Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tak Menentu


__ADS_3

Padahal waktu baru menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit, namun Jonathan sudah mulai mencumbui istrinya dan memancing hasrat sang istri agar mau kembali mengulang hal yang baru dia rasakan kemarin malam.


Rasa nikmat yang begitu sulit untuk Jonathan jabarkan, gumpalan rasa yang membuncah dan terasa akan siap meledak kapan saja jika dia tak bisa mengatur tempo dan ritme dalam dia berirama.


Semakin lama dia mencumbui sang istri semakin menggeliat dan semakin terpancing gairah, tatapannya terlihat begitu diliputi kabut cinta yang seakan meminta untuk segera dimasuki.


"Mas!" rintih Larasati.


Jonathan nampak tersenyum, dia pun segera mengarahkan miliknya menuju liang kelembutan milik istrinya.


Tak lama kemudian, ruangan yang terasa dingin dan sejuk karena udara pantai, menjadi panas karena pergumulan yang terjadi anatara dua insan yang sedang dimabuk cinta.


Di lain tempat.


Angga masih diam terpaku setelah menutup Cafe, dia masih duduk anteng di bangku yang ada di pinggir jalan.


Entah apa yang dia rasakan dan dia pikirkan saat ini, yang dia tahu, serasa ada yang hilang diharinya. Namun, dia tidak tahu apa.


Setelah cukup lama terdiam, Angga memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya tersebut dengan perlahan.


Matanya fokus ke jalanan, tangannya sibuk menyetir, namun hati dan pikirannya entah berada di mana.


Cukup lama Angga melajukan mobilnya, hingga tanpa sadar kini dia berhenti tepat di seberang rumah om Hendry.


Dia duduk sambil menatap ke arah rumah om Hendry, cahaya lampu masih menyinari di setiap sudut ruangan rumah tersebut.


Itu tandanya, orang yang tinggal di sana masih terjaga. Angga terdiam dengan mata yang fokus menatap rumah megah tersebut tangannya terlihat dia ketuk-ketukkan pada setir mobil.


Tak lama kemudian, Angga melihat ada mobil mewah yang berhenti tepat di depan rumah om Hendry.


Muncullah sosok dua insan rupawan berbeda jenis kelamin dari mobil tersebut, Frans dan Mini terlihat tertawa sambil bercengkrama saat keluar dari mobil mewah tersebut.


Tanpa sadar, tangan Angga mencengkeram erat setir kemudi. Entah apa yang dia rasa, namun dia tidak suka saat melihat hal tersebut.


Dia sengaja menurunkan kaca mobilnya, agar bisa mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan oleh kedua insan tersebut.


"Terima kasih untuk hari ini, karena kamu sudah menemaniku," ucap Frans dengan tulus.


"Sama-sama, Kak. Aku juga senang bisa menemani Kakak," jawab Mini dengan senyum manisnya.


"Kamu itu memang yang terbaik," ucap Frans seraya mengacak lembut puncak kepala Mini.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Frans, Mini nampak mencebikkan bibirnya. Kemudian, dia berkata.

__ADS_1


"Kakak itu kebiasaan, nanti rambutku rusak," ucap Mini.


Frans nampak tergelak, kemudian dia pun berkata.


"Tidak akan rusak, karena aku melakukannya dengan lembut," kata Frans.


"Ya, ya, ya. Terserah, Kakak," ucap Mini pada akhirnya.


"Ya sudah, kalau begitu Kakak pulang dulu. Sekali lagi terima kasih," ucap Frans tulus.


"Ya," timpal Mini.


Setelah berpamitan, Frans nampak masuk kedalam mobilnya. Lalu, dia pun melajukan mobilnya, sedangkan Mini terlihat melambaikan tangannya ke arah mobil Frans.


Angga hanya diam terpaku melihat pemandangan seperti itu, bahkan sampai Mini masuk ke dalam rumahnya, Angga masih terdiam.


"Ya ampun, untuk apa aku di sini? Jangan bilang aku ke sini hanya untuk memperhatikan dia," ucap Angga seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah itu Angga nampak menutup kaca mobilnya dan segera berlalu dari sana, dia sudah lelah dan ingin beristirahat.


*/*


Tiga hari sudah Angga bekerja di Cafe tanpa adanya Mini, hanya ada bi Narti yang selalu membantunya. Namun wanita paruh baya itu akan pulang selepas shalat ashar, karena Angga tak membiarkan ibunya untuk pulang larut.


Larasati juga sama, dia tak datang lagi ke Cafe, karena dia sedang berbulan madu bersama dengan Jonathan.


Tentu saja Larasati setuju, karena dia memang sangat ingin jalan-jalan dan menikmati harinya di negeri ginseng tersebut.


Pergi bersama sambil melakukan banyak kegiatan dengan orang terkasih adalah impiannya sejak dulu.


Lalu, bagaimana dengan Satria?


Tentu saja Larasati mengajak putra tersayangnya itu beserta babysitternya, bahkan nyonya Meera dan juga tuan Elias ikut serta.


Kedua pasangan paruh baya itu juga tidak mau kalah saing dengan pasangan muda ternyata, mereka terlihat begitu romantis.


Angga datang dengan langkah gontai, entah kenapa tiga hari ini dia merasa tidak bersemangat untuk bekerja.


Dia membuka pintu Cafe seperti biasanya, dan segera membuka pintunya agar dia dan para karyawan lainnya bisa masuk.


Namun, baru saja dia hendak masuk, tiba-tiba sebuah suara membuat dia menghentikan langkahnya.


Dia berbalik dan dia bisa melihat wanita yang selama 3 tiga hari ini tidak datang ke Cafe. Wanita itu terlihat sedang berjalan beriringan dengan Frans menuju ke arah dirinya berada, mereka terlihat mengobrol sambil bercanda.

__ADS_1


"Aku sudah mengantarkan kamu sampai pintu Cafe, kalau begitu aku pamit," ucap Frans.


"Oke, terima kasih dan hati-hati," kata Mini.


"Pasti," kata Frans.


Setelah berpamitan, Frans nampak pergi dari Cafe. Mini nampak tersenyum lalu menyapa Angga yang sedari tadi hanya diam seraya memperhatikan dirinya.


"Hai Mas Angga, selamat pagi dan selamat berjumpa kembali. Maaf kalau selama tiga hari ini aku libur kerja, ada tugas negera yang harus aku kerjakan." Mini tertawa seraya memukul tangan Angga.


Angga tak menanggapi ucapan Mini, dia hanya menatap wajah Mini yang terliha lebih manis saat tertawa.


"Mas! Kenapa diam saja?" tanya Mini.


"Eh? Tidak apa, kamu masuklah!" kata Angga.


"Siap, Pak Bos. Tapi selepas ashar aku mau nagih gaji aku," kata Mini.


"Ya ampun, kerja saja belum. Tapi kamu sudah minta gaji aja," keluh Angga seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.


Mini segera menyusul dan langsung mencekal pergelangan tangan Angga, Angga menghentikkan langkahnya lalu menatap tangannya yang dicekal oleh Mini.


"Ada apa?" tanya Angga.


"Walaupun selama tiga hari ini aku nnga masuk kerja, tapi minggu kemarin aku sudah full bekerja selama satu minggu. Aku sudah meminta izin kepada kak Rara untuk mengajak kamu jalan-jalan nanti sore, sebagai upah kerja aku," kata Mini.


"Mana ada yang seperti itu!" protes Angga.


"Ada, pokoknya aku ngga mau digaji pakai uang. Aku maunya jalan-jalan sama Kamu, Mas." Mini menatap netra Angga lekat.


Angga terlihat memalingkan wajahnya, dia seolah tak ingin bersitatap dengan lama dengan Mini.


"Gajian itu setelah kerja satu bulan, bukan satu minggu," kilah Angga.


"Ngga apa-apa dong, kan aku sudah bilang sama Kak Rara. Aku maunya digaji mingguan," kata Mini.


Angga terlihat berdecak, dia melepaskan tangan Mini dengan lembut


"Kamu pergi saja sama lelaki tadi, aku takut jadi pengganggu di antara hubungan kalian," kata Angga.


"Hah?" kaget Mini dengan apa yang diucapkan oleh Angga.


*

__ADS_1


*


Bersambung....


__ADS_2