Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Bermain Bersama


__ADS_3

Mendengar penuturan dari Jonathan, wajah Yudha terlihat sedikit lebih lega. Dia memberanikan diri untuk menatap Jonathan, lalu dia pun bertanya.


"Jadi, aku masih boleh bermain dan bersentuhan dengan putraku?" tanya Yudha.


"Tentu saja boleh, apa lagi kamu Ayah biologisnya. Justru itu akan menambah rasa semangat kamu, agar kamu bersemangat untuk menjalani pengobatan agar bisa cepat sembuh. Berjuanglah untuk sembuh, setidaknya untuk anak kamu," ucap Jonathan menyemangati.


Setelah mengatakan hal itu, Jonathan nampak memperhatikan kondisi tubuh Yudha. Tubuhnya terlihat lebih kurus, wajahnya lebih pucat. Dia seperti tak memiliki semangat untuk hidup.


"Kalau begitu, bolehkan aku bermain dengan putraku?" tanya Yudha seraya menatap Jonathan dan juga Larasati secara bergantian.


Jonathan tersenyum lalu dia menatap wajah Larasati, dia seakan meminta persetujuan kepada wanitanya.


Larasati tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya. Yudha terlihat sangat senang sekali, lalu dia terlihat menghampiri Satria yang berada di dalam pelukan Jonathan.


"Maafkan Papa, Sayang. Satria mau' kan, main sama Papa?" tanya Yudha.


Satria terlihat melerai pelukannya, dia lalu menatap wajah Yudha dengan lekat. Seulas senyum terbit dari bibir mungilnya.


"Mau," kata Satria seraya merentangkan kedua tangannya.


Melihat respon dari putranya, Yudha benar-benar merasa sangat bahagia. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca.


Dia langsung membawa Satria ke dalam gendongannya, lalu mengajak putranya untuk bermain bersamanya.


Di saat dia sakit seperti ini, dia masih merasa bersyukur karena putranya mau mengakui dirinya. Larasati juga seolah begitu tenang dan biasa saja saat melihat dirinya.


Dia tak melihat kebencian di mata mantan istrinya itu, dia tak melihat rasa dendam di wajah Larasati. Hanya sorot mata iba dan ketulusan yang bisa dia lihat dari mantan istrinya itu.


Padahal saat Larasati melahirkan, Yudha malah sibuk bercinta dengan Jesicca. Dia berlomba untuk menggapai rasa nikmat di atas cinta terlarangnya.


Bahkan saat Satria dibawa pulang ke rumah mereka, Yudha seakan acuh. Dia tak memedulikan Satria dan juga Larasati.


Rasa yang lebih membuat dia merasa bersalah, saat itu Yudha tidak memberikan nama kepada putranya, dia benar-benar dibutakan oleh nafsuu kala itu.


Dadanya terasa sesak kala mengingat akan hal itu, namun semua sudah berlalu. Yudha hanya perlu perbaiki diri, agar semua orang mau memaafkan dirinya.


Tak ada gunanya dia terpuruk dalam penyesalan, karena gelas yang sudah retak tak mungkin bisa utuh kembali.

__ADS_1


Sore itu Yudha terlihat bahagia sekali, dia merasa sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bisa bermain dengan putra semata wayangnya bersama dengan Larasati.


Dia benar-benar menyesal, karena dulu dia terlalu terobsesi untuk memiliki pasangan yang cantik dan sempurna.


Dia seolah lupa jika saat bertemu dengan Larasati, Larasati juga begitu sempurna. Dia begitu cantik, menarik, langsing dan juga berpendidikan.


Pukul 17.30 sore, Larasati pun memutuskan untuk mengajak Satria pulang ke kediaman Dinata, karena sebentar lagi waktu maghrib akan tiba.


Sebenarnya Yudha merasa enggan untuk berpisah dengan putranya tersebut, karena dengan kebersamaan dirinya dengan Satria bisa membuat dia merasa sangat bahagia.


Namun, dia harus menghargai keputusan Larasati. Karena walau bagaimanapun juga kini mereka sudah berpisah dan harus menjalani kehidupan masing-masing.


Dalam hati Yudha masih berasa bersyukur karena Larasati mengizinkan dirinya untuk bermain bersama dengan putranya.


"Aku pulang dulu, Papa hati-hati," ucap Satria.


"Ya, Sayang. Kamu juga hati-hati, Papa sayang kamu," ucap Yudha.


"Aku pun," jawab Satria.


Yudha terlihat menatap wajah Larasati dan juga Jonathan secara bergantian, kemudian dia pun berkata.


Larasati tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Jonathan terlihat merangkul pundak Larasati, lalu mengajak wanita yang dia cintai bersama dengan putranya untuk segera pulang karena hari sudah semakin sore.


Yuda hanya bisa menatap nanar kepergian mantan istrinya dan juga putranya tersebut.


"Maafkan Papa, Sayang," ucap Yudha lirih.


Di Cafe.


Angga merasa sangat terbantu karena ternyata Mini benar-benar bisa membuat kue, bahkan ada kue yang Mini buat terlihat begitu menarik bentuknya, bahkan rasanya pun begitu enak.


Angga memuji Mini dalam hati, namun dia tak berani mengatakannya, dia takut jika Mini akan besar kepala dan tak berhenti mengoceh.


"Ini sudah mau maghrib loh, kenapa tidak pulang juga sih? Kamu ngga takut kena bogem mentah Daddy kamu?" tanya Angga.


"Ngga dong, kan aku mengikuti calon imamku," jawab Mini.

__ADS_1


Mendengar apa yang diucapkan oleh Mini, Angga hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti terhadap gadis seperti Mini, padahal dia kayak, dia cantik, dia menarik, dia seksi bahkan uangnya pun bergelimang. Lalu kenapa dia harus susah payah mengejar dirinya yang hanya orang biasa, pikirnya.


Bahkan Angga sempat tak habis pikir kepada Mimi, karena siang tadi Mini mengungkapkan perasaannya.


Mini berkata jika dia menyukai Angga saat pertama kali mereka bertemu, bahkan Mini berkata bersedia menjadi istri Angga jika angga sudah siap untuk menikah.


Perasaan Angga saja saat ini masih sedang tidak menentu, di hatinya masih penuh dengan nama Larasati. Wanita yang selama tahun lebih bersama dengan dirinya.


Angga terlihat melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, Mini tak mau kehilangan jejak Angga.


Dia langsung mengikuti Angga ke dalam ruang kerja lelaki itu, saat tiba di dalam ruangannya Angga terlihat sangat kaget karena Mini kini tepat berada di belakangnya.


"Pulanglah, aku mau maghrib," kata Angga.


"Mau ikut, aku mau salat berjamaah bareng kamu," ucap Mini.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Mini, Angga terlihat memutar bola matanya malas. Menurut dirinya, Mini itu terlalu memaksakan kehendak dan juga kekanak-kanakan.


"Lebih baik kamu pulang, ini sudah sangat sore. Takutnya daddy kamu akan salah paham." ucap Angga mengikatkan.


"Tidak mau, aku tidak mau pulang. Aku maunya sama kamu, mau mgapain aja terserah, yang penting bisa sama kamu. Pulangnya bisa nanti-nanti," kata Mini.


Mendengar ucapan Mini Angga hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Mini terlihat menunggu Angga di balik pintu, kamar mandi. Saat Angga membuka pintunya, dia terlihat kaget karena Mini sedang berdiri tegak di samping pintu kamar mandi.


"Ya ampun, kenapa diam di sini? Apa kamu sedang mengintip?" tanya Angga.


Mini tersipu mendengar apa yang dikatakan oleh Angga.


"Aku tidak mengintip, aku hanya ingin mengambil air wudhu dan segera melakukan salat berjamaah sama kamu," ucap Mini.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Mini, Angga seolah tak menggubris, dia langsung meninggalkan Mini yang masih mematung di depan kamar mandi.


*


Bersambung....

__ADS_1


🍓🍓🍓


Bab kedua, masih ada satu bab untuk sore nanti.


__ADS_2