
Pagi-pagi sekali Satria sudah bersiap untuk pergi bekerja, sebelum pergi bekerja dia meminta izin kepada bundanya untuk membawa mobil sendiri.
Dia beralasan tidak ingin merepotkan orang lain, dia juga beralasan ingin mandiri. Larasati mengizinkan, karena menurutnya Satria sudah dewasa.
"Terima kasih, Buna. Abang berangkat dulu," kata Satria seraya mengecup kening Larasati.
Kemudian dia menghampiri Jonathan dan meraih tangan kanannya lalu mencium punggung tangan Jonatan dengan takzim.
"Ya, hati-hati," jawab Larasati.
Dengan penuh semangat, Satria meninggalkan kediaman Jonathan. Namun, bukannya berangkat ke kantor, dia malah membelokkan mobilnya menuju kediaman bu Airin.
Tiba di kediaman bu Airin, Satria langsung tersenyum senang. Karena ternyata ada Rachel yang sudah bersiap untuk berangkat menuju kampus.
Satria langsung menepikan mobilnya, lalu dia langsung turun dan menghampiri Rachel yang terlihat sangat cantik dengan menggunakan dress bunga.
"Hai, Rachel," sapa Satria.
Rachel sangat kaget karena tiba-tiba saja Satria kini sudah berada di hadapannya, dia terlihat tersenyum canggung seraya memundurkan langkahnya.
"Hey! Kenapa malah kaya orang takut kaya gitu?" tanya Satria.
Satria terlihat kebingungan saat melihat tingkah Rachel, biasanya dia akan sangat senang jika Satria datang.
Lalu, kenapa sekarang Rachel malah terlihat begitu Canggung? Bahkan Rachel terlihat terkesan ingin menghindari dirinya.
"Ngga apa-apa, Bang. Abang mau apa ke sini?" tanya Rachel gugup.
__ADS_1
Satria terkekeh saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Rachel, Satria terlihat melangkahkan kakinya lalu dia menggapai tangan wanita yang dia suka itu.
"Tangan kamu dingin banget," kata Satria.
Rachel merutuki dirinya dalam hati, kenapa bisa Satria bertanya seperti itu. Tentu saja dia merasa sangat gugup saat ini.
Berhadapan dengan Satria dengan senyumnya yang sangat manis membuat peredaran darahnya membeku seketika.
Jadi, wajar saja jika dia merasa sekujur tubuhnya membeku dan dingin seperti es.
"A--aku baru kelar mandi," kata Rachel gugup.
"Pantas saja tangan kamu sangat dingin, aku akan menghangatkannya." Satria terlihat menggosok-gosokan tangannya dengan tangan Rachel.
Merasa tidak tahan dengan sifat Satria, Rachel langsung menarik tangannya dengan cukup kasar. Satria langsung memandang Rachel dengan tatapan penuh tanya.
"Tidak apa-apa, Bang. Sekarang katakan, Abang ke sini mau apa?" tanya Rachel.
"Abang mau mengantar kamu ke kampus," jawab Satria.
"Aku berangkat jam sembilan, Bang. Sekarang Abang berangkat saja dulu, nanti aku akan berangkat sendiri naik taksi," kata Rachel.
"Lah, kok bisa kayak gitu? Padahal aku sudah nanya loh sama Putri, katanya kamu itu masuk kuliah pagi," kata Satria.
Untuk sesaat Rachel terdiam, haruskah dia berbohong kepada Satria atau berkata dengan jujur?
Jika dia berkata jujur, dia merasa dirinya tidak akan waras jika bersama dengan Satria dengan Satria yang terlihat posesif seperti itu.
__ADS_1
Namun, jika dia berbohong, dia merasa tidak tega saat melihat sorot mata Satria yang penuh dengan cinta.
"Ck! Kak Putri pasti lupa kalau hari ini aku ngga kuliah bareng sama Alex sama Ansel juga," kata Rachel beralasan.
Satria terlihat tertunduk lesu, karena dia tidak bisa mengantarkan Rachel ke kampusnya. Satria terlihat melirik jam yang melingkar di tangannya.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi, akhirnya Satria memutuskan untuk segera pergi ke kantornya karena takut terlambat.
"Baiklah, aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung telepon aku," kata Satria.
"Ya, Bang," jawab Rachel.
Setelah berpamitan kepada Rachel, Satria langsung memutuskan untuk berangkat menuju perusahaan Dinata.
Dia merupakan pemimpin baru di perusahaan yang diwariskan oleh kakeknya tersebut, Satria harus datang tepat waktu. Jangan sampai memberikan contoh yang tidak baik terhadap para karyawannya.
Selepas kepergian Satria, Rachel terlihat bisa menghembuskan napas lega seraya mengelus dadanya.
"Syukurlah dia sudah pergi," kata Rachel.
Setelah mengatakan hal itu, Rachel terlihat menghampiri sopir pribadi bu Airin. Kemudian, dia memintanya untuk mengantarkan dirinya menuju kampus.
"Maaf, Bang. Bukannya aku tidak mau bersamamu, aku hanya menjaga kesehatan jantungku saja," kata Rahel lirih.
***
Kuy ramein kolom komentar, bab kedua otewe meluncur.
__ADS_1