Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Mengantar Mini


__ADS_3

Dalam hatinya Angga tersenyum, karena ternyata walaupun Mini terlihat bar-bar, akan tetapi di dalam tas ransel kecil yang dia bawa terselip sebuah mukena berwarna pink dengan motif bunga-bunga.


Angga pun melakukan shalat berjamaah dengan bi Narti dan juga Mini, setelah selesai shalat Mini dengan cepat menghampiri Angga dan mengulurkan tangannya.


Angga terlihat mengernyit heran, dia bingung dengan apa yang dilakukan oleh Mini.


"Kamu mau apa?" tanya Angga.


Mini tersenyum hangat, dia ingin mencium tangan Angga seperti yang biasa mommy'nya lakukan setelah shalat berjamaah dengan sang daddy.


"Mau salim, kalau abis shalat harus buru-buru salim sama calon imam," ucap Mini seraya tersenyum malu.


Angga langsung menggelengkan kepalanya, karena Mini sangat percaya diri jika dirinya mau menjadi imam bagi Mini.


"Ya ampun," ucap Angga seraya menatap wajah bi Narti.


Bi Narti hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka jika pesona putranya bisa membuat Mini begitu terpikat.


Padahal putranya hanya anak orang biasa yang terlahir di desa, walaupun Angga memang memiliki paras tampan seperti sang Ayah.


Namun, tetap saja Angga memiliki wajah cita rasa lokal. Tidak seperti Mini yang mempunyai wajah blasteran.


"Mas Angga lama!" keluh Mini seraya menarik lembut tangan Angga dan mencium punggung tangannya.


Angga langsung memelototkan matanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Mini, dengan cepat Angga pun menarik tangannya.


"Kamu tuh bisa lebih tahan diri ngga sih? Kamu perempuan, bersikaplah seolah sulit untuk digapai. Aku takut nanti akan ada lelaki yang memanfaatkan kamu," kata Angga.


Mini menegakkan tubuhnya, lalu dia mengelus dadanya dan berkata.


"Aku bersikap seperti ini hanya kepada Mas Angga, Daddy dan Kak Jo," jawab Mini.


"Ya, terserah!" ucap Angga pada akhirnya.


*/*


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Mini tak kunjung pulang. Dia selalu saja mengekori langkah Angga, Mini sudah seperti bayangan saja untuk Angga. Hanya ke kamar mandi saja Mini tak berani mengikuti.


Sebenarnya Angga sudah benar-benar merasa sangat terganggu, namun dia tak bisa mengusir ataupun membentak gadis cantik yang sudah membantu dirinya seharian itu.


"Ini sudah malam, sekarang pulanglah!" kata Angga.


Mini yang sedang duduk langsung bangun dan menghampiri Angga.


"Anterin," pinta Mini manja.


Angga terlihat memutar bola matanya, dia seakan sudah malas melihat tingkah Mini yang sangat manja itu.


"Kamu datang sendiri, masa pulangnya aku anterin," jawab Angga.


Mini terlihat mengerucutkan bibirnya, dia merasa jika Angga terlalu cuek terhadap dirinya.


"Ya ampun, dasar pria tidak peka! Anterin pulang," rengek Mini.

__ADS_1


Mini terlihat hendak memeluk lengan Angga, namun Angga segera menggeser tubuhnya. Kembali Mini mengerucutkan bibirnya.


"Ogah," kata Angga seraya berlalu meninggalkan Mini.


"Tunggu aku calon imamku," pinta Mini.


Mini langsung mengikuti langkah Angga menuju parkiran, bi Narti yang sudah selesai mengunci pintu Cafe pun langsung mengekori langkah kedua insan berbeda jenis kelamin itu.


Angga langsung masuk dan duduk di balik kemudi, bi Narti juga ikut masuk dan duduk di bangku penumpang.


Mini terdiam, dia berharap Angga akan mengajaknya untuk masuk. Sayangnya, Angga terlihat cuek, dia menyalakan mesin mobilnya dan mejalankan mobilnya dengan perlahan.


Wajah Mini terlihat kecewa, matanya mulai memerah dan tak lama kemudian air matanya nampak keluar dari pelupuknya.


Angga yang melihat kesedihan Mini dari balik kaca spion merasa tak tega, dia menghentikan laju mobilnya, lalu memundurkannya hingga tepat di samping Mini.


"Masuklah!" kata Angga setelah membuka pintu mobilnya.


Mini tersenyum disela isak tangisnya, lalu dia masuk kedalam mobil Angga dan duduk anteng di sampingnya.


"Terima kasih," kata Mini.


Mini memasang sabuk pengamannya, lalu duduk dengan tatapan mata lurus menatap Angga.


"Hem, sekarang mau kemana?" tanya Angga.


"Mau ke KUA," jawab Mini cepat.


"Ck! Kamu mau pulang kemana? Alamat rumah kamu di mana?" tanya Angga.


Mendengar pertanyaan dari Angga, Mini terlihat tertawa konyol.


"Hehehe, kirain aku--"


"Alamat rumah kamu," kata Angga memotong ucapan Mini.


"Jalan pasukan merdeka nomer 1," jawab Mini.


Tanpa banyak bicara, Angga langsung melajukan mobilnya menuju alamat rumah yang disebutkan oleh Mini.


Hanya butuh waktu lima belas menit saja, mobil yang Angga kendarai tiba di depan rumah mewah yang ada di sebuah perumahan elite.


"Sudah sampai," kata Angga.


Mini tersenyum, kemudian dia melepaskan sabuk pengamannya. Lalu, dia pun berkata.


"Terima kasih," ucap Mini seraya tersenyum manis.


Angga tidak menjawab ucapan Mini, dia hanya menganggukkan kepalanya.


Mini kemudian memalingkan wajahnya ke arah bi Narti, kemudian dia pun berpamitan kepada wanita paruh baya itu.


"Bu, calon mantu pulang dulu. Besok kita ketemu lagi," pamit Mini.

__ADS_1


"Ya," jawab Bi Narti.


Setelah berpamitan kepada Angga dan juga bi Narti, Mini pun terlihat turun dari mobil milik Angga.


Saat dia turun, ternyata om Hendry terlihat sudah menunggu Mini sambil bersedekap. Mini terlihat tersenyum kikuk.


"Sudah pulang?" tanya Om Hendry.


"Sudah, Dad," jawab Mini.


Angga yang melihat interaksi antara om Hendry dan juga Mini, terlihat menurunkan kaca mobilnya.


Rasanya dia merasa tidak sopan jika tidak berpamitan kepada ayah dari wanita yang seharian ini mengganggunya, sekaligus membantunya itu.


"Om, saya pamit pulang. Saya juga mengucapkan terima kasih, karena putri anda sudah membantu saya, seharian ini" ucap Angga seraya tersenyum hangat.


Untuk sejenak om Hendry terlihat menatap wajah Angga yang masih membiru karena ulahnya, kemudian dia pun tersenyum.


"Iya, sama-sama. Maaf kalau putri saya sudah merepotkan," ucap Om Hendry.


"Iya, Om. Kalau begitu saya permisi," ucap Angga masih dengan senyum hangatnya.


Om Hendry terlihat menganggukkan kepalanya, sedangkan Mini terlihat terkesima dengan senyum yang mengembang di bibir Angga. Senyum yang tak pernah Angga berikan kepada Mini.


'Ya Tuhan, dia manis sekali. Kalau saja sikapnya tak selalu kaku dan selalu semanis ini, aku yakin, aku akan langsung meminta daddy untuk menikahkan aku sekarang juga dengan dirinya,' kata Mini dalam hatinya.


Setelah berpamitan, Angga terlihat menaikan kaca mobilnya. Kemudian, dia pun segera melajukan mobilnya menuju rumah yang sudah diberikan Larasati kepada Angga dan juga bi Narti.


Awalnya Angga dan juga bi Narti merasa keberatan, karena ternyata rumah yang dia tempati sertifikatnya diatasnamakan bi Narti.


Namun Larasati berkata jika itu adalah bentuk rasa terima kasih Larasati terhadap kedua orang malaikat penolongnya.


Walaupun dengan berat hati, bi Narti tetap bersyukur. Karena dia bisa melihat Larasati yang terlihat begitu tulus saat memberikan rumah itu kepada dirinya.


"Sayang," panggil Bi Narti.


"Ya, Bu," jawab Angga.


"Jangan terlalu judes terhadap Mini, Kasihan dia," kata Bi Narti.


Angga tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya seraya fokus dalam menyetir.


Bersambung....


*


*


*


Maaf ya, up' nya kemalaman. Othor habis namatin cerita di pf sebelah, jadi curhat.


Selamat malam semuanya, semoga kalian bahagia selalu. Semoga 1 bab ini bisa menjadi teman bersantai kalian.

__ADS_1


__ADS_2