Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Perginya Jesicca


__ADS_3

Jesicca sedang merapikan baju miliknya dan juga milik Putri, dia memutuskan tidak akan membawa banyak barang.


Karena dengan membawa Putri saja sudah cukup baginya, tidak usah membawa barang yang banyak, pikirnya.


Setelah merapikan barangnya, Jesicca nampak mengambil uang simpanannya selama berdagang di kampung bi Minah.


Jesicca tersenyum, karena ternyata uang yang terkumpul lumayan banyak. Uang tersebut dia ambil dari kotak penyimpanan uang dan dia masukkan ke dalam tas ranselnya.


"Sudah rapi," ucap Jesicca.


Jesicca terlihat mengedarkan pandangannya, rasa sedih tiba-tiba saja menyeruak dalam hatinya. Air mata pun nampak keluar tanpa permisi dari pelupuknya.


Sebentar lagi dia akan pergi dari kampung tersebut, kalau boleh memilih rasanya dia ingin tetap tinggal di sana. Namun, dia takut jika bi Minah dan keluarganya akan terkena imbasnya.


Dia memutuskan untuk pergi selepas subuh, hak itu sengaja dia lakukan agar bi Minah tidak mengetahui kepergiannya.


"Sebaiknya aku menulis surat untuk bi Minah," kata Jesicca.


Jesicca terlihat mencari bolpoin dan juga kertas, setelah itu dia pun menorehkan tulisan di atas kertas tersebut yang dikhususkan untuk bi Minah, Amilia dan juga Amira.


Selama dia menulis surat tersebut, air matanya tak berhenti mengalir. Sesekali dia menyeka air matanya yang terus saja turun dengan tidak tahu dirinya.


"Maafkan aku, Bi." Jesicca melipat kertasnya dan memasukkannya ke dalam amplop.


Surat itu sengaja dia simpan di atas meja rias, agar bi Minah bisa melihat dengan mudah surat tersebut.


*/*


Waktu berlalu dengan cepat, selepas melaksanakan shalat subuh Jesica terlihat mengendap-endap keluar dari rumah yang dia tempati selama beberapa bulan ini.


Dia sengaja memesan taksi online dan menunggu taksi tersebut di jalan besar untuk pergi ke terminal bis.


Hal itu dia lakukan agar orang-orang yang berada di sana tidak menyadari kepergian Jesicca bersama dengan putrinya.


Tiba di terminal bis, Jesicca langsung pergi menuju ibu kota dengan pemberangkatan pertama. Yaitu pukul 5 pagi.


Selama perjalanan menuju ibu kota, Jesicca tak hentinya menitikan air mata. Dia benar-benar sedih harus meninggalkan orang yang benar-benar tulus membantu dirinya dikala dia susah.

__ADS_1


"Terima kasih, Bi. Karena Bibi sudah baik banget sama aku, Bibi sudah seperti ibu kandung buat aku." Jesicca menyeka air matanya.


Putri terlihat menggeliat, anak itu seperti kehausan. Dengan sigap Jesicca segera menyusui putrinya tersebut.


Selama menyusui putrinya, Jesicca terlihat menatap wajah Putri dengan lekat. Sesekali dia mengusap pipi Putri yang terlihat semakin gembil. Karena Amelia mengurusnya dengan sangat baik.


*/*


Pukul 07:47.


Bis yang Jessica kendarai terlihat berhenti di terminal bis, Jesicca langsung turun dan berhenti sejenak di sebuah warung makan. Dia harus sarapan sebelum dia kembali melanjutkan perjalanannya.


"Sebaiknya aku mencari kostan dulu, kasihan Putri," ucap Jesicca lirih.


Setelah selesai sarapan Jesicca langsung memesan ojek online dan pergi ke tempat dulu dia ngekost sebelum menikah dengan Yudha.


Setengah jam kemudian, dia sudah sampai di kostan. Jesicca langsung menemui pemilik kostan tersebut, beruntung ternyata di sana masih ada 1 kamar yang kosong.


Jessica sangat senang sekali, dia langsung masuk ke dalam kamar kostan tersebut karena merasa kasihan terhadap Putri yang terus saja dia gendong.


"Akhirnya, aku bisa menyusui Putri sambil rebahan," kata Jesicca.


*/*


Saat Larasati hendak pergi ke Cafe, tuan Elias meminta Larasati untuk menunggunya di ruang tamu bersama dengan Jonathan.


Ya, semenjak menikah dengan Jonathan, tuan Elias begitu manja. Dia tidak ingin Larasati pindah ke rumah Jonathan, Tuan Elias sudah lama berpisah dengan Larasati.


Dia merasa tidak ikhlas jika harus mengizinkan putri semata wayangnya untuk tinggal bersama Jonathan. Beruntung Jonathan sangat pengertian, dia yang mengalah untuk tinggal di rumah mertuanya tersebut.


"Ada apa, Dad?" tanya Larasati.


Larasati dan juga Jonathan terlihat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh tuan Elias, karena wajan tuan Elias dan juga nyonya Meera terlihat begitu serius.


"Daddy mohon, bekerjalan di kantor. Kamu tidak perlu seharian berkutat di kantor, hanya sesekali saja jika ada hal yang tidak bisa diwakilkan. Daddy sudah lelah, Daddy ingin menikmati masa tua bersama dengan anak cucu Daddy." Tun Elias terlihat mengiba.


"Tapi, Dad--"

__ADS_1


Larasati begitu berat jika harus menerima tawaran dari tuan Elias, karena dirinya pun mempunyai usaha yang harus dijalankan.


"Kamu hanya harus pergi ke kantor jika ada hal yang benar-benar tidak bisa diwakilkan, Sayang. Karena di sana ada Edward yang mengurus semuanya," kata Tuan Elias.


"Lalu, bagaimana dengan Cafe dan Resto?" tanya Larasati.


"Untuk Resto kamu bisa serahkan kepada Rendy, kamu tinggal menunggu keuntungan tiap bulan saja yang akan mengalir ke rekening kamu. Begitupun dengan Cafe, kamu bisa memercayakannya kepada Angga. Setiap bulannya kamu hanya tinggal menunggu uang yang Angga alirkan ke rekening kamu," kata Tuan Elias.


Untuk sesaat Larasati nampak terdiam, tak lama kemudian dia terlihat menatap nyonya Meera dan juga Jonathan, suaminya secara bergantian.


Jonathan terlihat tersenyum lalu mengusap lembut lengan Larasati, dia seolah berkata 'apa pun keputusanmu aku akan mendukungnya'.


Cukup lama Larasati terdiam, lalu kemudian dia pun menganggukkan kepalanya. Awalnya dia begitu enggan untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan.


Namun, setelah dia berfikir cukup lama. Mungkin inilah saatnya untuk dia berbakti kepada orang tuanya, pikirnya.


Lagi pula dia lulusan manajemen bisnis dari universitas ternama luar negeri, mungkin inilah saatnya dia benar-benar mengamalkan ilmunya.


Tuan Elias nampak senang sekali, bahkan dia langsung menghampiri Larasati dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih, Sayang. Kamu memang terbaik," kata Tuan Elias.


"Yes, Dad. Kalau begitu aku berangkat ke Cafe," pamit Larasati.


"Ya, Sayang. Besok kamu harus ikut Daddy ke kantor, Daddy ingin memperkenalkan kamu sebagai pemimpin perusahaan yang baru," kata Tuan Elias.


"Yes, Dad," jawab Larasati.


Setelah acara obrolan pagi selesai, Larasati terlihat berpamitan kepada kedua orang tuanya. Begitupun dengan Jonathan, karena dia pun harus kembali bekerja di Rumah Sakit.


Tentunya sebelum dia pergi ke Rumah Sakit, dia pun mengantarkan istrinya untuk pergi ke Cafe terlebih dahulu.


"Kamu memang terbaik, Sayang. Aku salut sama kamu," ucap Jonathan kala mengantarkan istrinya menuju Cafe.


"Aku kasihan sama daddy, Mas. Dia sudah berumur," ucap Larasati.


"Ya, tapi kamu harus ingat, jangan terlalu cape. Aku ngga mau kalau jatah aku sampai berkurang karena tidak tega melihat kamu yang kecapean," kata Jonathan seraya terkekeh.

__ADS_1


"Mas!" ucap Larasati dengan wajah yang sudah merona malu.


"Bercanda, Sayang." Jonathan menarik lembut tangan Larasati dan mengecupnya dengan lembut.


__ADS_2