
Satria merasa sangat senang sekali karena ternyata bu Airin dengan mudahnya mengizinkan dirinya untuk memulai rumah tangganya dengan Rachel secara mandiri.
Jujur saja bukan hanya masalah ingin bermesraan agar lebih bebas karena tinggal berdua saja. Namun, Satria juga ingin mandiri.
Dia ingin berumah tangga tanpa campur tangan dari orang lain, dia ingin belajar menata rumah tangganya sendiri. Walaupun dia sangat paham jika Rachel memang begitu manja dan juga kekanak-kanakan.
Namun, terlepas dari apa pun sikap Rachel, Satria tetap menyukai istrinya tersebut. Satria menyukai apa pun yang ada di dalam diri istrinya tersebut, Satria mencintai sikap, sifat dan perilaku dari istrinya tersebut.
Mau bagaimana dan seperti apa pun istrinya, Satria menerima istrinya dengan sepenuh hati. Toh Rachel juga sedari dulu selalu memahami dirinya.
Walaupun dia jarang bicara, walaupun dia jarang merespon apa yang Rachel katakan terhadap dirinya, tetap saja Rachel terlihat begitu pengertian.
Bahkan sampai saat ini Rachel begitu setia terhadap cinta pertamanya, yaitu dirinya. Rachel seakan tidak pernah lelah menunggu dirinya untuk membalas perasaannya, Rachel selalu menjaga hatinya untuk dirinya.
Satria bahkan sempat mendengar seorang temannya yang menasehati dirinya, teman masa kuliahnya.
'Jika wanita yang kamu cintai tidak bisa masak, masih banyak Resto cepat saji. Jika wanita yang kamu cintai tidak bisa nyapu, kamu bisa menyewa jasa asisten rumah tangga. Namun, jika istrimu tidak bisa goyang di atas ranjang, kamu tidak perlu menyewa jasa, karena dia akan belajar dengan sendirinya.'
"Kami pergi dulu, nanti kalau Bunda kangen, telpon saja. Kami akan datang untuk menginap," kata Satria.
"Iya, Bunda akan lakukan itu," kata Bu Airin.
Setelah berpamitan kepada bu Airin, akhirnya Satria langsung pergi ke rumah Jonathan. Selain dia ingin meminta izin kepada Larasati dan juga Jonathan untuk memulai rumah tangganya dengan Rachel, dia juga ingin bertemu dengan Kinara, adik keduanya.
Hal itu dia lakukan karena hari ini Kinara dan ketiga saudara sepupunya beserta Mini dan juga Angga akan kembali ke negara A, karena dia harus menyelesaikan pendidikannya.
"Mau berangkat kapan?" tanya Satria.
Setelah tiba di kediamannya, dia langsung menghampiri Kinara yang sudah bersiap untuk berangkat.
Berbeda dengan Rachel, dia langsung menghampiri Larasati. Sang mertua yang kini sedang berada di dapur.
Kinara yang sedang duduk seraya bermain dengan ponselnya langsung menolehkan wajahnya ke arah Satria, kemudian dia menjawab.
"Dua jam lagi aku akan berangkat, sekarang aku lagi nunggu si kembar ABC," kata Kinara seraya nyengir kuda.
Mendengar jawaban dari adiknya, Satria terlihat mengerutkan keningnya. Dia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh adiknya tersebut, siapa ABC pikirnya.
Awalnya dia terlihat biasa saja. Namun, karena Satria merasa sangat penasaran akhirnya dia pun bertanya kepada adiknya tersebut.
"Siapa kembar ABC?" tanya Satria dengan raut wajah penasaran.
Kinara terkekeh melihat raut kebingungan di wajah abangnya, dia lalu berkata.
__ADS_1
"Abian, Bryan sama Cakra," jawab Kinara.
"Oh ya ampun," kata Satria seraya menepuk jidatnya.
Satria tidak menyangka jika adik kesayangannya begitu pandai memberikan singkatan nama ketiga sepupunya itu.
"De," panggil Satria.
"Ya, Bang," jawab Kinara.
Kinara langsung mematikan ponselnya, lalu dia duduk tepat di samping Satria dan memeluk lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya itu.
"Ada apa? Kenapa jadi melow begini?" tanya Satria.
"Selamat ya, Bang. Abang sudah menikah, sudah punya istri. Jangan dianiaya istrinya," kata Kinara seraya terkekeh.
"Dasar adik kurang asem!" kata Satria seraya memeluk adiknya dengan erat dan menggoyang-goyangkan badan adiknya itu.
"Abang, ih! Sakit badan aku," keluh Kinara.
"Maaf adikku, Sayang," kata Satria seraya melepaskan pelukannya.
"Hem, aku mau menimba ilmu lagi. Abang do'ain aku biar pulang bawa gelar," kata Kinara.
"Abang ih!" keluh Kinara.
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba seorang pelayan datang dan menghampiri Kinara dan juga Satria.
"Ehm, maaf, Non. Ada yang ingin bertemu," kata pelayan tersebut.
"Siapa?" tanya Kinara.
"Kurang tahu, Non. Ornganya nungguin di teras depan," kata pelayan tersebut.
Satria dan Kinara terlihat saling pandang, kemudiam Satria terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Kinara tersenyum, lalu dia berkata.
"Aku ke depan sebentat," kata Kinara.
"Oke," jawab Satria.
Setelah berpamitan kepada Satria, Kinara langsung melangkahkan kakinya menuju tera depan. Dia ingin tahu siapa orang yang ingin bertemu dengan dirinya.
Tiba di teras depan, Kinara sangat kaget karena ternyata yang ingin menemui dirinya adalah Jeremy. Lelaki yang selalu ingin dia hindari.
__ADS_1
Namun, dengan cepat dia menetralkan perasaannya. Dia segera mengatur rasa kagetnya dengan berdehem berkali-kali.
"Ra, maaf kalau aku ganggu. Aku cuma mau ngomong bentar sama kamu, Ra," kata Jeremy.
"Mau bicara apa?" tanya Kinara tanpa menatap Jeremy.
"Ra!"
Jeremy langsung menghampiri Kinara, lalu dia meraih tangan kinara dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku tahu jika aku sudah banyak salah sama kamu, aku mohon maafkan aku. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki diri, izinkan aku untuk bisa dekat dengan kamu. Maaf jika aku pernah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu," kata Jeremy.
"Maaf, Kak. Tapi aku tidak bisa memberikan kesempatan lagi untuk Kak Jeje, kalau untuk memaafkan mungkin bisa. Mungkin," kata Kinara gamang.
Mata Jeremy terlihat sayu, dia merasa sedih karena tidak diberikan kesempatan oleh Kinara. Kinara berusaha untuk acuh.
"Ra, aku serius ini mau memulai dari awal lagi dengan kamu. Aku mohon," kata Jeremy dengan wajah serius.
"Maaf, aku tidak bisa." Kinara terlihat menepis tangan Jeremy.
Jeremy terlihat menghela napas berat, dia sudah berusaha untuk merayu Kianara tapi tidak berhasil.
Dalam hatinya dia bertanya-tanya, kenapa dia begitu ingin memiliki Kinara? Namun, satu hal yang dia anehkan. Kenapa dia tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk berpacaran dengan banyak wanita?
"Ra!"
"Maaf," kata Kinara.
Setelah mengatakan hal itu, Kinara terlihat meninggalkan Jeremy tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jeremy.
Jeremy terlihat menghembuskan napas berat, lalu dia pergi dari sana. Dia sudah berusaha, tapi tidak berhasil. Lalu, untuk apalagi dia di sana?
Kinara terlihat duduk kembali di ruang keluarga, Satria menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya.
"Jangan bersedih, akan ada saatnya seseorang datang dengan segala kebaikannya. Yang terpenting kamunya juga memperbaiki diri, agar ada lelaki baik yang Tuhan kirimkan untuk kamu," kata Satria.
"Ya, Abang," jawab Kinara.
Kinara kini sudah lebih paham dengan apa yang harus dia lakukan, karena umurnya pun kini sudah bertambah.
***
Selamat sore Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki. Maaf telat up, Othor lagi jadi pager betis dulu. Keponakan Othor lagi ngadain resepsi pernikahan, sayang kaleyan.
__ADS_1