
Satria terlihat menuntun Kinara untuk masuk ke dalam kamar adik perempuannya tersebut, setelah sampai di dalam kamar Kinara, Satria ikut masuk dan langsung menutup pintu kamar adiknya tersebut.
Kinara nampak kebingungan, dia bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Satria ikut masuk ke dalam kamarnya?
Bukankah sebentar lagi mereka harus segera melaksanakan sjalat magrib? Lalu, kenapa Satria malah ikut-ikutan masuk?
Bahkan kini Satria terlihat menuntun Kinara untuk segera duduk di atas sofa yang ada di dekat jendela kamarnya.
"Ada apa sih?" tanya Kinara.
"Kamu tuh, De. Kenapa nakal banget sih? Kenapa kamu terus saja mengikuti balap liar? Memang kamu tidak sayang sama diri kamu sendiri?" tanya Satria.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Kinara terlihat menunduk lesu. Bahkan, dia terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.
Dia merasa bingung harus menjawab pertanyaan dari Satria seperti apa, karena pada dasarnya dia begitu menyukai hobinya dalam mengendarai sepeda motor.
Rasanya dia tidak bisa hidup tenang kalau belum memacu adrenalinnya dengan berkendara di atas sepeda motor.
Melihat raut kebingungan dan juga kesedihan di mata adiknya, Satria merasa tidak tega. Dia langsung merangkul pundak adiknya dan membawa adiknya tersebut ke dalam pelukannya.
"Abang sayang sama Kinar, kalau Abang tidak sayang, Abang tidak akan mengatakan apa pun. Abang tidak akan berusaha untuk peduli terhadap Kinar, Abang khawatir." Satria membelai lembut lengan adiknya tersebut.
Kinara terlihat membalas pelukan dari abangnya tersebut, dia bahkan terlihat meneteskan air matanya.
Kinara sayang terhadap dirinya, Kinara sayang terhadap semua keluarganya. Namun, entah kenapa dia tidak bisa berhenti dalam olahraga yang begitu menantang bahaya tersebut.
"Maafkan Kinar, Bang," hanya itu kata yang keluar dari mulut Kinara.
"Kamu itu harusnya minta maaf sama daddy dan juga Buna, bukan minta maaf sama Abang," kata Satria.
"Iya nanti," jawab Kinara.
"Ya sudah, sekarang mandi. Terus langsung ke Mushola, Abang tunggu." Satria terlihat melerai pelukannya, kemudian dia meninggalkan adiknya di dalam kamarnya tersebut.
****
Pukul sembilan malam Jonathan terlihat baru pulang, hari ini pasien sangat banyak. Dia sampai harus pulang sampai selarut ini.
"Cape ya, Sayang?" kata Larasati seraya membantu Jonathan untuk membuka kemejanya.
"Cape banget, tapi kalau udah lihat kamu capenya jadi ilang." Jonathan menunduk dan mengecup bibir istrinya.
Tangan Jonathan bahkan terlihat merambat turun dan langsung meremat bokong istrinya, Jonathan selalu saja dibuat takjub oleh tubuh Larasati yang sangat indah.
__ADS_1
Larasati memang selalu rajin berolahraga, dia memang sengaja menjaga bobot tubuhnya agar masa lalunya yang kelam tidak terulang lagi.
Jonathan memang sering berkata jika dirinya tidak mempermasalahkan berat tubuh istrinya, atau bahkan bentuk tubuh istrinya.
Karena Jonathan akan selalu mencintai Larasati. Namun, tetap saja Larasati merasa harus mempercantik diri.
Baik dengan mempertahankan bentuk tubuhnya, ataupun merawat kecantikan wajahnya.
"Mas!" Larasati terlihat mendorong dada bidang suaminya.
"Kenapa? Ngga mau, ya?" tanya Jonathan.
"Mau, aku mau banget. Tapi kamu baru pulang, kamu mandi dulu. Terus makan, aku mau ke dapur buat angetin lauknya." Larasati langsung mengecup bibir Jonathan, lalu dia segera pergi menuju dapur.
Larasati sangat paham jika Jonathan sangat menginginkan dirinya, dia bisa melihat dari tatapan mata Jonathan yang penuh dengan gairah.
Namun, Jonathan terlihat sangat lelah. Menurutnya akan lebih baik jika suaminya itu makan dan beristirahat sejenak.
*/*
Lima belas menit kemudian Jonathan terlihat sudah selesai dengan ritual mandinya, dia bahkan terlihat sudah menggunakan piyama tidurnya.
Jonathan melangkahkan kakinya menuju ruang makan, Larasati langsung tersenyum kala melihat Jonathan dan langsung mengendokkan nasi untuk suaminya tersebut.
"Nakal!" kata Jonathan seraya mengusap paha istrinya.
"Makan dulu," kata Larasati.
"Iya, iya. Kamu tuh cerewet banget, tapi aku tetep cinta." Jonathan terlihat membaca do'a, lalu dia mulai melaksanakan makan malamnya.
Larasati yang memang sudah makan bersama dengan Kinara dan juga Satria, hanya menunggui suaminya tersebut.
"Aku sudah selesai," kata Jonathan.
"Hem," jawab Larasati.
Tanpa banyak bicara, Larasati langsung merapikan bekas makan suaminya tersebut. Dia juga terlihat mencuci piring dan gelas bekas Jonathan.
Setelah itu, Larasati mengajak Jonathan untuk duduk sejenak di ruang keluarga. Karena dia merasa, dia harus membicarakan masalah Kinara.
"Ada apa, hem? Aku sudah sangat menginginkan kamu, kenapa malah mengajak aku untuk duduk di sini?" tanya Jonathan.
Mendengar pertanyaan dari Jonathan, Larasati nampak terkekeh. Dia merasa sangat lucu dengan apa yang Jonathan katakan tersebut.
__ADS_1
"Biar Mas istirahat dulu, biar makanan yang baru saja Mas makan dicerna dengan baik. Biar ngga sakit perut juga," kata Larasati.
Jonathan langsung tertawa renyah dengan apa yang dikatakan oleh Larasati, dia jadi bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya yang dokter itu siapa, istrinya atau dirinya?
Kenapa malah Larasati yang selalu mengatur tentang kesehatan dirinya? Padahal pada dasarnya dia sendiri juga sangat tahu, bahaya apa yang mengintai pada tubuhnya jika dirinya tidak berbuat apik.
"Iya, Sayang. Mas paham, tapi... selain itu pasti ada hal lain yang ingin kamu bicarakan." Jonathan mencuil dagu Larasati.
Larasati tidak kaget dengan apa yang dia dengar, karena pada kenyataannya Jonathan memang selalu bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
Jonathan bahkan selalu dengan mudahnya menebak perasaan apa yang ada di dalam hatinya.
"Ini tentang Kinara, Sayang. Aku sudah sangat takut dengan hobi yang selalu Kinara jalankan, aku takut jika keselamatan Kinara akan terancam jika dia terus melakukan balap liar," ucap Kinara.
Jonathan terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya dengan apa yang dia dengar, dia paham kegundahan dari hati istrinya tersebut.
Karena pada kenyataannya, Kinara memang susah untuk dilarang. Jonathan bukan tidak tahu kenakalan putrinya, karena Satria memang selalu bercerita.
Bahkan, Satria sudah meminta kepada dirinya untuk memasukkan Kinara dalam pelatihan balap motor yang legal.
Dia tidak mau membiarkan adiknya tersebut terus-menerus melakukan balap liar, itu sangat berbahaya.
"Mas tahu, Sayang. Mas sudah membicarakan hal ini dengan Abang, Mas sudah putuskan. Mas akan mengizinkan Kinara untuk menekuni hobinya ya--"
"Mas! Aku tidak setuju, aku tidak mau mendengar apalagi sampai menyaksikan anakku melakukan balap liar!" protes Larasati.
Jonathan terlihat menggelengkan kepalanya, dua merasa lucu dengan tingkah Larasati. Belum juga dia mengemukakan pendapatnya, namun Larasati sudah terlebih dahulu memotong ucapannya.
"Dengarkan dulu, Mas bicara. Jangan diselak," kata Jonathan.
"Iya, maaf. Mas mau ngomong apa?" tanya Larasati.
"Mas sudah memutuskan untuk mengizinkan Kinar dalam menekuni hobinya, tapi di naungi oleh tim profesional yang legal," kata Jonathan.
Untuk sesaat Larasati terdiam, dia memikirkan apakah hal tersebut baik untuk Kinara atau tidak.
Namun, jika di pikir lebih dalam lagi. Kinara memang lebih baik menekuni hobinya saja daripada larasati melarangnya.
Karena semakin Larasati melarangnya, Kinara akan terus saja melakukan hobinya tersebut di belakangnya.
Hobi yang sangat membahayakan nyawa dari putrinya tersebut, namun akan lebih aman jika putrinya belajar melakukan hobinya tersebut di bawah naungan yang legal.
****
__ADS_1
Selamat malam kesayangan, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.