
Rachel terlihat kesal sekali karena Satria seolah tidak bisa menahan hasratnya, padahal kamarnya tidak kedap suara. Namun, Satria terlihat menghentak dirinya dengan gerakan cepat.
Hal itu membuat Rachel ingin berteriak, tapi dia tidak berani karena takut suaranya akan terdengar keluar.
"Abang! Jangan pegang itu, aku ngga kuat," kata Rachel ketika Satria menghentak dirinya dari belakang, tapi tangannya mengusap area intinya dengan lembut.
Bukannya menghentikan aksinya, Satria malah semakin mempermainkan dirinya. Alhasil suara teriakan pun keluar dari bibirnya.
"Jangan berisik, Yang!" bisik Satria.
"Ngga bisa, abisan Abangnya nakal terus!" keluh Rachel seraya memejamkan matanya, rasa nikmat benar-benar menguasai dirinya.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, kamu kenapa? Ini sudah kedua kalinya loh kamu teriak?"
Suara ketukan pintu dan suara teguran dari Ridwan membuat Satria menghentikan aktivitasnya, dia dan istrinya terlihat saling pandang.
Mereka bingung harus bagaimana, hingga suara ketukan pintu dan teguran dari Ridwan kembali mengagetkan kedua insan itu.
"Sayang, kok ngga jawab? Kamu ngga diapa-apain sama Satria, kan?" tanya Ridwan.
"Ngga, Yah. Aku baik-baik saja, Ayah ngga usah khawatir," kata Rachel.
Setelah mengatakan hal itu, Rachel terlihat menggigit bibir bawahnya. Karena Satria mulai menghentak miliknya, walaupun terasa lembut tapi tetap saja membuat dia seakan gila.
"Beneran, Sayang?" tanya Ridwan khawatir.
"I--iya, Ayah." Rachel berucap dengan terbata.
"Ya sudah kalau tidak apa-apa, bilang sama suami kamu jangan kasar-kasar kalau ngajakin kamu main. Terus, pintunya dikunci dulu," kata Ridwan.
Setelah mengatakan hal itu Ridwan nampak pergi, sedangkan Rachel dan Satria kembali saling pandang lalu Rachel langsung memukul lengan Satria.
Antara malu dan juga kesal, itulah yang dia rasakan saat ini. Dia tidak menyangka jika Satria tidak bisa menahan hasratnya.
"Abang sih ngga sabaran, aku kan, jadi lupa belum kunci pintu," kata Rachel.
"Ngga apa-apa, Yang. Ayah pasti paham," kata Satria.
Setelah mengatakan hal itu, Satria kembali menghentak istrinya. Rasa nikmat yang sedang dia rasa terasa sulit untuk diabaikan.
"Abang ih, udahan dulu, kek. Aku mau kunci pintu dulu," kata Rachel.
"Iya, iya," jawab Satria.
__ADS_1
Dengan berat hati Satria terlihat melepaskan miliknya, Rachel tersenyum lalu segera turun dari tempat tidur dan segera mengunci pintu kamarnya.
Satria tersenyum, dia begitu suka kala melihat tubuh polos istrinya. Walaupun dadanya terlihat kecil, tapi tak mengurangi kata 'seksi' menurut dirinya. Satria terlihat bangun dan langsung mendekap tubuh mungil istrinya dari belakang.
Rachel yang kaget sampai terlonjak, dia tidak menyangka jika suaminya itu sangat suka sekali menggoda dirinya, pikirnya.
"Astagfirullah, Bang! Jangan kaya gini," kata Rachel.
"Abisan kamu seksi banget, akunya jadi ngga tahan." Satria mendorong istrinya dengan lembut sampai mentok ke tembok.
Lalu, dia mulai kembali menghentak istrinya dari belakang. Hal itu membuat Rachel mencari pegangan, dia merasa akan jatuh karena Satria menghentaknya cukup kencang.
Sekuat tenaga Rachel menahan dirinya agar tidak berteriak lagi, karena dia tidak mau membuat seisi rumah heboh karena teriakannya.
***
Keesokan paginya, Rachel terlihat begitu canggung kala mereka sedang sarapan pagi. Berbeda dengan Satria yang nampak biasa saja, dia terlihat asik menikmati sarapannya.
Selesai sarapan, Raja dan Rama langsung berpamitan untuk berangkat kuliah. Sedangkan Rachel dan Satria terlihat duduk di ruang tengah, Ridwan yang hendak berangkat bekerja terlihat menghampiri Satria.
Dia menepuk pundak Satria, lalu dia memiringkan kepalanya dan bebisik tepat di telinga menantunya tersebut.
"Jangan terburu-buru, kasihan putriku," kata Ridwan.
"Iya, maaf, Yah," kata Satria yang paham. akan. maksud dari mertuanya tersebut.
"Jangan, Yah!" keluh Satria cukup kencang.
Rachel dan bu Airin langsung menolehkan wajahnya ke arah Satria dan juga Ridwan, Ridwan langsung tersenyum. Begitupun dengan Satria, dia tersenyum kikuk.
"Kamu ngomong apa sih, Yang? Kok Satria sampai kaya orang kaget gitu?" tanya Bu Airin.
"Ngga apa-apa, Sayang. Ini urusan lelaki," kata Ridwan.
"Ck! Jangan terlalu mengatur, kamu juga ngga mau diatur," kata Bu Airin.
"Aku hanya memperingati, bukan mengatur," kata Ridwan.
"Iya, aku paham. Sekarang lebih baik kamu berangkat bekerja," kata Bu Airin.
"Anterin," pinta Ridwan manja.
"Iya, Sayang," jawab Bu Airin.
Ridwan terlihat memeluk pinggang istrinya dengan posesif, lalu mereka terlihat keluar sari rumah.
__ADS_1
Rachel dan juga Satria terlihat penasaran, mereka terlihat mengikuti kedua manusia yang selalu terlihat saling mencintai walaupun berbeda usia itu.
Saat Ridwan hendak masuk ke dalam mobilnya, dia terlihat memeluk pinggang bu Airin dengan erat. Hal itu membuat tubuh mereka terlihat menempel dengan sempurna.
Ridwan tersenyum, kemudian dia menunduk dan menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Para pelayan yang kebetulan lewat terlihat memalingkan wajahnya.
Berbeda dengan Rachel dan juga Satria, mereka terlihat memelototkan matanya tidak percaya dengan sikap posesif Ridwan terhadap istrinya tersebut.
"Ayah sangat romantis, ya, Sayang. Aku kagum sama ayah," kata Satria.
"Hem, padahal usia mereka terpaut dua belas tahun. Tapi ayah terlihat begitu mencintai bunda," kata Rachel.
Melihat pemandangan seperti itu, membuat Rachel ingin diperlakukan sama seperti bu Airin. Dia berharap Satria juga akan perhatian terhadap dirinya sampai Tuhan berkata mereka harus terpisah keran Tuhan mencabut nyawa mereka.
Satria seakan paham, dia langsung menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya. Lalu dia elus punggung istrinya dan dia kecup puncak kepalanya.
"Kamu jangan khawatir, aku janji kalau aku akan selalu mencintai dan menyayangi kamu sampai kapan pun. Sikap dan perlakuanku tidak akan berubah, aku janji," kata Satria.
"Hem, aku percaya." Rachel memeluk Satria dengan erat, dia juga menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Hey! Kalian sedang apa?" tanya Bu Airin yang baru saja masuk.
Rachel dan Satria terlihat melerai pelukannya, mereka terlihat salah tingkah. Bu Airin tersenyum, kemudian dia berkata.
"Kalau mau bermesraan di kamar aja gih, jangan di sini!" kata Bu Airin.
"Ngga, Bun. Aku mau ngajak Rachel pulang ke apartemen aku aja," kata Satria.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Rachel nampak memelototkan matanya, karena Satria belum berkata apa-apa kepada dirinya.
"Loh, kok?"
Bu Airin terlihat kaget dengan apa yang dikatakan oleh menantunya tersebut, dia menatap Rachel yang terlihat sama bingungnya dengan dirinya.
"Memangnya ngga pulang ke rumah daddy Jo, aja?" tanya Rachel.
"Hanya sementara, sebelum aku bekerja. Syukur-syukur kalau buna ngizinin, kita bisa terus tinggal di apartemen," kata Satria.
Bu Airin nampak menghela napas berat, dia tahu jika Satria pasti ingin memiliki ruang privasi sendiri setelah menikah.
Akan tetapi, Ridwan pasti akan sulit untuk menerimanya. Namun, dia akan berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Ridwan, suaminya.
"Kalau mau tinggal di apartemen boleh saja, Bunda mengizinkan. Hanya saja, Bunda mohon banget sama kamu, Satria. Jaga putri Bunda, pahami dan berusaha untuk mengerti jika Rachel adalah wanita yang manja dan tidak pernah bekerja. Jangan marah kalau dia tidak bisa, tapi diajari," kata Bu Airin.
"Ya, aku paham," jawab Satria.
__ADS_1
*****
Selamat siang, Bestie. Semoga sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa untuk berbagi. Walaupun hanya dengan senyuman, judulnya sedekah ya, Bestie.