
Hari yang dinanti kini telah tiba, pagi-pagi sekali Larasati terlihat sedang di rias di kamar hotel yang khusus tuan Elias dan nyonya Meera siapkan untuk Larasati.
Dia terlihat gugup sekali, padahal ini bukan pernikahan yang pertama baginya. Namun, rasanya jantungnya terasa berdebar dengan kencang.
Tidak seperti saat dia menikah dengan Yudha, mereka hanya menikah dengan sederhana. Tanpa adanya pihak keluarga yang menyaksikan, tanpa adanya pesta khusus setelah menikah.
"Jangan gugup, Sayang." Nyonya Meera terlihat menenangkan putrinya.
"Ngga bisa, Mom. Tetap saja gugup, padahal ini bukan yang pertama," ucap Larasati lirih.
"Mom mengerti," ucap Nyonya Meera.
Dia terlihat mengelus lembut punggung putrinya, dia berusaha untuk memberikan semangat agar putrinya tidak tegang dalam menghadapi acara pernikahannya.
Di balroom hotel.
Jonathan kini sedang duduk tepat di depan tuan Elias, tangan Jonathan dan juga tangan tuan Elias kini saling berjabat.
Tuan Elias nampk terkekeh kala merasakan tangan Jonathan yang begitu dingin.
Setelah acara dimulai dengan berdoa dan membaca Al Qur'an, kini tibalah di mana tuan Elias harus mengucapkan kata ijab.
Wajah Jonathan terlihat tegang sekali, semua orang yang hadir di sana nampak mengatupkan mulut menahan tawa.
Seorang dokter muda yang selalu terlihat gagah dan juga selalu bisa bersikap tenang kala menghadapi para pasiennya, kini terlihat begitu gugup dan tegang.
Buliran keringat di dahinya nampak mengalir dan membasahi wajah tampannya, tuan Keanu yang berada di samping Jonathan nampak menepuk pundak putranya.
"Baru mau ngucapin kata kabul saja kamu sudah tegang, jangan-jangan pas malam pertama kamu malah pingsang," goda Tuan Keanu.
"Dad!" seru Jonathan.
Melihat Jonathan yang menatap dirinya dengan tatapan penuh protes, tuan Keanu langsung terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
"Ekhm, bisa kita mulai acarnya?" tanya Pak penghulu.
"Bisa, Pak," jawab Jonathan lantang.
"Baiklah, kalau begitu silakan Tuan Elias untuk mengucapkan kata ijab," kata Pak penghulu.
Setelah pak penghulu memberikan instruksi, tuan Elias nampak mengucapkan kalimat ijab.
__ADS_1
"Ananda Jonathan Ricardh Hunntler, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Larasati Putri Dinata binti Elias Ardhan Dinata, dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dan juga uang tunai sebesar Rp. 2.603.2022 dibayar tunai."
Tuan Elias nampak menghentakkan tangannya, kemudian Jonathan langsung mengucapkan kalimat kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Larasati Putri Dinata binti Elias Ardhan Dinata, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Jonathan berkata dengan lantang.
"Bagaimana para saksi? SAH?" tanya Pak Penghulu.
"SAH!"
Terdengar riuh dari para tamu yang hadir di acara pernikahan Jonathan dan juga Larasati, setelah mengucapkan hamdalah dan juga membaca do'a, tak lama kemudian terlihat Larasati yang berjalan menghampiri Jonathan.
Dia berjalan diapit oleh Mini dan juga nyonya Meera, Larasati terlihat sangat cantik sekali menggunakan gaun pengantin berwarna putih tulang, gaun itu nampak tertutup. Karena permintaan dari Jonathan, dia tidak ingin tubuh istrinya menjadi konsumsi publik.
Gaun itu terlihat sangat sederhana, namun terlihat begitu elegan. Mini yang berada di sampingnya pun tak kalah cantik, dia memakai gaun bermotif batik khas indonesia.
Karena memang Mini adalah wanita pecinta batik, Jonathan sempat terpaku melihat kecantikan sang istri.
Larasati memang jarang sekali menggunakan riasan dalam kesehariannya, maka dari itu saat melihat Larasati, dia begitu pangling.
Kalau saja tidak malu, ingin sekali Jonathan langsung menghampiri Larasati dan menggendongnya, lalu membawa wanita yang telah menjadi istrinya tersebut ke dalam kamar pengantin mereka.
"Ehm, Jo. Kamu sudah seperti bayi yang menginginkan hal tapi tak dituruti," kata Tuan Elias seraya menggelengkan kepalanya.
"Ilernya dielap dulu, Jo!" celetuk Tuan Keanu.
Sontak Jonathan langsung mengelap bibirnya, semua orang yang melihat akan hal itu langsung tertawa karena Jonathan telah dikerjai oleh ayah dan mertuanya sendiri.
Jonathan sempat mendelik sebal, namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena kini Larasati sudah berada di sampingnya.
Sontak bibirnya yang tadi terlihat mencebik kesal, kini berubah menjadi sebuah senyuman yang sangat manis sekali.
"Silakan tanda tangani buku nikah kalian," ucap Pak penghulu seraya menyodorkan buku nikah kepada Larasati dan juga Jonathan.
Larasati dan Jonathan langsung mengambil buku nikah tersebut dari tangan pak penghulu, kemudian mereka membubuhkan tanda tangannya.
"Akhirnya sah," celetuk Jonatahan.
Satu cubitan langsung Jonathan dapatkan di perutnya, Larasati terlihat tersipu malu dengan apa yang diucapkan oleh Jonathan.
"Silakan pakaikan cincin pernikahannya," ucap Pak penghulu.
__ADS_1
Larasati dan Jonathan menurut, Jonathan terlihat tersenyum manis lalu meraih cincin pernikahannya dan memakaikan di jari manis Larasati.
Begitupun dengan larasati dia langsung memakaikan cincin kawin milik Jonathan di jari manis lelaki tersebut.
Tepuk tangan para tamu yang hadir semakin riuh, apa lagi ketika Larasati mengecup punggung tangan Jonathan dan dengan tidak sabarnya Jonathan langsung melabuhkan kecupan hangat di kening Larasati.
Apa lagi ketika Jonathan yang tiba-tiba saja menunduk dan mengecup bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya tersebut, semua tamu yang hadir nampak tergelak.
Berbeda dengan Angga, dia hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Entah apa yang dia rasakan saat ini, dia pun tak tahu
Lalu, bagaimana dengan Yudha?
Dia terlihat tersenyum, dia sangat senang karena akhirnya Larasati bisa menemukan kebahagiaannya.
Walaupun dalam hatinya dia menjerit, karena wanita yang dulu begitu mencintainya, wanita yang dulu begitu memujanya, kini sudah menjadi milik orang lain.
Hanya ada penyesalan di dalam hati Yudha karena sudah menyia-nyiakan wanita seperti Larasati, wanita istimewa yang pernah singgah di dalam kehidupannya.
Mini sempat memperhatikan Angga, dia tersenyum kecut kala melihat raut kesedihan di mata Angga.
Rangkaian demi rangkaian acara pun telah selesai dilaksanakan, kini acara berlanjut kepada acara resepsi pernikahan.
Larasati dan Jonathan sudah berdiri di atas pelaminan, mereka terlihat sangat serasi sekali. Cantik dan juga tampan.
Satria bahkan sudah terlihat sangat tampan, dia berdiri di antara Larasati dan juga Jonathan. Balita berusia dua tahun itu terlihat menjadi pusat perhatian, karena ketampanannya.
Dia bahkan terlihat menggemaskan, karena balita berumur dua tahun itu memakai tuxedo yang sama dengan yang dipakai oleh Jonathan.
Para tamu yang hadir mulai naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat dan memberikan kado kepada pasangan pengantin baru tersebut.
Mini memperhatikan Angga yang hanya duduk tanpa ada niat untuk mengucapkan selamat kepada Larasati, Mini pun berinisiatif untuk mengajak Angga naik ke atas pelaminan.
Mini melangkahkan kakinya ke arah di mana Angga tengah duduk anteng sendirian, Angga terlihat sangat tampan di mata Mini dengan menggunakan kemeja batik kesukaan Mini.
"Hey! Mau kemana?" tanya Frans seraya mencekal pergelangan tangan Mini.
"Mau--"
"Temenin aku ngambil minuman, yu? Haus," kata Frans seraya mengelus lehernya.
"Ya ampun, Kak Frans lebay!" kata Mini seraya terkekeh.
__ADS_1
Angga yang mendengar obrolan antara Frans dan juga Mini, seakan tertarik kembali kedalam alam nyata.
Dia langsung memalingkan wajahnya ke arah Mini dan Frans, mereka terlihat begitu asyik bercengkerama. Bahkan tangan Frans terus saja menggenggam tangan Mini dengan erat.