Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Ada Yang Sobek Tapi Bukan Kain


__ADS_3

Sebenarnya Yudha juga ingin menikah lagi, karena dokter pernah berkata jika dirinya masih berkesempatan untuk bisa memiliki pasangan halal lagi.


Tentu syaratnya jangan bergonta-ganti pasangan, jika Yudha ingin melakukan hal intim dengan pasangan halalnnya, Yudha bisa menggunakan pengaman berupa konndom.


Sayangnya Yudha berfikir jika terus memakai ******, itu artinya dia tidak akan bisa memberikan keturunan kepada pasangan halalnya.


Apalagi Imelda adalah wanita muda yang sangat cantik, sudah pasti dia menginginkan keturunan dari rahimnya sendiri.


Mungkin untuk saat ini Imelda bisa berkata jika kehidupan itu tidak melulu soal ranjang, namun pada kenyataannya setiap wanita pasti menginginkan seorang keturunan.


Seorang wanita pasti ingin dirinya dipanggil dengan sebutan Ibu oleh anak yang dia lahirkan sendiri dari rahimnya.


"Maaf, aku hanya lelaki bejat yang sedang berusaha untuk bertaubat. Aku hanya lelaki biasa yang berusaha untuk menahan rasa," ucap Yudha sebelum meninggalkan Imelda.


Imelda hanya diam mematung mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha, sedangkan Yudha terlihat marebahkan dirinya di samping Putri


saat doa tiba di dalam kamarnya.


Untuk saat ini dia hanya bisa berharap jika kedua buah hatinya akan lebih bisa dekat lagi dengan Yudha, dia juga berharap agar semua anak Panti bisa bertukar kasih sayang dengan dirinya.


💞💞💞


Di lain tempat.


Bu Airin terlihat terbangun dari tidurnya, dia merasa jika perutnya terasa sangat keroncongan karena saat makan malam dia merasa tidak berselera dan hanya memakan sedikit makanannya.


Dia terlihat membangunkan Ridwan yang sedang terlelap di sampingnya, dia memanggil nama suaminya seraya menggoyang-goyangkan tangan suaminya tersebut.


Ya, selepas makan malam. Bu Airin dan juga Ridwan langsung shalat isya, setelah itu mereka langsung terlelap dalam tidurnya.


Mereka terlihat begitu lelah, karena hari ini begitu banyak pekerjaan di kantor. Bahkan mereka juga melakukan meeting di luar kantor.


"Yang, bangun! Laper," keluh Bu Airin.


Ridwan yang terlihat begitu kelelahan, bergeming. Bu Airin terlihat sangat kesal, dia langsung naik ke atas tubuh Ridwan dan langsung duduk di perut suaminya tersebut.


"Yang, bangun!" Bu Airin terlihat menggoyang-goyangkan pinggulnya di atas perut Ridwan. Ridwan nampak menggeliat karena merasa terganggu.


Setelah matanya terbuka dengan sempurna, dia sangat kaget karena melihat istrinya yang berada di atas tubuhnya.


Tubuhnya terasa memanas, karena istrinya terlihat memakai lingerie seksi berwarna hitam. Bu Airin memang terbiasa memakai lingerie seksi saat dia hendak tidur.


Hal itu acapkali membuat Ridan tidak kuasa menahan hasratnya, namun tetap saja dia belum tega untuk memerawani istri matangnya itu.


Dia merasa takut akan menyakiti istrinya, karena banyak orang yang berkata jika melakukan itu untuk pertama kalinya akan terasa sangat sakit.


Tentu saja Ridwan begitu takut akan menyakiti istrinya tersebut, karen menurutnya... walaupun miliknya asli buatan lokal, namun jangan ragukan ukuran serta panjangnya.

__ADS_1


"Turun, Yang. Kamu ngapain?" tanya Ridwan.


"Laper, mau makan sate kambing sama sop kambing," pinta Bu Airin.


Mendengar permintaan istrinya, Ridwan terlihat menyipiitkan matanya. Dia melihat jam dinding, ternyata waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Turunlah! Aku cuci muka dulu," kata Ridwan.


Bu Airin menurut, dia nampak turun dari perut suaminya. Dia tersenyum dengan sangat manis, dia merasa bahagia karena walaupun Ridwan terlihat sangat mengantuk. Namun, dia tetap berusaha untuk memenuhi keinginannya.


Setelah menunggu selama lima menit, Ridwan nampak keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri istrinya, lalu berkata.


"Ganti dulu pakaiannya, jangan memakai baju seperti ini!" kata Ridwan.


"Ya, aku akan mengganti bajunya. Kamu tunggu di mobil, aku akan segera menyusul," kata Bu Airin.


Ridwan mengangguk setuju, dia mengambil jaket, dompet dan kunci mobil. Setelah itu, dia langsung keluar dari dalam kamar.


Sesuai dengan yang diperintahkan oleh istrinya, Ridwan terlihat menunggu di dalam mobil. Tak lama kemudian, bu Airin nampak datang dengan memakai kaos santai ala rumahan.


"Ayo," ajak Bu Airin.


Ridwan menurut, dia terlihat melajukan mobil milik istrinya secara perlahan. Sesekali kepalanya terlihat melongok ke kanan dan ke kiri, dia berharap ada tukang sate yang sedang mangkal di pinggir jalan.


Tak lama kemudian, dia melihat ada abang sate keliling. Ridwan langsung menepikan mobilnya dan memesan dua porsi sate kambing juga satu porsi sop kambing.


"Terima kasih ya, Sayang. Karena karena kamu sudah mau menuruti keinginanku," kata Bu Airin tulus.


"Sama-sama, Sayang. Kamu adalah istriku, aku wajib menuruti keinginanmu. Tentunya selama keinginan itu dalam batas wajar," kata Ridwan.


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, Ridwan dan bu Airin terlihat memutuskan untuk melanjutkan kembali istirahatnya yang sempat terganggu.


Mereka berdua sudah terlihat merebahkan tubuhnya di atas ranjang King size di dalam kamar mewah tersebut, sayangnya baik bu Airin ataupun Ridwan terlihat kesusahan untuk memejamkan matanya.


Semakin mereka mencoba untuk tidur, semakin tak bisa mata memejam.


"Yang, aku ngga bisa tidur." Bu Airin terlihat memeluk Ridwan dari belakang, tangannya begitu aktif mengelus dada bidang Ridwan.


Tak lama kemudian, tangan itu nampak turun ke perut dan mengusap perut Ridwan dengan gerakkan memutar di area pusar suaminya.


Ridwan terlihat menggigit bibir bawahnya, karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa meremang. Apalagi bu Airin kini terlihat merapatkan tubuhnya, dia menyandarkan kepalanya di ceruk leher Ridwa.


Hal itu membuat Ridwan semakin gelisah, ada sesuatu dari dalam dirinya yang mendesak untuk minta dituntaskan.


Apalagi saat merasakan hembusan napas yang begitu hangat menyapu lehernya, hal ini membuat Ridwan semakin sesak untuk bernapas.


Ditambah lagi dada istrinya yang terasa begitu menempel di punggungnya, membuat dia lebih gelisah lagi.

__ADS_1


"Yang," panggil Ridwan.


"Apa?" tanya Bu Airin.


Ridwan tidak menjawab, dia terlihat membalikan tubuhnya. Lalu, dia merangkak naik dan mengunci pergerakan istrinya.


Dia tatap bola mata istrinya dengan lekat, tak lama kemudian dia menautkan bibirnya. Rasa manis langsung terasa di setiap cecapan bibir dan juga lidahnya.


"Aku mau, sekarang ya?" pinta Ridwan.


Bu Airin nampak mengangguk setuju, karena terus terang saja dia begitu penasaran dengan rasanya bercinta itu seperti apa.


Ridwan yang sudah mendapatkan lampu hijau langsung melucuti pakaian miliknya dan hanya menyisakan celana boxer saja.


Setelah itu dia langsung membuka kain penghalang di tubuh istrinya, dia sempat tertegun kala melihat keindahan tubuh dari istrinya itu.


Namun, tak lama kemudian dia terlihat mengecupi dada istrinya dan memainkan puncak dada istrinya. Bibirnya terus turun sampai dia menemukan lembah sempit milik istrinya.


Ridwan tersenyum, dia lebarkan kedua kaki istrinya lalu dia menunduk dan bermain dengan area terkecil di tubuh istrinya tersebut.


Bu Airin terlihat menggeliatkan tubuhnya, ada sensasi rasa yang begitu nikmat luar biasa yang baru saja dia rasakan.


Dia tidak menyangka jika baru dengan sapuan lidah milik suaminya saja rasanya sudah sangat nikmat, apalagi dengan rudal berbisa milik suaminya, entah senikmat apa pikirnya.


"Basah,Yang. Sekarang, ya?" tanya Ridwan.


"He'em," jawab Bu Airin seraya memejamkanmatanya.


Satelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, Ridwan langsung membuka sisa kain yang menutupi area intinya.


Tak lama kemudian, dia nampak mengarahkan rudal berbisa miliknya menuju liang kelembutan milik istrinya.


Dengan tidak sabarnya Ridwan langsung menghentakkan rudal berbisa miliknya, Bu Airin nampak memelototkan matanya karena begitu kaget dengan apa yang dilakukan Ridwan terhadap dirinya.


Ada yang menerobos masuk ke dalam miliknya, terasa besar dan sangat menyesakkan. Perih dan terasa ada yang sobek, tapi bukan kain.


"Aduh, Yang. Sakit banget, sobek ini!" teriak Bu Airin.


Tangan kanan bu Airin nampak mencengkram kuat lengan Ridwan, sedangkan tangan kirinya nampak menjambak rambut suaminya.


BERSAMBUNG....


Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Satu bab untuk menemani waktu malam kalian, semoga suka.


"Haish, si Othor ini kebiasaan suka nanggung." (readers)


"Hooh, suka megelin pengen numpuk pake duit segepok." (readers)

__ADS_1


"Maafkeun, ya. Othor mau bobo cantik dulu, sampai jumpa lagi, yes. Mmmmmmmuuuach!" (Othor kelewat Soleha)


__ADS_2