
Ternyata bukan hanya Satria yang sedang merasa pusing, Putri pun mengalami hal yang sama seperti Satria.
Dia merasa pusing dengan sikap dari atasannya, Reon. Setelah acara meeting di Cafe selesai, Reon mengantarkan Putri ke kampusnya.
Namun, sikap Reon berubah tiga ratus enam puluh derajat. Dia begitu perhatian dan terlihat banyak tersenyum kepada Putri.
Bahkan, Reon terus saja mengajak Putri berbicara seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencinta.
Rasanya Putri benar-benar dibuat pusing dan juga bingung di saat yang bersamaan, saat tiba di kampus bahkan Reon terlihat turun dengan cepat lalu membukakan pintu mobil untuk Putri.
Kemudian, dia juga mengantarkan Putri sampai di depan kelasnya. Putri sampai malu karena banyak teman-temannya yang bertanya tentang siapa Reon.
Di saat Putri menjawab jika Reon hanyalah atasannya saja, tidak ada orang yang percaya. Karena merasa kesal, Putri hanya mendiamkan mereka saja.
Karena semakin Putri menjawab, mereka akan semakin menggoda Putri. Sepanjang pelajaran yang dia lalui, Putri terus saja cemberut.
Bahkan dia tidak bisa fokus pada pelajaran yang sedang dia hadapi, karena ingatannya terus saja tertuju kepada Reon.
"Ck! Menyebalkan," keluh Putri.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Putri terlihat selesai dengan mata kuliahnya.
Dia segera bersiap menuju pos satpam yang berada di latar kampus, karena biasanya di sana sudah ada Juki yang sedang menunggu dirinya.
Saat tiba di depan kampus, dia tidak menemukan Juki. Di sana hanya ada Reon yang sedang duduk dan mengobrol bersama security.
Reon terlihat memakai baju santai, berbeda dengan saat bertemu di kantor dalam setiap harinya bersama dengan Putri.
Dia terlihat lebih segar dan juga tampan, Putri lalu menghampiri Reon dengan raut wajah kebingungan.
"Bapak sedang apa di sini?" tanya Putri.
__ADS_1
Reon yang sedang asyik bercengkrama dengan security, langsung menghentikan ucapannya. Lalu, dia menolehkan wajahnya ke arah Putri.
"Sedang menunggu kamu," jawab Reon.
"Idih! Buat apa Bapak menunggu saya, saya bisa pulang sendiri. Lagi pula Baba selalu menjemput, lebih baik Bapak pulang saja," kata Putri.
"Sudah, kamu jangan banyak bicara! Sekarang kamu pulang saja sama saya, Baba kamu tidak akan datang. Dia sedang ada acara," kata Reon seraya menuntun Putri untuk segera masuk ke dalam mobil miliknya.
Putri sempat memberontak, karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Reon.
Namun, Reon terus saja menuntun Putri agar segera masuk ke dalam mobilnya. Akhirnya Putri menurut, dia duduk di samping kemudi dengan raut wajah cemberut.
Reon tersenyum, walaupun seperti itu dia senang karena akhirnya Putri mau diantarkan pulang oleh dirinya.
Walaupun memang terlihat begitu terpaksa, baginya tidak masalah. Selama Putri mau pergi bersama dengan dirinya.
Reon terlihat memasang sabuk pengamannya, lalu dia mulai melajukan mobilnya dengan sangat perlahan.
Hal itu membuat Putri merasa sangat kesal, mau kapan sampainya coba jika Reon mengendarai mobilnya sepelan itu?
"Jangan macem-macem, kamu. Bahaya! Kamu diem aja, nanti juga sampe," kata Reon.
"Mau kapan sampainya kalau Bapak bawa mobilnya lelet banget kek gini?" tanya Putri seraya memonyongkan bibirnya.
Reon sempat melirik ke arah Putri, menurutnya Putri terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan dari sebelumnya.
Reon tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangannya kirinya untuk mengelus pundak Putri dengan sangat lembut.
"Jangan marah, aku hanya ingin lebih lama lagi barengan sama kamu," kata Reon.
Putri terlihat menepis tangan Reon dari pundaknya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Reon dengan tatapan sengit.
__ADS_1
"Kita itu di kantor sudah seharian bertemu, Pak. Ngapain Bapak repot-repot ingin lebih lama lagi bersama dengan saya?" tanya Putri.
Mendengar Putri yang terus saja berkata sewot terhadap dirinya, Reon merasa sangat gemas. Dia langsung menepikan mobilnya.
Putri terlihat cemas saat Reon melakukan hal itu, dia takut jika Reon akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadap dirinya.
"Kenapa berhenti? Bapak jangan macam-macam sama saya," kata Putri seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Reon langsung tertawa dengan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Putri, padahal dia tidak akan berbuat nakal.
Namun, Putri seolah takut jika dirinya akan melakukan hal yang tidak baik.
"Dengarkan aku, Putri. Aku me-nyu-kai kamu, sejak pertama kita bertemu. Sejak kamu terjatuh di saat awal masuk ke fakultas pilihan kamu, aku tertarik kepada kamu." Reon berkata jujur.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Reon, Putri jadi bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah mungkin dia bekerja di perusahaan milik Reon juga adalah karena campur tangan dari dirinya?
Apakah mungkin Reon melakukan hal itu karena ingin berdekatan dengan dirinya? Apakah mungkin itu adalah cara Reon agar bisa menyampaikan perasaannya?
Putri hanya diam membeku, dia tidak mampu berkata apa pun lagi.
"Putri! Jangan bengong," kata Reon seraya mengelus lembut pundak Putri.
"Bapak jangan macam-macam!" kata Putri.
"Tidak akan, aku sangat menyukai kamu. Aku tidak akan membuat kamu merasa tidak nyaman saat bersama dengan aku," kata Reon.
"Kalau begitu, cepat antar aku pulang. Aku merasa tidak nyaman," kata Putri.
"Baiklah, tapi aku mohon sama kamu. Jangan pernah menjauhi aku jika kamu tidak menyukai aku," kata Reon tulus.
Putri tidak mampu menjawab apa yang dikatakan oleh Reon, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan raut bingung.
__ADS_1
***
Selamat sore, selamat beristirahat. Ramaikan kolom komentar, guyz. Biar. Othor makin semangat.