Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 13


__ADS_3

Satria dan juga Kinara terlihat begitu asik bermain dengan anak-anak Panti, Yudha terlihat ikut bergabung dengan Mira yang terus mengekori langkah Yudha.


Satria dan Kinara terlihat saling pandang, kemudian mereka tersenyum saat melihat Mira yang sesekali berusaha untuk menggapai tangan Yudha, namun Yudha segera menghindar.


Padahal Yudha terus saja berusaha untuk menjauh, tapi Mira seolah tidak putus asa untuk mengejar cinta duda beranak dua itu.


"Ish! Mas, kasih aku kesempatan dong!" kata Mira.


Yudha yang terlihat sedang sibuk bermain dengan anak-anak Panti terlihat menghentikan aktivitasnya, kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada Mira.


"Kesempatan? Kesempatan untuk apa?" tanya Yudha.


Mira terlihat tertunduk, kemudian dia memilin ujung baju yang sedang dia pakai. Dia seolah malu untuk berkata, karena di sana ada banyak anak-anak Panti.


"Kasih aku kesempatan buat jadi istri kamu, Mas," kata Mira pelan sekali, namun Yudha masih bisa mendengarnya.


Yudha terlihat menggelengkan kepalanya, lalu dia pergi menuju kamarnya. Dia mengambil alat-alat lukisnya dan membawanya ke area terbuka.


Anak-anak Panti langsung mengerumuninya, bahkan banyak yang ikut membantu mengambil alat-alat lukis milik Yudha.


Mereka selalu saja terlihat bersemangat jika untuk urusan melukis, karena dengan seperti itu mereka bisa mengekspresikan isi hati dan juga pikiran yang mereka alami.


Satria bahkan ikut menghampiri ayah kandungnya tersebut dan mencoba untuk melukis, sayangnya dia tidak bisa melukis sebagus Yudha.


Beberapa kali Satria mencoba melukis, namun hasilnya tetap saja sama. Dia Sampai bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa dia tidak memiliki keahlian yang sama dengan bapak kandungnya tersebut.


"Pa, kenapa aku tidak bisa menuruni keahlianmu dalam melukis?" tanya Satria.


Yudha menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menatap putra kandungnya tersebut dengan lekat. Senyum di bibirnya mengembang, Satria pasti akan jadi pengusaha sukses seperti ibunya, pikir Yudha.


"Karena setiap manusia itu diciptakan berbeda dengan keahlian yang berbeda pula," kata Yudha.


"Begitu, ya?" tanya Yudha.


"Ya, Sayag. Satu hal yang mau Papa katakan, jadilah orang baik. Jangan menuruni sifat jelek Papa, jangan sampai menyesal seperti Papa," kata Yudha.


"Ya, Pa," jawab Satria.


Satria malah terlihat asyik mengobrol dengan Yudha, Mira terlihat kesal karena merasa dicuekkan. Dia merasa ingin pergi saja, namun masih merasa rindu terhadap Yudha.


Mira terlihat menghampiri Yudha dan juga Satria, kemudian dia menepuk pundak Yudha. Yudha bahkan sampai terloncat kaget karena perlakuan dari Mira tersebut


"Hai, ada apa? Kenapa mengagetkan aku?" tanya Yudha.


"Masa gitu aja kaget sih, Mas duda? Lagian kamu tuh merhatiin mulu Ade gumuzh, Neng janda ngga diperhatiin. Malah dicuekin," kata Mira seraya cemberut.


Yudha hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Mira, sedangkan Satria langsung tertawa.


"Jangan tertawa, Sayang! Itu tidak lucu," kata Yudha.

__ADS_1


"Maaf, Pa. Habisnya Tante jandanya selain cantik juga bikin gumuzh!" kata Satria.


Mira terlihat tersenyum malu-malu saat Satria mengatakan hal itu, berbeda dengan Yudha. Dia hanya memutarkan bola matanya, bisa-bisanya pikirnya Satria berkata seperti itu.


Karena hal itu hanya membuat Mira besar kepala saja, pati dia akan merasa Lebih percaya diri lagi dalam mendekati dirinya.


"Boy!" sentak Yudha.


"Sorry, Pa. Oiya, sepertinya aku dan Kinara pulang saja. Kayaknya Papak butuh waktu untuk memahami sikap dari Tante Mira, biar lebih dekat gitu," kata Satria seraya terkekeh.


"Satria Brylee Huntler !" sentak Yudha.


Jika Yudha sudah memanggil nama lengkap Satria, itu artinya Yudha benar-benar tidak suka jika Satria melanjutkan bercandaannya.


"Sorry, Pa. Tapi aku dan Kinara sebenarnya memang harus segera pulang, karena buna sudah mengirimkan pesan," kata Satria seraya menunjukkan isi pesan dari Larasati.


"Cepatlah pulang, ada Jeremy menunggu. Jangan dulu berkata apa pun pada Kinar, dia pasti tidak akan mau menemui Jeremy."


"Baiklah, ajaklah adikmu untuk pulang," kata Yudha.


"Ya, Pa," jawab Satria.


Akhirnya Satria mengajak Kinara untuk pulang, walaupun pada awalnya Kinara tidak mau karena dia masih ingin bermain dengan anak-anak Panti.


Namun, setelah Satria berkata jika Larasati sudah meminta mereka untuk pulang, mau tidak mau Kinara akhirnya menurut.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Jonathan, Kinara terlihat menekuk wajahnya. Dia masih merasa belum ikhlas jika harus pergi dari Panti.


Tiba di kediaman Jonathan, Satria langsung memarkirkan motornya. Kinara langsung melompat untuk turun dari motor Satria, wajahnya masih terlihat kesal.


"Kinar, jangan ngambek dong. Tunggu Abang," kata Satria seraya melepaskan helemnya dan turun dari atas motor kesayangannya.


Kinara terlihat tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Satria, dia terus saja melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Satria terlihat menyusul langkah Kinara seraya menggelengkan kepalanya, karena lagi-lagi Kinara masuk dengan helm yang masih menempel di kepalanya.


Padahal kali ini Kinara tidak sedang bersedih atau habis menangis, namun Satria merasa jika Kinara seperti melupakan helm yang masih dia pakai.


Saat Kinara masuk ke dalam ruang tamu, ternyata di sana sudah ada Jeremy dan juga Larasati yang menunggu.


Jeremy langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Kinara, untuk sesaat dia terdiam memperhatikan Kinara yang masih memakai helmnya.


Antara kaget dan juga kesal, itulah yang Kinara rasakan. Apalagi saat ini Jeremy terlihat menatap dirinya dengan tatapan heran.


"Ngapain elo liatin gue kaya gitu?" tanya Kinara.


"Bukan begitu, hanya saja wajah cantik kamu tidak kelihatan kalau memakai helm seperti itu," kata Jeremy.


Antara malu dan juga kesal, itulah yang Kinara rasakan. Namun, Kinara berusaha untuk mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Suka-suka gue, mau pake helm apa ngga," kata Kinara.


Kinara terlihat hendak melangkahkan kakinya menuju kamarnya, namun langkahnya langsung terhenti karena Jeremy langsung mencekal pergelangan tangannya.


Kinara terlihat menatap pergelangan tangannya yang dicekal oleh Jeremy, kemudian dia berkata.


"Lepaskan tangan gue!" kata Kinara.


"Ngga bakalan, gua ngga bakalan ngelepasin tangan elu. Lagi pula gue masih mau bicara sama elu," kata Jeremy.


Larasati dan Satria terlihat saling pandang, kemudian mereka langsung pergi dari ruang tamu tersebut. Mereka merasa jika Kinara harus menyelesaikan masalahnya dengan Jeremy berdua saja.


Kinara terlihat tidak suka, bahkan dia langsung menyentakkan tangannya dengan cukup kuat hingga cekalan tangan Jeremy langsung terlepas.


"Gue ngga sudi ngomong sama elu," kata Kinara.


"Dengerin gue dulu, gue tau banget kok, kalau elu cinta banget sama gue. Gue udah putusin cewek gue dan sekarang gue mau kita jadian," kata Jeremy.


Kinara langsung tertawa dengan terbahak-bahak, dia merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Jeremy.


Maksudnya apa? Kenapa dia bisa dengan mudahnya berubah? Berbulan-bulan lamanya dia mengejar cinta Jeremy, dia tidak peduli walaupun dikata apa pun oleh orang lain.


Baginya yang terpenting dia bisa berdekatan dengan Jeremy, dia tidak peduli dimarahi oleh Larasati karena hobinya yang selalu balapan Liar.


Semuanya demi Jeremy, sayangnya pengorbanannya terasa sia-sia kala Jeremy berkali-kali menolak cintanya.


Lalu, apa maksudnya ketika Jeremy mengatakan jika dia ingin berpacaran dengan dirinya? Atau mungkin Jeremy sedang sakit dan salah berucap.


"Maaf ya, Kak. Aku tuh masih sangat kecil, masih bau kencur. Saat ini lebih baik aku cuci tangan, minum susu terus bobo cantik." Kinara mengulang kata-kata yang pernah diungkapkan oleh Jeremy.


Jeremy hanya melongo tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, sedangkan Kinara langsung berlari untuk masuk ke dalam kamarnyam


Kinara sempat berpapasan dengan Larasati, kemudian Larasati pun bertanya.


"Kamu mau ke mana, Kinar, Sayang? Memangnya Jeremy sudah pulang?" tanya Larasati.


"Mau shalat ashar, Bun. Sudah jam empat lewat, Buna suruh Kak Jeremy pulang aja. Aku ngga mau ketemu lagi sama dia," seru kinara.


Jeremy yang masih berada di ruang tamu, tentu saja masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara.


Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kinara, padahal Kinara selalu saja berusaha untuk mengejar-ngejar dirinya.


"Ck! Sok jual mahal," desis Jeremy.


****


Masih berlanjut....


Selamat malam, selamat beristirahat. Yuk ramein dengan komen dan juga likenya.

__ADS_1


__ADS_2