
Ridwan terlihat keluar dari ruang kerjanya dengan hati riang, selain mendapatkan pekerjaan bagus, gaji besar, dia juga merasa sangat senang karena mempunyai bos cantik dan mempunyai tubuh yang sangat seksi seperti bu Airin.
Apalagi saat mengingat jika tadi pagi dia sudah mencicipi manisnya bibir bu Airin, beh... bahan tidak bisa tidur dia nanti malam.
Ridwan melangkahkan kakinya dengan penuh semangat walau waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, di mana semua pekerja sudah mulai lelah dan bersiap untuk pulang ke tempat peraduannya.
Sesekali dia terlihat memamerkan senyum menawannya kepada para karyawan satu kantornya.
Tiba di parkiran, dia langsung memakai jaketnya, mengambil helmnya dan memakainya. Lalu, dia menaiki motor sport kesayangannya.
Baru saja dia hendak menstarter motornya, dia melihat bu Airin yang sedang menatap ban mobilnya dengan tatapan penuh kekesalan.
Ridwan tersenyum, lalu dia turun dari motornya dan menghampiri bu Airin.
"Kempes, Bu?" tanya Ridwan
"Iya, nih. Mana saya lagi buru-buru lagi," keluh Bu Airin.
"Saya anter, Bu. Mari," ajak Ridwan.
Bu Airin nampak berpikir saat mendapatkan tawaran dari Ridwan, tak lama kemudian dia nampak menganggukkan kepalanya.
Ridwan tersenyum, lalu dia mengajak bu Airin menuju motor sport kesayangannya. Saat menyadari Ridwan mengajaknya untuk menaiki motor, bu Airin nampak memundurkan langkahnya.
"Kamu tidak salah mengajak saya menaiki motor?" tanya Bu Airin.
"Tidak salah dong, bukannya kata ibu sedang terburu-buru. Biar lebih cepat kita naik motor," kata Ridwan.
"Tapi, bagaimana kalau nanti saya masuk angin? Saya tidak pernah menaiki motor," kata Bu Airin.
"Tidak masalah, tidak akan masuk angin juga," kata Ridwan.
Ridwan terlihat melepas jaket miliknya, lalu dia memakaikannya kepada nu Airin. Bu Airin hanya diam mendapatkan perlakuan manis dari Ridwan.
Tak lama kemudian, Ridwan terlihat mengambil helm dan memakaikannya di kepala bu Airin.
"Ayo naik!" ajak Ridwan setelah dia mulai menstarter motornya.
Walaupun terlihat keraguan di wajah bu Airin, namun dia tetap menaiki motor milik Ridwan tersebut.
Beruntung dia memakai celana panjang, jadi dia masih aman jika menaiki sepeda motor milik Ridwan.
"Pegangan!" kata Ridwan.
Bu Airin yang tidak paham hanya diam saja.
"Pegangan, Bu. Nanti Ibu jatuh," kata Ridwan lagi.
"Pegangan ke mana?" tanya bu Airin yang tidak paham.
__ADS_1
Ridwan tersenyum, kemudian dia menarik lembut kedua tangan bu Airin dan melingkarkannya di perutnya.
Bu Airin sempat menarik tangannya kembali, namun saat Ridwan melajukan motornya dengan kencang, Bu Airin malah memeluk Ridwan dengan sangat erat.
*/*
Di lain tempat.
Hari ini Juki merasa tidak bersemangat saat bekerja, dia benar-benar merindukan Jesicca dan juga Putri.
Baru satu hari satu malam tidak bertemu saja sudah membuat dia merasa gundah, akhirnya Juki memutuskan untuk pulang ke rumahnya daripada pulang ke rumah dari adik ibunya tersebut.
Tiba di depan rumahnya, Juki langsung memarkirkan mobilnya. Lalu, dia langsung berlari dan masuk ke dalam rumahnya.
Saat sampai di ruang keluarga, dia melihat bu Sari yang sedang duduk di atas sofa. Juki langsung menghampirinya dan langsung duduk tepat di samping bu Sari.
"Ibu kok tidak memakai kursi roda? Ibu sudah sembuh?" tanya Juki.
"Ya, kaki Ibu sudah mulai enak buat dipakai berjalan," jawab Bu Sari.
"Syukurlah," kata Juki.
"Lalu, di mana Jesicca dan juga Putri?" tanya Juki.
"Jesicca sedang memandikan Putri di kamar kostannya, lalu... kamu kenapa pulang?" tanya Bu Sari.
"Tentu saja aku rindu kepada kalian," jawab Juki.
"Tidak begitu juga, Bu," jawab Juki malu-malu.
"Jangan berbohong kamu, kamu itu anak Ibu. Ibu tahu kamu itu seperti apa," kata bu Sari.
Juki terlihat memeluk Ibunya, lalu dia terlihat menyandarkan kepalanya di pundak Ibunya tersebut.
Bu Sari nampak tersenyum melihat kelakuan dari putra semata wayangnya itu. Kemudian, dia berkata.
"Lebih baik sekarang kamu mandi, lalu bersiap," kata bu Sari.
"Maksud Ibu bersiap untuk apa?" tanya Juki.
"Bersiap untuk menikah Julian, bajunya sudah Ibu siapkan di atas tempat tidur," kata Bu Sari.
"Menikah? Aku akan menikah?" tanya Juki.
"Ya, seharian ini Ibu sudah mempersiapkan semua surat yang kamu butuhkan di bantu Engkong Jali. Kamu bisa menikah dengan Jesicca selepas maghrib," kata Bu Sari.
"Tapi, Bu. Apa Jesicca mau?" tanya Juki.
"Mau, dia mau nikah sama kamu. Kamu tuh sangat beruntung, karena ada penghulu yang mau nikahin kamu selepas maghrib. Kamu bersiap sana!" kata Bu Sari.
__ADS_1
"Tapi, Bu. Bagaimana dengan minggu depan?" tanya Juki.
"Minggu depan untuk acara resepsinya, sekarang kamu nikah aja dulu. Ibu tahu kamu sudah kebelet," jawab Bu Sari.
Juki terlihat memamerkan deretan gigi putihnya saat mendengar ucapan Bu Sari, kemudian dia mempererat pelukannya.
"Ibu memang selalu pengertian," kata Juki.
Stelah mengatakan hal itu, Juki nampak mengecup pipi dan kening bu Sari. Dia benar-benar terlihat begitu bahagia, dia juga benar-benar sudah tidak sabar ingin menjadikan Jesicca sebagai miliknya seutuhnya.
"Sudah sana, masih ada waktu dua jam. Mandi yang wangi, biar Jesicca ngga kebauan bersanding sama kamu," kata Bu Sari.
"Iya, Bu." Juki langsung masuk ke dalam kamarnya.
Selepas kepergian Juki, bu Sari langsung meminta para tetangganya untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan dari Juki.
Ruang keluarga bu Sari sulap menjadi tempat untuk acara akad pernikahan Juki dan juga Jesicca, bu Sari juga segera memesan makanan cepat saji di Restoran ternama yang ada di dekat rumahnya.
Karena dia tak mau repot untuk memasak, lagipula waktunya sangat singkat. Semunya harus dia lakukan dengan cepat.
Pukul 19.00 malam Engkong Jali sudah datang bersama dengan penghulu dan juga pak Ustadz, tak lama kemudian Ridwan bersama kedua orang tuanya pun hadir.
Tak berselang lama, Yudha nampak hadir di sana. Dia datang sambil menggendong Putri, buah hatinya dengan Jesicca.
Putri sengaja dia bawa, karena Jesicca terlihat sedang bersolek saat Yudha menemui Jesicca untuk mengucapkan selmat.
Tentu saja dia datang, karena permintaan dari bu Sari sendiri. Dia tidak akan berani jadir, jika tanpa undangan dari sang pemilik acara.
Bu Sari memang sengaja mengundang Yudha, karena menurutnya Yudha memang bagian masa lalu dari Jesicca. Tapi, Yudha adalah ayah biologis dari Putri.
"Acaranya sudah siap ini, tolong panggilkan calon mempelai prianya," pinta Pak Penghulu.
"Biar Ridwan yang panggilkan," kata Ridwan cepat.
"Ya, kamu buruan gih, panggilin Abang kamu. Biar Emak yang akan ke kamar Jesicca," kata Bu Sopia seraya menyerahkan secarik kertas kepada Ridwan.
"Ini apa, Mak?" tanya Ridwan.
"Itu kalimat kabul yang harus diucapkan sama Abang kamu, sengaja Emak tulisin buat dia. Takutnya grogi trus lupa," kata Bu Sopia.
"Ya ampun, Bang Juki yang mau nikahan Emak yang berpikiran," keluh Ridwan seraya menggelengkan kepalanya.
BERSAMBUNG....
Selamat siang kesayangan, untuk acara sah'nya dilanjutkan nanti malam. Biar adegan anu-anunya enak dibacanya setelah buka puasa, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
Suara hati pembaca.
Aih, eta si Othor nanaonan pake aya adegan anu-anu. Awas wae mung ngan sakedik!
__ADS_1
( Aih, apa-apaan si Othor mau ada adegan anu-anunya. Awas aja kalau cuma sedikit!)