang harus dia terima karena dulu sudah merayu suami orang.
'Ya Tuhan, apakah saat ini aku sedang diuji atau sedang dihukum karena kesalahanku di masa lalu?' tanya Jesicca dalam hati.
"Nyonya, saya harus pulang atau menunggu Putri juga?" tanya Bi Minah.
Jesicca terlihat mengusap air matanya yang terus saja merembes keluar, kemudian dia pun menatap bi Minah dengan lekat.
"Pulanglah, Bi. Kalau Mas Yudha datang, tolong bilang padanya untuk segera menyusul." Jesicca berusaha untuk tersenyum.
"Iya, Nya. Nyonya jangan nangis terus, kasihan Putri. Nasi gorengnya juga jangan didiemin aja, dimakan, Nya. Biar kuat, nanti kalau sakit Putri ngga ada yang jaga," kata Bi Minah.
"Bibi benar," kata Jesicca.
Bi Minah tersenyum saat melihat Jesicca mulai mengambil nasi gorengnya, lalu dia pun membuka bungkus nasi goreng tersebut dan mulai memakannya.
Setelah memastikan Jesicca makan, Bi Minah pun segera keluar dari ruang perawatan tersebut.
Dia ingin segera pulang, takut-takut nanti Yudha malah keburu datang. Dia takut jika Yudha akan marah, karena saat tiba tidak ada orang di rumah.
Setelah kepergian bi Minah, Jesicca pun nampak menyimpan kembali bungkusan nasi goreng yang baru beberapa suap dia makan
Dia merasa tidak berselera untuk makan, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kesembuhan Putri.
"Cepat sembuh, Sayang. Ibu sedih kalau kamu sakit kaya gini, kamu penyemangat ibu. Kamu belahan jiwa ibu, ibu mau kamu cepat sembuh." Kembali air mata jesicca terjatuh dari pelupuknya.
Saat dia sedang menangis, tiba-tiba saja seorang dokter dan juga dua orang perawat nampak masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dengan cepat Jesicca pun mengusap air matanya, lalu dia pun segera berdiri dan menanyakan kondisi putrinya.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok? Lalu, bagaimana hasil tes labnya?" tanya Jesicca.
__ADS_1
Dokter tersebut nampak tersenyum, dia berusaha untuk menenangkan hati Jesicca.
"Putri anda positif terkena demam berdarah, Nyonya. Dia harus dirawat selama beberapa hari," ucap Dokter tersebut.
Mendengar akan yang dikatakan oleh dokter tersebut, membuat hati Jesicca menjerit. Mungkin karena dia Putri sering dibawa keluar untuk disusui olehnya. Makanya kini dia terkena demam berdarah.
Selama satu minggu ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga warung yang dia kelola membuat dia sibuk dan tidak bisa menyusui Putri di dalam rumah.
Dia malah lebih sering menyusui Putri di luar rumah, terkadang Jesicca hanya memompa ASI-nya saja dan memasukkannya ke dalam botol susu.
Hal itu dia lakukan agar Bi Mnah bisa memberikan ASI tersebut kepada Putri di dalam rumah.
"Saya sudah memberikan obat lewat cairan infus, anda beristirahatlah. Karena panasnya juga sudah mulai turun," kata Dokter.
"Terima kasih, Dok. Saya akan beristirahat," jawab Jesicca.
"Saya pamit ya, Nyonya." Dokter pun nampak keluar dari ruangan tersebut.
Begitu pula dengan dua orang suster yang sudah mengecek kondisi Putri, mereka langsung keluar dari ruangan tersebut.
Selepas kepergian dokter dan juga suster, Jesicca nampak menyandarkan kepalanya di bibir bad pasien. Tak lama kemudian dia pun terlelap, karena merasa sangat lelah.
*/*
Ternyata, selain ada tuan Elias dan juga nyonya Meera, di sana juga ada Jonathan yang terlihat sedang duduk manis.
Sudah dua minggu ini Jonathan selalu ikut bergabung saat sarapan pagi, karena setelah itu dia akan mengantarkan Larasati menuju Cafe yang dia kelola.
Setelahnya, barulah dia berangkat menuju Rumah Sakit milik ayahnya sendiri, Tuan Keanu.
"Pagi, Cantik. Pagi jagoan Daddy," sapa Jonathan kepada dua orang tersayang yang baru saja duduk di ruang makan.
"Pagi, Daddy," jawab Satria.
"Pagi, Jo," balas Larasati.
Mendengar Larasati yang masih memanggilnya dengan sebutan 'Jo', Jonathan terlihat memberenggut .
Padahal dia sudah meminta Larasati untuk memanggilnya dengan sebutan Mas, atau yang lainnya.
Namun, Larasati masih saja memanggilnya dengan sebutan nama. Padahal apa susahnya menyematkan kata 'Mas' sebelum namanya.
__ADS_1
"Ra! Panggilannya sayangnya mana?" tanya Jonathan.
"Ya ampun, Jo. Nanti kalau kita sudah menikah," jawab Larasati.
"Apa tidak sebaiknya dimulai dari dlsekarang? Biar terbiasa," ucap Nyonya Meera mengusulkan.
"No, Mom. Nanti saja," ucap Larasati tersipu.
Melihat wajah Larasati yang terlihat merona, Jonathan pun langsung terkekeh. Walaupun Larasati belum bisa menyebutnya dengan panggilan kesayangan, namun dia merasa senang karena setidaknya Larasati sudah bisa menerima dirinya.
Bahkan, sepertinya Larasati sudah mulai menyukai dirinya. Karena setiap kali dia menggodanya, Larasati selalu saja tersipu malu dibuatnya.
"Sudah-sudah, kita sarapan dulu." Tuan Elias langsung memberi komando.
Akhirnya mereka pun sarapan dengan hidmat, setelah selesai sarapan, Larasati dan juga Jonathan nampak berpamitan kepada Satria, nyonya Meera dan juga kepada tuan Elias.
"Buna kerja dulu," pamit Larasati.
"Ya, Buna." Satria langsung mengecup setiap inci wajah Larasati, hal itu selalu menjadi penyemangat untuk dirinya. Karena itu adalah hal yang paling berharga untuk dirinya.
"Daddy juga pamit ya, Sayang." Jonathan langsung menggendong Satria dan menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Hati-hati, Daddy," ucapnya.
Setelah berpamitan, Jonathan pun langsung mengantarkan Larasati menuju Cafe. Tiba di sana, Angga pun langsung menyambut kedatangan Larasati.
"Mbak, aku sudah mencoba olahan resep baru. Semoga Mbak suka," kata Angga.
"Ya, aku akan mencobanya." Larasati terlihat mulai berjalan dengan Angga.
"Tunggu!" kata Jonathan.
Larasati pun menghentikan langkahnya, kemudian dia pun menatap Jonathan yang kini tengah menghampiri dirinya.
Setelah Jonathan berada di samping Larasati, dia pun kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu berbisik tepat di telinga wanita yang sangat dia cintai.
"Jangan terlalu dekat dengan brondong itu, aku cemburu," ucap Jonathan.
Mendengar ucapan Jonathan, Larasati langsung tertawa. Padahal Angga adalah anak kecil, pikirannya. Kenapa juga dia bisa cemburu terhadap Angga.
"Jangan aneh-aneh, Jo. Dia hanya anak kecil," bisik Larasati.
__ADS_1
"Tapi, kecil-kecil begitu juga dia pasti bisa bikin anak kecil. Jangan terlalu deket pokoknya," ucap kekeh Jonathan.
"Ya," jawab Larasati.