Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 20


__ADS_3

Bagaimana tidak merasa mulai takut, karena wajah keenam sahabat Kinara kini sudah mulai tidak bersahabat.


Mereka menatap Jeremy dengan tatapan penuh kebencian, karena mereka sangat tahu bagaimana Kinara begitu mengejar lelaki yang namanya Jeremy itu.


Sayangnya, Jeremy selalu saja membuat Kinara kecewa. Bodohnya, Kinara tidak pernah marah.


Kinara selalu saja membenarkan semua kesalahan yang Jeremy lakukan terhadap dirinya.


"Santai dong, santai. Gue mau ngomong bentar. Jangan pada galak-galak, oke!" pinta Jeremy.


"Sudahlah, sekarang Kak Jeje bilang maunya apa. Jangan berbelit-belit kek gini, Kinar ngga suka," kata Kinara.


"Kinara Afasya Huntler, aku mau menunggu kamu sampai pulang nanti. Maaf karena aku sudah membuat kamu sering sakit hati, maaf karena aku sudah terlambat menyadari rasa ini," kata Jeremy.


Kinara langsung menyentak tangannya hingga terlepas, dia merasa muak dan merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh Jeremy.


"Elu aneh, mending sekarang elu pergi aja. Gue ngga mau dengar apa pun lagi yang keluar dari mulut elu," kata Kinara.


Jeremy sangat mengerti kenapa Kinara mengatakan hal itu, karena walau bagaimanapun juga sudah banyak kesalahan yang Jeremy lakukan terhadap Kinara.


"Maaf kalau selama ini aku selalu menyakiti hati kamu, Kinara." Jeremy memeluk Kinara dan melabuhkan kecupan di puncak kepala Kinara.


Untuk sesaat Kinara terdiam, dia seolah hanyut dalam rasa yang seakan merasa terbalas.


Namun, beberapa detik kemudian Kinara mendorong tubuh Jeremy dengan kuat. Rasanya itu sungguh tidak pantas terjadi.


"Ck! Elu itu mahluk yang paling menyebalkan yang pernah gue temui," kata Kinara.


Kinara terlihat bangun dari duduknya, lalu dia merogoh tas selempang miliknya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Sorry guyz, gue balik duluan. Ini buat bayarin makanan kita barusan," kata Kinara seraya menyimpan uang tersebut di atas meja.


Setelah mengatakan hal itu, Kinara nampak keluar dari Cafe. Jeremy berusaha untuk mengejar Kinara, tapi beberapa bodyguard yang disiapkan oleh Larasati langsung menghadangnya.

__ADS_1


"Maaf, anda tidak diperbolehkan untuk mendekati Nona kami," kata bodyguard A.


"Shittt!" umpat Jeremy.


Kinara nampak masuk ke dalam mobil, lalu dia meminta sopir untuk melajukannya menuju kediamannya.


Sepanjang perjalanan pulang, Kinara terlihat melamun. Namun, tidak ada air mata yang menetes di pipinya.


Rasa cintanya untuk Jeremy memang masih ada, tapi rasa cinta itu kini sudah mulai memudar.


"Sudah sampai, Non," kata Pak Sopir.


"Eh? Iya, Pak. Terima kasih," kata Kinara.


Kinara langsung turun dan sedikit berlari agar segera sampai menuju kamarnya, Larasati yang melihat kedatangan putrinya terlihat keheranan. Karena khawatir Larasati langsung menyusul putrinya.


"Hay, Sayang. Boleh Buna masuk?" tanya Larasati seraya menyembulkan wajahnya.


Larasati langsung masuk dan menghampiri putri cantiknya, dia duduk tepat di samping Kinara yang sedang duduk di atas sofa.


"Kok sudah pulang? Bukannya kamu baru keluar sebentar?" tanya Larasati.


"Malesin, Bun. Ada Kak Jeje," kata Kinara lesu.


Larasati tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, dia mengelus lembut puncak kepala putrinya, lalu berkata.


"Bukannya kamu paling senang ya, kalau ketemu sama pembalap itu?" tanya Larasati.


Kinara langsung menggelengkan kepalanya, dulu mungkin iya. Namun, sekarang tidak lagi. Justru bertemu dengan Jeremy adalah hal yang paling menyebalkan untuk dirinya.


Walaupun di dalam hati masih ada rasa untuk lelaki itu, tapi tetap saja jika mengingat akan kelakuan dan kata-kata menyebalkan yang keluar dari mulut Jeremy, Kinara merasa kesal.


"Sudah tidak lagi," jawab Kinara.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu mending kamu bersiap. Besok kita akan berangkat, jangan sampai ada yang tertinggal." Larasati tersenyum, lalu memeluk putrinya.


Rasa sesak mulai menyeruak di dalam dadanya, bukan karena kesedihan akan hal buruk yang dia terima.


Namun, Larasati tidak menyangka jika kedua buah hatinya akan pergi meninggalkan dirinya. Namun, Larasati tetap merestui.


"Kamu hati-hati ya, selama di sana. Besok Buna sama daddy cuma bisa anterin terus nginep dua hari doang, jangan ngebantah sama aunty Mini sama ayah Angga juga," pinta Larasati.


"Iya, Buna. Kinar akan jadi anak baik," kata Kinara.


Kedua wanita cantik berbeda generasi itu terlihat begitu bersedih dan juga terharu, mereka saling memeluk dan menangis.


"Hey! Kenapa kedua bidadari Daddy menangis seperti ini?" tanya Jonathan yang baru saja datang.


Larasati dan juga Kinara terlihat melerai pelukannya, kemudian mereka menyeka air mata di pipinya. Mereka berusaha untuk menunjukkan senyum manisnya kepada Jonathan.


"Tidak ada apa-apa, Sayang," kata Larasati.


"Hem, Buna benar. Kami hanya sedang saling menyayangi," kata Kinara.


"Ya, Daddy percaya." Jonathan langsung duduk di antara kedua bidadari cantiknya.


Larasati dan Kinara tersenyum, kemudian mereka memeluk Jonathan dari samping dan menyandarkan kepala mereka di pundak Jonathan.


Jonathan ikut tersenyum, kemudian dia kecup puncak kepala Larasati dan juga Kinara secara bergantian.


"Untuk istriku, jangan pernah bersedih. Karena Kinar pergi untuk menimba ilmu, untuk Kinar juga jangan bersedih. Karena Buna pasti akan tetap perhatian dan pengertian walaupun kita berjauhan," kata Jonathan.


"Yes, Daddy," jawab keduanya.


***


Masih berlanjut, yes. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak, kalian selalu menjadi penyemangat buat Othor.

__ADS_1


__ADS_2